Bangun Shelter di Situs Liyangan

539
CAGAR BUDAYA: Sejumlah bangunan dari Situs Liyangan yang telah diekskavasi (DOK JAWA POS RADAR KEDU).
CAGAR BUDAYA: Sejumlah bangunan dari Situs Liyangan yang telah diekskavasi (DOK JAWA POS RADAR KEDU).

TEMANGGUNG—Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta kembali melanjutkan proses ekskavasi, sekaligus penelitian terhadap Situs Liyangan di Dusun Liyangan Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Didik Nuryanto, menuturkan, penelitian dimulai sejak 26 Agustus dan berakhir pertengahan September 2017. Fokus penelitian mempertajam garis batas area atau zona pertanian kuno; serta akan dilanjutkan ke zona 3 dan 4. Dua zona terakhir, diduga kuat merupakan bekas aliran sungai kuno.

Hal itu dilakukan sebagai persiapan pembangunan shelter yang segera dilakukan oleh Pemkab Temanggung. “Ekskavasi dilakukan bukan untuk mencari temuan-temuan kuno yang diduga masih terpendam di dalam kawasan situs. Namun, lebih memfokuskan perhatian pada penggalian kembali temuan yang sebelumnya ditutup oleh material untuk melindungi struktur agar tidak rusak,” beber Didik, kemarin.

Masih menurut Didik, pihaknya saat ini tengah mempersiapkan segala sesuatu untuk rencana pembangunan shelter. Kata Didik, pada 2017 ini, Pemkab tengah merencanakan pembangunan empat bangunan shelter semi permanen.

Fungsi shelter untuk melindungi temuan penting. Seperti arang, saka kayu, serta atap rumbia yang disinyalir merupakan sisa rumah penduduk pada abad VI sampai VII. Temuan itu terpendam oleh material lahar dingin letusan Gunung Sindoro kala itu.

Tak hanya sebagai pelindung temuan kuno, shelter juga berfungsi edukasi. Karena akan disertai dengan tampilan peta area temuan sementara Situs Liyangan beserta keterangan atau deskripsi dari masing-masing temuan. “Nantinya, dengan keterangan yang akan kami tampilkan di lokasi shelter, pengunjung dapat mengetahui beberapa hal terkait temuan-temuan maupun peta area di Situs Liyangan.”

Di luar hal tersebut, terang Didik, Situs Liyangan tidak dapat disamakan dengan Candi Prambanan atau Borobudur yang memiliki tekstur bangunan cukup besar. Namun, lebih dari itu, Liyangan memiliki beragam keunikan yang tidak dimiliki oleh situs kuno di daerah lain. Yakni, terbagi atas beberapa zona dengan tingkat komplektisitas tinggi. Mulai zona pertanian, permukiman, hingga peribadatan. “Temuan di Situs Liyangan ini cukup lengkap, karena lokasi ini dulunya merupakan permukiman kuno yang terpendam di dalam tanah hingga puluhan meter selama ratusan tahun akibat ledakan gunung Sindoro.” (san/isk)