RTH di Batang Dibuat Paten

369
Bikin Biopori : Bupati Batang Wihaji dan Ketua DPRD Batang Imam Teguh Raharjo saat membuat lubang biopori di kawasan Alun-alun Batang, Minggu (10/9) (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang).
Bikin Biopori : Bupati Batang Wihaji dan Ketua DPRD Batang Imam Teguh Raharjo saat membuat lubang biopori di kawasan Alun-alun Batang, Minggu (10/9) (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang).

BATANG – Bupati Batang Wihaji menegaskan akan menjaga dan mematenkan wilayah – wilayah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di lingkungan Kabupaten Batang. Disamping untuk menjaga lingkungan, juga agar Batang tetap asri, sejuk, rindang dan adem.

“Saya ingin ke depan Batang bisa menjadi kota hijau,” ucap Wihaji, usai membuka Festival Hijau Kotaku yang berlangsung di Alun – alun Batang, Minggu (10/9). Dia mengatakan, RTH diperlukan untuk menjaga lingkungan khususnya di area Kota Batang yang saat ini suasananya sudah panas. Karenanya, Gerakan Batang Hijau akan terus didukung karena ke depan lingkungan itu penting bagi kelangsungan hidup warga Batang.

“Saya salut gerakan Batang Hijau ini muncul dari komunitas pegiat pecinta lingkungan dan pecinta hijau kotaku. Yang memang menginginkan Batang menjadi kota yang bersih, asri, rindang dan  hijau,” katanya.

Ditambahkan pula, Pemerintah melalui Badan Lingkungan Hidup juga sudah melakukan berbagai penghijauan baik di pesisir pantai hingga ke pegunungan. Serta di lingkungan instansi, sekolah dan pemukiman penduduk di Batang.

Pemerintah juga mendukung kegiatan Forum Komunitas Kota Hijau yang akan membuat Taman Abirawa yang tahun depan akan direalisasikan. Taman tersebut sebagai ikon taman hijau di Kecamatan Batang.

“Saya sangat salut lagi, FKH ini sangat luar biasa, tanpa ada biaya dari pemerintah mereka tetap menanam. Untuk itu, pemerintah daerah sementara ini hanya bisa mendorong agar komunitas ini bisa terus melakukan kegiatan penghijauan,” serunya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang Joko Tetuko mengatakan, Festival Batang Hijau salah satu upaya untuk mewujudkan Batang kota hijau ke depan. Sebab ini juga merupakan komitmen Pemerintah Kabupaten Batang yang telah menyampaikan kepada Kementrian PU PR ( Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ) yang akan menunjukan Batang sebagai Kota Hijau.

“Untuk tahun ini kita mulai melakukan aksi hijau dengan menggelar lomba desa dan keluarahan bersih sehat, lomba aksi bersih pantai, kemah pecinta lingkungan dan jambore pecinta alam,” katanya.

Menjadikan Batang sebagai kota hijau tidak bisa dilakukan oleh pemerintah daerah saja, tapi perlu dukungan dan kerjasama semua lapisan masyarakat, komunitas pecinta lingkungan dan LSM yang bersama–sama  guyub rukun melakukan penghijauan dan mencintai lingkungannya dengan budaya hidup bersih.

Dijelaskan juga oleh Joko Tetuko, luasan lahan hijau di Batang masih di atas 30 persen dan secara undang – undang masih berlebih dan ini akan dipertahankan. Serta antisipasi alih fungsi lahan yang dikhawatirkan akan berakibat banjir, hingga kekurangan air di musim kemarau.

Pihaknya juga akan berusaha terus menjaga lingkungan dengan melakukan penanaman, pemeliharaan, pembuatan sumur resapan lubang biopori, serta akan menambahkan ruang terbuka hijau.

“Ini merupakan pekerjaan yang tidak ada kata selesai, karena butuh proses dan budaya yang diharapkan budaya menanam serta hidup bersih harus terus dilestarikan, hingga tujuan kita tercapai menjadikan Batang Kota Hijau,” jelasnya. (han/ric)