Pengelola GOR Bentuk Wadah

Okupansi Minim, Pembiayaan Besar

371
TERGANTUNG MOMEN: Stadion Moch Soebroto, Magelang, ramai ketika ada momen-momen olahraga tertentu saja seperti pada peringatan Haornas, Sabtu (9/9) lalu. Pada hari biasa, stadion itu sepi aktivitas kegiatan (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR KEDU).
TERGANTUNG MOMEN: Stadion Moch Soebroto, Magelang, ramai ketika ada momen-momen olahraga tertentu saja seperti pada peringatan Haornas, Sabtu (9/9) lalu. Pada hari biasa, stadion itu sepi aktivitas kegiatan (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR KEDU).

MAGELANG–Manajemen Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta menginisiasi pembentukan Organisasi Gelanggang Olahraga (GOR) seluruh Indonesia. Tujuannya, sebagai wadah komunikasi antar seluruh pengelola GOR atau stadion di Tanah Air.

Direktur Utama Stadion GBK, Winarto, Sabtu (9/9) lalu, mengatakan, ada 12 pengelola stadion yang menjadi inisiator terbentuknya organisasi skala nasional ini. Dari 12 stadion tersebut, menurut Winarto, pihaknya sudah mengunjungi sekitar 8 stadion untuk berkomunikasi dan berkoordinasi.

Dikatakan, sebagai langkah awal, ada 10 pengelola GOR dan stadion di Indonesia, dikumpulkan di Hotel Atria, Kota Magelang. Mereka memanfaatkan momen peringatan Haornas XXXIV tahun 2017 yang dipusatkan di Stadion Moch Soebroto, Kota Magelang, Sabtu (9/9). “Mereka menyambut baik inisiatif tersebut, karena untuk membangun jaringan satu sama lain. Kedudukan kita sama, antara pusat dan daerah. Belum tentu GBK lebih baik dari daerah.”

Winarto mengungkapkan, ada tiga fakta menarik seputar pengelolaan stadion atau GOR di Indonesia. Pertama, tingkat pemakaian atau okupansi di hampir semua stadion umumnya masih rendah. “Okupansinya bisa dihitung dengan jari. Mayoritas okupansi baru sekitar 15 persen per tahun. Selebihnya, stadion tidak digunakan dan itu sangat disayangkan.”

Kedua, lanjut Winarto, dari sisi keuangan, hampir semua pengelola GOR dan stadion dalam hal pemeliharaan, kebanyakan tidak mampu. Meski, lanjut Winarto, banyak yang didukung pemerintah daerah setempat melalui APBD. “Hal ini terjadi akibat tingkat okupansi yang rendah, sedangkan biaya pemeliharaan cukup tinggi.”

Sedangkan fakta ketiga, stadion kebanyakan hanya digunakan untuk kegiatan olahraga saja. Padahal, sejatinya bisa dipakai untuk aktivitas lain. Seperti kesenian, budaya, politik, dan lainnya. “Stadion bisa jadi kawasan wisata (sport tourism) dan bisnis yang mendatangkan income lebih.”

Ketiga fakta tersebut, menurut Winarto, selama ini dialami oleh GBK. Meski begitu, mulai saat ini, GBK sudah dikonsep lebih dari sekadar tempat berolahraga. Untuk itu, proses renovasi total yang masih dikerjakan pun, menerapkan konsep multifungsi.

“GBK sudah mengarah ke multifungsi dengan menghadirkan fasilitas coffee shop, restoran, toko perlengkapan olahraga, dan lainnya. Harapannya, stadion lain bisa menerapkan konsep yang sama.”

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang, Fatoni, yang ikut dalam pertemuan mengatakan, pihaknya mengapresiasi inisiasi pembentukan organisasi stadion. Organisasi pengelola stadion seluruh Indonesia, menurut Fatoni, memiliki kedudukan strategis dalam upaya memajukan stadion-stadioan di daerah.

“Di era sepak bola yang semakin maju, harus diikuti pula oleh manajemen pengelolaan stadion dan GOR yang maju. Melalui organisasi ini, kita bisa berkembang dan maju bersama. Saya sepakat, stadion bisa memiliki banyak fungsi dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.” (cr3/isk)