Teknik dan Komposisi Jadi Penentu

Food Photography Makin Digemari

381
BAGI ILMU: Food photographer, Suroto Jimboeng saat memberikan materi food photography (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BAGI ILMU: Food photographer, Suroto Jimboeng saat memberikan materi food photography (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KEHADIRAN Media sosial mendorong munculnya hobi baru bagi kaum urban. Salah satunya memotret makanan atau dikenal dengan food photography. Ketepatan teknik dan komposisi akan menjadikan tampilan objek lebih menarik, baik untuk kebutuhan bisnis maupun untuk mengisi feed akun media sosial seperti Instagram.

Profesional Fotografer yang lama berkecimpung di food photography, Suroto Jimboeng mengatakan, perkembangan kamera maupun ponsel pintar yang dilengkapi fasilitas kamera dengan kelas yang makin canggih, menjadikan kegiatan memotret lebih mudah. “Sekarang istilahnya tinggal klik, sebuah foto bisa tercipta,” katanya.

Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar hasil jepretan lebih ‘hidup’ dan memiliki nilai estetika. Khususnya saat memotret kuliner, yang bertujuan untuk menggugah mereka yang melihat agar tertarik menyicipi. Diantaranya teknik dan komposisi.

Flat lay atau pengambilan gambar dari atas menjadi salah satu teknik yang sedang ngetren di kalangan foodies atau food photographer yang suka membagikan foto makanan mereka di media sosial. Teknik ini banyak digunakan oleh foodies yang mengandalkan kamera ponsel.

“Teknik ini nggak ribet, cukup mengandalkan cahaya dari luar saja, dan tidak perlu pengaturan ketajaman maupun blur di sisi lain,” ujarnya di sela workshop ‘Food Photography’ yang diselenggarakan oleh Sippora Media Consultant, baru-baru ini.

Namun demikian, teknik ini mengharuskan permainan komposisi yang tepat. Bagaimana fotografer menempatkan sajian utama dan properti pendukung serta memanfaatkan celah-celah kosong agar terlihat lebih dinamis. Komposisi yang kurang tepat akan menurunkan segi artistik dari hasil akhir.

“Properti jangan sampai mengada-ngada. Misal, mengambil gambar mie ayam kelas kaki lima, propertinya ya sumpit, sendok dan garpu. Boleh ditambah pelengkap lain, tapi jangan berlebihan karena dikhawatirkan menu utamanya malah jadi tenggelam,” ujar pemilik Jimboeng Photography ini.

Tak hanya benda-benda mati, agar hasil terlihat lebih hidup bisa juga disisipi dengan satu dua tangan yang sedang mengambil makanan. Kemudian, dalam penataan, usahakan memilih background dengan warna yang senada atau masih satu turunan dengan objek utama. Perhatikan juga piring atau wadah dari sajian, jangan sampai ada bercak-bercak kotor.

Selain untuk hobi, lanjut Jimboeng, food photography juga makin dilirik seiring dengan maraknya perkembangan dunia kuliner. Hal ini mendorong Chef dan pemilik gerai makanan adu kreativitas. Di sinilah peran foto sebagai salah satu media untuk merepresentasikan pesan dan citarasa sesungguhnya.“Foto makanan yang menarik menjadi kebutuhan penting untuk menunjang promosi. Sehingga berdampak pada kunjungan tamu,” ujarnya.

Namun begitu, khusus untuk kebutuhan promosi dalam industri kuliner, ia menggarisbawahi bahwa foto yang ditampilkan atau diunggah harus sesuai dengan isi dan porsi yang nantinya akan dijual. “Foto makanan yang kita hasilkan, berfungsi untuk menggugah selera bagi mereka yang melihatnya meskipun sajian tersebut sederhana, tapi foto yang kita tampilkan bukan untuk menipu,” tandasnya. (dna/bas)