Oleh : Lilik Ermina
Oleh : Lilik Ermina

“TIDAK boleh ada sembarangan tiba-tiba menjadi guru tanpa melalui proses pendidikan dan pelatihan,” ujar Muhadjir Effendy (Mendikbud) dalam Rapat Koordinasi Teknis Ketua Komunitas Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan di Jogjakarta.

Pendapat Mendikbud memang benar. Menurut UU RI nomor14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa guru adalah Pendidik Profesional dengan tugas utama : mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dengan demikian, jelas bahwa guru yang berada pada semua jenjang pendidikan formal adalah pendidik profesional, bukan pendidik amatir apalagi asal-asalan dan sembarangan. Sebagai pendidik profesional guru adalah tenaga yang ahli, mahir, cakap dan memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta berpendidikan, profesional dan berpenghasilan layak. Dengan profesionalisasinya itulah guru melaksanakan tugas utamanya.

Suatu pekerjaan disebut profesional bila memiliki keahlian yaitu kemampuan mengerjakan suatu pekerjaan yang untuk mendapatkannya harus melalui pendidikan dan pelatihan yang cukup panjang, sehingga orang lain tidak bisa melakukan pekerjaan tersebut tanpa melalui prosesnya.

Istilah profesional berasal dari kata profession, yang mengandung arti sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Maka profesional berarti ahli dalam bidangnya yang telah memeroleh pendidikan atau pelatihan yang khusus untuk pekerjaan itu.

Bagaimanakah hubungan antara profesional dan kompetensi? M Arifin menegaskan bahwa kompetensi itu memiliki tiga ciri, kemampuan profesional yaitu kepribadian guru, penguasa ilmu dan bahan pelajaran, serta keterampilan mengajar yang disebut the teaching triad. Dengan demikian, antara profesi dan kompetensi memiliki hubungan yang erat. Profesi tanpa kompetensi akan kehilangan makna. Dan kompetensi tanpa profesi akan kehilangan gunanya.

Untuk memahami profesi, kita harus mengenal ciri-cirinya yaitu 1) memiliki suatu keahlian khusus, 2) merupakan suatu panggilan hidup, 3) memiliki teori-teori yang baku secara universal, 4) mengabdikan diri untuk masyarakat dan bukan untuk diri sendiri, 5) dilengkapi kecakapan diagnostik dan kompetensi yang aplikatif, 6) memiliki otonomi dalam melaksanakan pekerjaannya, 7) memiliki kode etik, 8) memiliki klien yang jelas, 9) memiliki organisasi profesi yang kuat, dan 10) memiliki hubungan dengan profesi dengan bidang yang lain.

Berkaitan dengan kompetensi, ada sembilan kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai instructional leader, yaitu: 1) memiliki kepribadian ideal sebagai guru; 2) penguasaan landasan pendidikan; 3) menguasai bahan pengajaran; 4) kemampuan menyusun program pengajaran; 5) kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar; 6) kemampuan menyelenggarakan program bimbingan; 7) kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah; 8) kemampuan bekerja sama dengan teman sejawat dan masyarakat; dan 9) kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.

Dengan demikian, tugas guru menjadi lebih luas lagi daripada proses mentransmisikan pengetahuan, membangun afeksi, dan mengembangkan fungsi psikomotorik. Hal tersebut dikarenakan di dalamnya terkandung fungsi-fungsi produksi. Dalam hal ini, predikat guru sebagai pendidik itu berkonotasi dengan tindakan-tindakan yang senantiasa memberi contoh yang baik dalam semua perilakunya.

Permasalahannya adalah apakah mereka kompeten di bidangnya atau tidak. Hal tersebut perlu diuji, maka pemerintah pada tahun 2015 telah melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG). Hasilnya masih banyak guru yang mendapatkan nilai di bawah Ketentuan Kriteria Minimal (KKM). Berdasarkan hasil tersebut, maka pemerintah akan melaksanakan UKG kembali tahun 2017, akan tetapi waktu pelaksanakannya belum dapat diketahui dengan pasti. Kemungkinan akan dilaksanakan UKG lagi dengan KKM yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2015. Oleh sebab itu, agar bapak dan ibu guru dapat disebut sebagai guru profesional yang kompeten dalam bidangnya dan tidak dianggap guru yang sembarangan, diharapkan dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi UKG tahun 2017 dan mendapat nilai yang memuaskan. Bahkan lebih membanggakan, apabila bapak dan ibu guru mencapai hasil di atas KKM. (*/ida)