KUNJUNGAN BARENG : Anggota Semarang Aviation Community (SAC) saat memanfaatkan waktu berkunjung bareng ke Airnav (ATC) atau ke Angkasa Pura 1 Semarang, beberapa waktu lalu (DOKUMENTASI SAC FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
KUNJUNGAN BARENG : Anggota Semarang Aviation Community (SAC) saat memanfaatkan waktu berkunjung bareng ke Airnav (ATC) atau ke Angkasa Pura 1 Semarang, beberapa waktu lalu (DOKUMENTASI SAC FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

DARI seabrek orang yang menikmati layanan penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang, hanya segelintir yang peduli dengan dunia aviasi. Sebagian dari mereka yang peduli, tergabung dalam Semarang Aviation Community (SAC). Sebuah kumpulan para pecinta pesawat terbang yang cukup konsen memperhatikan perkembangan jagad penerbangan di Kota Semarang.

Salah satu yang menjadi konsen SAC adalah memasang Radar Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B). Salah satu tempat yang telah dipasang ADS-B adalah atap Hotel @Hom Semarang, pada 15 November 2013 silam. Peranti yang difasilitasi pihak Flightradar24 dari Jerman ini berfungsi untuk menangkap sinyal pesawat. ADB-S bisa dimanfaatkan untuk tracking pesawat lewat smartphone. Informasinya cukup detil bagi masyarakat umum. Mulai dari ketinggian hingga kecepatan pesawat yang melintas.

Bagi yang ingin menikmati radar tersebut, bisa mengunduh aplikasi melalui situs resmi atau mengakses Flightradar24 melalui browser. Data yang dimiliki Flightradar24 berasal dari Badan Otoritas Penerbangan AS (FAA) dan sistem ADS-B di negara-negara lain.

“Itu salah satu sumbangsih kami terhadap dunia penerbangan di Semarang. Aplikasinya boleh diakses siapapun. Ini sekadar informasi untuk masyarakat luas,” ucap salah satu pendiri SAC, Vincent Herdison kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain memasang radar di Semarang, Vincent dan rekan kerjanya di Jakarta juga membuat NEOsky. Konsepnya mirip ADS-B, tapi manfaatnya lebih kepada pihak korporat. NEOsky juga terpasang di Hotel @Hom Semarang dan lokasi strategis di Bandara Achmad Yani. “Semua perangkat itu terpasang atasnama SAC. Kami diberi kesempatan lebih untuk berkarya serta menjalin kerjasama yang baik dengan para stakeholders dunia penerbangan Semarang,” tuturnya.

SAC merupakan revolusi dari komunitas PK-SRG yang lahir 2008 silam. Karena ingin reborn menjadi komunitas yang lebih bebas berkreasi dan membawa semangat baru di dunia aviasi Semarang, PK-SRG berubah nama menjadi SAC, sejak 2 Juni 2015 lalu.

Hingga saat ini, terhitung ada 50 orang yang menyandang predikat sebagai anggota SAC. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Dari pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, pengusaha, dan beberapa yang memang bekerja di dunia penerbangan. Ada nama besar seperti pengamat penerbangan Gerry Soejatman dan Alvin Lie dari Ombudsman RI. “Anggotanya memang banyak. Tapi yang sering kumpul hanya 10-20 orang. Pak Gerry dan Pak Alvin juga sering kumpul kalau pas ke Semarang,” bebernya.

Soal tempat kumpul, SAC tidak punya markas atau tempat langganan. Spontanitas sesuai kesepakatan anggota saja. Tempatnya pun tidak melulu di restoran, cafe atau spot yang biasa digunakan menjadi tempat nongkrong. Kalau pas ingin beraktivitas, SAC suka ngumpul di bandara untuk hunting foto pesawat. Selain itu, melakukan kunjungan pihak Airnav (ATC) atau ke Angkasa Pura 1 Semarang. Para anggota juga suka hunting miniatur atau diecast pesawat. SAC juga melayani bagi anggotanya yang ingin belajar simulasi penerbangan (flight simulator).

Tidak ada agenda wajib yang masuk dalam kalender kegiatan SAC. Pasalnya, konsep SAC adalah kekeluargaan. Hanya kumpul untuk ngobrol seputar penerbangan saja sudah menyenangkan. Dalam obrolan itu, kata Vincent, sesekali diselingi cerita anggota tentang pengalaman terbangnya. Kadang diskusi mengenai kasus dunia penerbangan atau menjelaskan sesuatu tentang aviasi.

Pihaknya menilai, layanan penyedia penerbangan di Semarang sudah cukup baik. Hanya saja, keterbatasan lahan parkir, traffic flow keluar masuk Bandara Ahmad Yani masih jadi sorotan kecut dari beberapa pihak yang menggunakannya. Anjungan pengantar yang terletak di sebelah Cargo Area juga sudah lebih susah untuk mendapatkan pandangan yang bebas ke arah pesawat karena ditutupi oleh barang-barang operasional bandara.

Dia berharap, dengan adanya calon terminal baru di sisi utara bandara yang sekarang, maka daya tampung pesawat dan penumpang bertambah. Kenyamanan meningkat, parkir kendaraan lebih nyaman, akses keluar masuk terjaga baik dan lancar.

“Dan satu hal juga, hendaknya dipikirkan juga akses atau tempat anjungan pengantar yang nyaman bebas dari benda yang menutupi pandangan ke pesawat juga sehingga masyarakat dapat lebih nyaman di sana,” papar Vincent.

SAC pun punya obsesi untuk ikut mengambil porsi dalam melakukan edukasi tentang dunia penerbangan. Pasalnya, dewasa ini pengguna jasa penerbangan semakin banyak. Dari segala lapisan usia dan strata ekonomi. Tapi peningkatan jumlah konsumen itu belum diikuti pemberian informasi mengenai dunia penerbangan yang lebih dalam.

Di antaranya mengenai alasan mengapa ponsel harus dimatikan selama berada di pesawat. Bahkan pernah beredar kabar mengenai terbakarnya pesawat akibat ada ponsel yang menyala saat pesawat lepas landas. “Itu sebabnya masyarakat perlu diberi edukasi mengenai hal-hal tersebut. Informasi tentang safety dan prosedur penerbangan kepada masyarakat memang harus dilakukan,” katanya.

Hingga saat ini, SAC juga concern terhadap larangan penggunaan drone di sekitar wilayah operasi bandara. Begitu juga mengenai larangan penggunaan laser hijau yang sering diarahkan kepada pesawat saat takeoff dan landing.

Selain itu, SAC juga punya peran dalam dunia penerbangan komersial. Mereka berusaha menggandeng dan menjebatani masyarakat, dengan pihak stakeholders di penerbangan. Pasalnya, Vincent menilai, kadang kedua belah pihak ini tidak ketemu jalannya.

“Yang masyarakat menganggap A, sedangkan pihak stakeholders inginnya B. Jadi kami ingin menjadi penghubung antara kedua belah pihak, sehingga terjadi kesamaan konsep dan pemikiran tentang dunia penerbangan,” paparnya. (amh/ida)