Dikenal Tegas dan Teliti, Banyak Mahasiswa Segan

Sri Budi Lestari, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Undip

340
PANUTAN: Sri Budi Lestari di sela-sela kesibukannya sebagai dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PANUTAN: Sri Budi Lestari di sela-sela kesibukannya sebagai dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

MENJALANI Profesi sebagai seorang dosen selama lebih dari 35 tahun tentunya memberikan banyak cerita bagi kehidupan Sri Budi Lestari. Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) ini, melalui lika-liku yang cukup panjang dalam menjalani profesinya.

Namun wanita yang akrab disapa Ayik sangat menikmati profesinya menjadi dosen. “Jadi dosen mulai tahun 1981, tapi sudah asisten dosen tahun 1980. Itu langsung di Undip, tapi memang sering diminta mengajar dimana-mana. Selama jadi dosen ya dukanya kalau harus bikin laporan, sama-lah dengan mahasiswa,” kata Ayik.

Dosen yang dikenal dengan ketelitiannya ini justru mengaku tak pernah menyangka akan menjadi tenaga pendidik. Sebelumnya Ayik justru aktif menjadi jurnalis. Diawali bergabung dengan pers kampus, Ayik tercatat juga pernah bekerja sebagai jurnalis lepas di sebuah surat kabar yang ada di Kota Semarang.

Berprofesi sebagai dosen, menurutnya memiliki tanggung jawab tersendiri. Ketelitian yang ia terapkan tidak lepas dari keinginannya kepada mahasiswa yang dibimbing supaya benar-benar memahami apa yang dikerjakan maupun materi yang disampaikan oleh Ayik.

“Jadi dosen tanggung jawabnya besar, apalagi kalau membimbing skripsi. Nama saya pasti tercantum di dalamnya. Nah, kalau tidak teliti dan mahasiswanya nggak ngerti dengan apa yang dia tulis, pasti yang ditanya dosen pembimbingnya siapa? Makanya saya jadi teliti,” katanya.

Sikap tegas dan telitinya itulah, tak sedikit mahasiswa yang merasa segan kepadanya. Namun itu bukan menjadi hal yang dipikirkan oleh Ayik. Baginya, pekerjaan yang dilakoninya adalah untuk mencetak penerus bangsa sehingga harus penuh tanggung jawab.

“Sebenarnya saya bisa kalau disuruh asal terima proposal atau tugas mereka (mahasiswa), tapi bukan begitu caranya. Karena sudah tanggung jawab makanya saya lakukan dengan teliti,” bebernya.

Mengantarkan dan melihat mahasiswanya berhasil memberikan kebanggaan tersendiri bagi Ayik, tak jarang mahasiswanya yang sudah lama lulus masih berhubungan baik dengannya. “Ada mahasiswa saya yang kini bekerja dan tinggal di Palembang masih rutin mengirimkan makanan khas setiap Lebaran. Rata-rata mahasiswa saya itu jadi pekerja swasta, jarang yang bekerja di Pemerintahan,” jelasnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, kamis (7/9).

Tak kurang dari 36 tahun menjadi dosen, Ayik pun bercerita, bahwa hampir seluruh dosen di S1 Ilmu Komunikasi Undip adalah mahasiswa didiknya. Tak ayal, cerita-cerita saat mereka masih duduk di bangku kuliah menjadi bahan guyonan yang justru semakin menghangatkan suasana kantornya. (mg42/tsa/bas)