TINGKATKAN KEPEDULIAN : Salah satu anggota Komunitas Gugur Gunung Salatiga sedang merawat bibit tanaman di Rumah bibit sendiri terletak di Jalan Osamaliki Salatiga (NATHAZA AYUDYA/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TINGKATKAN KEPEDULIAN : Salah satu anggota Komunitas Gugur Gunung Salatiga sedang merawat bibit tanaman di Rumah bibit sendiri terletak di Jalan Osamaliki Salatiga (NATHAZA AYUDYA/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Berawal dari gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi, sejumlah orang mendedikasikan dirinya menjadi sukarelawan sosial dan lingkungan. Salah satu komunitas peduli lingkungan ini, bernama Gugur Gunung Salatiga Peduli. Seperti apa?

NATHAZA AYUDYA

GERAKAN peduli lingkungan ini telah dibentuk sejak tahun 2006 silam dari Kota Salatiga. Gerakan ini sengaja menginisiasi dan menyadarkan masyarakat agar tidak menutup mata dengan keadaan sekitar. Baik dalam hal sosial maupun lingkungan.

Adalah Santo Handoyo, salah seorang pendiri yang mendedikasikan dirinya pada Komunitas Gugur Gunung Salatiga Peduli. Meski setahun silam telah kembali ke hadapan Yang Maha Kuasa, namun semangatnya masih turun temurun di tengah-tengah komunitas peduli lingkungan tersebut.

Komunitas Gugur Gunung Salatiga Peduli kini memiliki pengurus tetap sebanyak 30 orang dengan ketua Eric Setyo Darmawan. Mereka memiliki latar belakang yang beragam, mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, petani, pegawai, hingga pengusaha. “Keanggotaan kami sangat terbuka bagi siapapun yang ingin terlibat atau menuangkan ide-idenya dalam menjaga lingkungan,” tutur Eric.

Gugur Gunung Salatiga Peduli telah melakukan perawatan dan penanaman dari Rumah Bibit untuk kegiatan penanaman 1001 pendaki. “Tahun lalu kami berhasil mengumpulkan 8000 bibit yang kemudian dibawa ke Lereng Merbabu dan ditanam secara bersamaan oleh 1001 pendaki,” ujar Eric saat ditemui di Rumah Bibit.

Penanaman tersebut, akta Eric, dalam upaya peningkatan penyerapan air hujan di area lereng gunung, khususnya yang sering dilanda kekeringan dan memiliki peluang terjadi kebakaran, terutama Lereng Merbabu Utara.

Rumah bibit sendiri terletak di Jalan Osamaliki Salatiga, tepatnya berada di hilir sungai dekat Jalan Osamaliki. Penanamannya diisi dengan tanaman endemik yang sesuai dengan iklim pegunungan yang memiliki fungsi penyerap air, seperti bibit akasia, bibit beringin, bibit cemara gunung, dan bibit puspo.

Tidak hanya reboisasi lingkungan dan penanaman saja, dalam waktu dekat Gugur Gunung Salatiga, akan mengadakan kegiatan workshop daur ulang untuk anak-anak di Desa Tengaran pada 24 September mendatang. Kata Eric, kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan dengan program Lereng Merbabu bagian utara. Workshop kali ini lebih menekankan pengenalan dan penerapan terhadap perilaku yang ramah lingkungan bagi generasi muda, seperti mendaur ulang barang-barang bekas menjadi barang serba guna, tas yang terbuat dari kain perca, gantungan kunci dari botol dan sedotan bekas, mengajarkan kepada anak usia dini untuk mengonsumsi paper bag dan tidak membuang sampah sembarangan, serta mengadakan aktivitas menggambar dan mewarnai bertema cinta lingkungan hidup.

“Selain itu, memberikan pengajaran tentang menjaga keseimbangan lingkungan, yakni penjelasan bahaya bencana yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti banjir diakibatkan oleh penumpukan sampah di sungai-sungai,” tuturnya.

Harapan Eric dan Komunitas Gugur Gunung Salatiga Peduli adalah semakin bertambahnya jumlah komunitas peduli yang berdiri. Yakni komunitas yang didedikasikan untuk para generasi muda agar sadar lingkungan. “Saya bersyukur sejauh ini, sudah ada komunitas yang peduli dengan lingkungan, ada Ungaran Peduli dan Boja Peduli,” pungkasnya.

Adapun beberapa komunitas yang pernah bekerja sama dengan Komunitas Gugur Gunung Salatiga Peduli, adalah Mahesapala Mapala STIE AMA Salatiga, Mapala STAIN Salatiga Mitapasa, dan Komunitas Akar Rumput. (*/ida)