MENUNGGU PUTUSAN : Suwarno saat menjalani sidang putusan di PN Semarang (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang).
MENUNGGU PUTUSAN : Suwarno saat menjalani sidang putusan di PN Semarang (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang).

SEMARANG-Akibat mempekerjakan seorang nenek asal Grabag bernama Supini ,93, dengan cara memaksa mengemis di seputar Pasar Yaik dan bangjo (traffic light) di depan RSUP dr Kariadi Semarang, Suwarno ,35, divonis 3 tahun 6 bulan.

Dalam kasus itu, Suwarno berhasil ditangkap Polrestabes Semarang, dalam persidangan ia di jerat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang dengan kasus dugaan perdagangan manusia, kemudian dalam putusannya majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa selama 3 tahun 6 bulan penjara.

“Terdakwa Suwarno juga dibebankan membayar pidana denda sebesar Rp 120 juta dan apabila tidak sanggup, maka dikenai pidana kurungan selama dua bulan,” kata majelis hakim yang dipimpin, Bakri dalam amar putusannya, kemarin.

Majelis menyatakan terdakwa bersalah melanggar pasal alternatif dalam dakwaan Pasal 2 ayat 1 dan pasal 2 ayat 2 UU tindak pidana perdagangan orang. Menurut majelis hakim, dari keterangan saksi-saksi yang dihadirkan, perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur dakwaan.

Namun demikian, sebelum putusan itu dijatuhkan, majelis hakim Bakri, terlebih dahulu menayakan kepada Suwarno terkait putusan yang diinginkan, akibat perbuatan yang dilakukan. “Kamu kan sudah mengakui salah, orang tua kamu karyakan. Berapa hukuman yang kamu inginkan?” tanya Bakri.

Kemudian terdakwa Suwarno mengakui kesalahannya karena telah memberdayakan Supini untuk meminta-minta di jalanan. Ia langsung meminta majelis hakim untuk meringankan hukumannya, ia beralasan apa yang dilakukan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Saya mengaku salah, semua itu untuk menutupi kebutuhan hidup, khususnya untuk anak saya, karena ibunya sudah meninggal dunia. Jadi saya meminta keringan,” kata Suwarno dengan berbahasa Jawa.

Atas putusan itu, JPU Kejari Kota Semarang dan terdakwa maupun kuasa hukumnya langsung menyatakan menerima. “Saya menerima putusan majelis hakim,” kata Suwarno pelan.

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa, Firdaus menilai putusan majelis hakim lebih rendah dibandingkan dengan tutuntan JPU yang menuntut selama empat tahun. Menurutnya, Putusan Majelis hakim telah sepadan apa yang dilakukan oleh terdakwa.

“Saya kira cukup. Kan terdakwa juga dipotong masa tahanannya. Nanti juga dapat remisi juga dan pembebasan bersyarat,” ujarnya. (jks/zal)