Pertamina Gelontorkan Rp 4,9 T untuk CSR

455

SEMARANG–PT Pertamina Marketing Operation Region IV mengalokasikan Rp 4,9 miliar untuk program Corporate Social Responsibility (CSR). Dana sebesar itu,  akan difokuskan pada 11 lokasi sasaran dengan berbagai bidang di tahun 2017 ini. Di antaranya, bidang lingkungan, kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Area Manager Communication and Relation Pertamina Marketing Operation Region IV, Andar Titi Lestari mengatakan bahwa khusus bidang lingkungan, salah satunya CSR terkait penanaman mangrove di Tambakrejo, Semarang Utara.

“Tahun ini, kami rencanakan penanaman sebanyak 6.000 mangrove di kawasan tersebut, bekerja sama dengan warga setempat yang tergabung dalam kelompok Camar,” ujarnya, kemarin.

Kerjasama tersebut, lanjutnya, telah berjalan hampir 7 tahun dan telah menghasilkan 116.000 tanaman mangrove. Keberhasilan hidup tanaman mangrove yang ditanam pun mencapai 90 persen, dengan tinggi mencapai 3 meter. “Kunci keberhasilan penghijauan pesisir Tambakrejo berkat keuletan para penggiat lingkungan yang merupakan warga masyarakat setempat,” ujarnya.

Salah satu pegiat lingkungan di Tambakrejo, Juraimi mengatakan, Kelompok Camar yang dibina Pertamina ini memiliki kesamaan visi dalam upaya melestarikan lingkungan. “Kami ingin mengembalikan desa kami seperti dulu, menjadi desa pesisir yang sejuk dan tidak lagi terendam rob,” ujarnya.

Upaya Kelompok Camar menghijaukan kawasan pesisir kini tampak hasilnya. Hutan mangrove yang membentang sepanjang sekitar 1,5 kilometer sampai bibir pantai tumbuh lebat. Kawasan mangrove pun telah menjadi tujuan wisata bagi warga setempat maupun desa lainnya.

Ekosistem mangrove, tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga telah memberikan dampak ekonomi bagi anggotanya. Dari kegiatan  pembibitan mangrove, mereka menyediakan jasa penjualan bibit baik sistem putus maupun paket. Penjualan bibit sistem paket adalah menjual bibit sekaligus menanam, merawat dan memonitor selama satu bulan dengan harga Rp 3000 per bibit. Setiap tahun mereka bisa memghasilkan 50.000 bibit. “Hasilnya tidak banyak, tetapi bisa menjadi sambilan bagi kegiatan kami sebagai nelayan,” ujarnya.

Ke depan, Juraimi berharap hutan mangrove Tambakrejo diharapkan bisa menjadi kawasan ekowisata, dengan penambahan faailitas pendukung. Dia berharap akan ada program CSR untuk  pengembangan wisata berbasis lingkungan di tempat tersebut. (dna/ida)