HARUS MENANG: Wildan Maulana (5) saat menjaga pergerakan pemain Sragen United pada pitaran pertama di Stadion Moch Soebroto, 15 Juli 2017 lalu (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
HARUS MENANG: Wildan Maulana (5) saat menjaga pergerakan pemain Sragen United pada pitaran pertama di Stadion Moch Soebroto, 15 Juli 2017 lalu (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

MAGELANG–Senin (11/9) lusa, menjadi partai penentuan nasib tiga klub di grup 4 Liga 2 Indonesia 2017/2018. Salah satunya, PPSM Sakti Magelang. Kekalahan 0-4 ketika melawan PSCS Cilacap pada Rabu (6/9) lalu, saat pertandingan persahabatan, membuat Head Coach Siswanto berpikir keras mematangkan strategi permainan. Utamanya, kala tandang melawan Sragen United di Stadion Wergu Wetan Kudus.

Ketiga grup yang menanti hasil pertaruhan nasib adalah Persipur Purwodadi di posisi 4 (15 poin), Sragen United di posisi 5 (14 poin), dan PPSM Sakti Magelang di posisi 6 (13 poin). Melihat posisi di klasemen sementara, Laskar Macan Tidar wajib menang besar saat melawan Sragen United. Kemenangan adalah keharusan jika ingin merebut posisi 4 (play off) dan membuka peluang tetap bertahan di Liga 2 musim berikutnya.

Hanya saja, perjalanan PPSM di laga terakhir, diperkirakan tidak akan mudah. Selain menghadapi Sragen yang juga butuh kemenangan untuk masuk play off, harus pula melihat hasil pertandingan lain antara Persipur Purwodadi vs Persipon Pontianak.

Partai melawan Sragen United di Stadion Wergu Wetan Kudus, bakal menjadi partai hidup dan mati. Target menang diusung anak-anak asuhan pelatih Siswanto “Kancil”. Tidak hanya menang, tapi menang dengan banyak gol untuk mengantisipasi jika Persipur vs Persipon berakhir seri.

Skenarionya adalah PPSM mulus ke posisi 4, jika Persipur kalah dari Persipon. Jika sebaliknya—apalagi kalau sampai kalah dari Sragen—habis sudah peluang anak-anak Kota Magelang di Liga 2 dan bersiap mengarungi musim depan di Liga 3. Misal PPSM hanya meraih hasil imbang dan Persipur juga imbang, maka PPSM tetap tidak lolos.

Tim pelatih dan jajaran manajemen PPSM menyadari hal itu. Siswanto mengaku fokus pada pertandingan super penting tersebut. Latihan terus dilakukan, meski ada jeda laga cukup lama sekitar dua pekan. “Kami benar-benar ingin fokus pada laga itu. Kekalahan saat latih tanding melawan PSCS Cilacap, cukup sebagai evaluasi mendalam bagi tim untuk mematangkan persiapan,” kata Siswanto, Jumat (8/9).

Siswanto mengatakan, kekalahan melawan PSCS Cilacap, menuntut pembenahan lini tengah dan daya gedor lini depan. “Kami harus melupakan hasil pahit ketika melawat ke Cilacap. Ada kelemahan di lini tengah dan lini belakang, sehingga harus kami benahi,” kata mantan Pelatih Persiba Bantul itu.

Terlebih, menurut Siswanto, saat melawat ke Stadion Citarum Semarang, timnya tidak bisa diperkuat salah satu pemain andalannya: Hasan Basri Lohy. Absennya Basri, menjadi salah satu titik lemah PPSM. “Karena itu, saat melawan PSCS, kami optimalkan pemain pelapis agar bisa beradaptasi dan membentuk komposisi tim yang solid.”

Manajer operasional PPSM, Eko ‘Concon’ mengaku peluang menang timnya tipis. Mengingat laga melawan Sragen United, juga dipengaruhi hasil dari pertandingan Persipur vs Persipon. “Namun, kita tetap berjuang keras mengejar tiga poin melawan Sragen.”

Pada pertandingan putaran pertama yang berlangsung di Stadion Moch Soebroto Magelang, 15 Juli 2017 lalu, PPSM berhasil meraih poin penuh. PPSM menang lewat gol tunggal Rezza Ajie. (cr3/isk)