WONOSOBO—Akses menuju sekolah yang relatif masih jauh, menjadi salah satu penyebab rendahnya rata-rata lama sekolah masyarakat Wonosobo. Karena faktor jarak, sebagian masyarakat kurang mampu kesulitan ketika hendak menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Ketika belum ada transportasi umum, orang tua harus membelikan motor anaknya terlebih dahulu. Artinya, orang tua harus memberikan uang bensin. Kondisi seperti itu, bagi warga berpenghasilan minim, menjadi masalah serius. “Contoh seperti di desa ini. Karena adanya SMP, ya rata-rata masyarakatnya lulus SMP. Mungkin beda cerita kalau sudah ada sekolah SMA di sini,” kata Kades Kalikarung, Muhammad Sulistiyono, Jum’at (8/9) kemarin.

Dikatakan, di Kalikarung, telah berdiri SD-SMP. Setiap tahunnya, SMP meluluskan 80-100-an siswa. Sayangnya, setelah lulus, banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA. Mayoritas lebih memilih merantau. Sebagian lainnya bertani di rumah. Penyebabnya, selain karena faktor ekonomi dan kesadaran pendidikan kurang, juga lantaran jauhnya menjangkau sekolah lanjutan.

Dikatakan, hanya sebagaian kecil warganya yang melanjutkan pendidikan. Umumnya, melanjutkan ke SMA di 3 kecamatan. Kalibawang, Kepil, dan Sapuran. Karena ketiadaan transportasi umum, anak harus laju menggunakan motor atau ngekos. Sayangnya, kos maupun laju, masih sulit dipenuhi bagi warga yang mayoritas bekerja sebagai petani, buruh tani, dan perantau. “Sekolah saat ini memang tidak semahal dulu. Tapi masalah transportasi masih mahal.”

Sulistiyono berandai, jika di desanya ada SMA, ia optimistis tingkat pendidikan masyarakatnya akan meningkat. Sekarang ini, tidak sampai 5 persen warga yang lulus SMA. Jika SMA berdiri di Kalikarung, maka warga desa tetangga dipastikannya akan bersekolah di Kalikarung. Di antaranya, Desa Gondowulan, Kalibawang, dan Karangsari. “Kenapa saya bilang begitu, SMP saja banyak desa tetangga yang sekolah di sini (Kalikarung),” katanya.

Hal senada disampaikan oleh Sekdes Ropoh, Dedy Setyo Asmoro. Di Ropoh, misalnya, sebelum ada SMA, mayoritas pendidikan masyarakatnya hanya sampai SMP. Kendalanya sama, masyarakat penghasilan minim dan jarak tempuh ke sekolah yang jauh. “Tapi, Alhamdulillah setelah ada SMA, warga mau sekolah. SMA sini baru meluluskan tahun angkatan pertama, 2017,” katanya. Ia meyakini, dengan naiknya tingkat pendidikan masyarakat, naik pula tingkat ekonomi masyarakatnya.Buktinya, Desa Ropoh yang dulu termiskin, sekarang tidak lagi.

Untuk diketahui, Desa Kalikarung merupakan desa terpencil di bagian selatan Wonosobo. Desa ini berada di perbatasan antara Purworejo-Wonosobo. Jarak menuju SMA, mencapai 8 km dan 27 km sampai ke pusat kota. Yang menyulitkan, akses jalannya kerap rusak. Sedangkan Desa Ropoh berada di perbatasan Wonosobo-Magelang. (cr2/isk)