SEMARANG – Tragedi rusaknya terumbu karang gara-gara kapal tongkang melintas di perairan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Februari 2017 lalu, kembali terjadi. Hingga saat ini, kapal tongkang masih sering melintasi kawasan terumbu karang karena bersandar di Karimunjawa.

Sejumlah pegiat lingkungan di kawasan kepulauan Karimunjawa pun geram. Beberapa waktu terakhir, ada empat kapal tongkang yang menabrak karang. “Kejadian yang berulang dan sudah ada empat kejadian lagi,” kata Deputi Indonesia Coralreef Action Network (I-Can), Amiruddin, saat beraudiensi dengan Komisi B DPRD Jateng, kemarin.

Dari kejadian itu, luasan terumbu karang yang rusak pun bertambah. Saat Februari lalu kerusakan sekitar seluas 1.660 meter persegi. “Luasan yang rusak juga tambah. Sebab mereka parkir (menyandarkan kapal tongkang) nggak pernah memerhatikan arah angin, dan di sana pun juga bukan tempatnya bersandar kapal,” paparnya.

Menurut Amiruddin, alasan kapal-kapal tongkang tersebut bersandar untuk menghindari cuaca buruk, hal itu hanyalah dalih. Karena saat ini yang notabene cuaca cenderung baik pun tetap bersandar. “Soal cuaca itu dalih saja, kan sudah delapan kali,” ujarnya.

Menurutnya, tragedi ini sangat ironi. Mengingat kawasan kepulauan Karimunjawa merupakan konservasi terumbu karang dan sebagai destinasi wisata bahari andalan. Namun kenyataannya, saat ini kapal-kapal tongkang justru bersandar lebih masuk ke dalam kawasan kepulauan.

“Mereka sudah masuk lebih dalam ke arah Karimun, padahal di dalamnya banyak terumbu karang. Kita saja yang bawa perahu bawa wisatawan saja, nggak berani masuk area (kawasan terumbu karang) karena takut kena karang. Tapi mereka langsung masuk saja sembarangan nabrak,” ungkapnya.

Saat ini, warga setempat sedang menahan amarah terkait perusakan alam itu. Dia berharap, pihak terkait segera bertindak cepat agar tidak terjadi konflik horizontal di Karimunjawa.

Di sisi lain, rekomendasi dari kementerian lingkungan hidup yang sebelumnya telah menerjunkan tim untuk datang ke lokasi terumbu karang yang rusak pada Februari lalu, hingga kini belum ada. Selain itu, kata Amiruddin, kasus yang ditangani oleh Polda Jateng dinilai tak ada progresnya.

Ketua Komisi B DPRD Jateng, Chamim Irfani mengatakan dari hasil rapat dengar pendapat dengan sejumlah pihak beberapa waktu lau, masuknya kapal-kapal tongkang di Karimunjawa, difasilitasi oleh dua orang dari swasta yang memandu berlabuh ke dermaga. “Dua orang pemandu itu memfasilitasi mengikat kapal di dermaga, itu penyebab kerusakannya. Padahal itu dilarang,” tegasnya. (amh/zal)