Booming saat Kerap Dimainkan Ibu-Ibu Dharma Wanita

Petrus Kaseke, Pelestari Musik Kolintang Asal Salatiga

454
Petrus Kaseke (STEVAN KRISNA SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).
Petrus Kaseke (STEVAN KRISNA SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Petrus Kaseke adalah pembuat alat musik kolintang yang masih bertahan hingga sekarang. Pria 74 tahun ini memproduksi kolintang di rumahnya di bilangan Jalan Osamaliki, Salatiga. Seperti apa?

STEVAN KRISNA SETYAWAN

KOLINTANG merupakan alat musik tradisional khas rakyat Minahasa, Sulawesi Utara. Biasanya, alat musik ini dibuat dari bahan kayu aro maupun kayu waru. Dulu kolintang sempat booming. Namun kini mulai meredup. Meski begitu, Petrus Kaseke tetap setia memproduksi alat musik pukul ini.

Pria kelahiran Minahasa, 2 Oktober 1942 ini mengaku, menyukai musik kolintang sejak duduk di bangku SD. Saat itu, ia kerap melihat anak-anak di kampung halamannya memainkan kayu yang dipukul-pukul hingga mengeluarkan suara. Namun saat itu, ia belum mengenal alat musik kolintang.

“Saya pertama kali mendengar alunan musik kolintang  justru dari Radio Republik Indonesia (RRI) Minahasa yang dimainkan oleh Nelwan Katuuk, seniman asal Manado. Tapi, saya belum tahun wujudnya,” kenangnya.

Ia sempat membayangkan bentuk alat musik kolintang. Hingga akhirnya dia bisa langsung melihatnya, dan ternyata sesuai yang dibayangkan. “Setelah coba memainkannya ternyata saya menyukainya. Dari situ, mengalir dengan sendirinya. Bahkan, saking senangnya dengan kolintang,  pendidikan saya sempat terbengkalai,” kenangnya.

Peraih beasiswa dari Bupati Minahasa untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) ini memperkenalkan kolintang di wilayah Jateng pada saat ia masih sebagai mahasiswa.

Saat awal di Jawa, ia kesulitan untuk mencari kayu untuk dibuat kolintang. Tapi, akhirnya ia menemukan kayu aro yang jika dipukul mengeluarkan irama. Ia juga menggunakan bahan kayu waru. Kolintang produksi Petrus pun banyak yang mencari. Bahkan,  merambah hampir seluruh penjuru Indonesia, hingga ke luar negeri. Petrus mengklaim dirinya yang membawa kolintang ke Jawa.

“Kolintang kan dari Minahasa. Selain di Minahasa, tidak ada kolintang. Mungkin saya termasuk yang pertama membawa dan memperkenalkan kolintang ke Jawa. Awalnya, saya perkenalkan di Jogja, kemudian kota-kota lain di Pulau Jawa hingga akhirnya banyak yang mengenal saya,” katanya.

Banyak prestasi yang diraih  berkat kolintang. Sejumlah pergelaran musik kolintang pun pernah dilakukan Petrus. Misalnya, pada 1970, ia menggelar pertunjukkan musik kolintang di Singapura, pada 1971 di Australia, pada 1972 di Belanda dan Jerman, serta pada 1973 tampil di beberapa kota di Amerika Serikat dan setahun kemudian Petrus Kaseke dipercaya untuk tampil keliling di Benua Eropa, seperti Swiss, Jerman, Denmark, Belanda, Swedia, dan Norwegia.

“Saya merasa bangga saat tampil di luar negeri, karena apresisasi mereka sangat luar biasa terhadap alat musik kolintang, bahkan ada beberapa keluarga yang mengikuti saya ke kota satu, kota dua hingga kota ke tujuh. Alasannya, karena alunan musik kolintang sangat indah, sehingga selalu penasaran untuk mendengarkannya,” ucap Petrus sambil tertawa.

Sejak itu, nama ayah dua anak,  yakni Leufrand Kaseke Adeline Kaseke ini, pun semakin melambung. Permintaan alat musik kolintang karyanya pun terus meningkat. Bahkan,  hampir seluruh kantor Kedutaan Besar Indonesia di seluruh dunia terdapat alat musik ini.

Diakui, seiring perkembangan zaman, alat musik kolintang sudah jarang dimainkan.  Selain jarang yang bisa memainkannya,  alunan musik ini cenderung seperti itu saja sejak dulu. Meski begitu, Petrus tetap konsisten untuk melestarikan kolintang. Saat ini, Petrus bisa menghasilkan 10 set kolintang setiap bulannya.

“Dulu penjualan alat musik kolintang sempat booming saat zaman ibu-ibu PKK dan darma wanita membantu mempromosikan alat musik ini .  Sebab, di zaman Presiden Soeharto, banyak festival dan lomba musik kolintang,” katanya. (*/aro)