Tanah dan Air dari Tempat Bersejarah Dipertemukan

288
BAHAN MONUMEN : Penyerahan tanah Gunung Tidar dan air dari mata air (tuk) Drajad dari Wali Kota Sigit Widyonindito dan Wakil Wali Kota Windarti Agustina (kanan) kepada perwakilan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI di Gunung Tidar, Rabu (6/9) (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).
BAHAN MONUMEN : Penyerahan tanah Gunung Tidar dan air dari mata air (tuk) Drajad dari Wali Kota Sigit Widyonindito dan Wakil Wali Kota Windarti Agustina (kanan) kepada perwakilan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI di Gunung Tidar, Rabu (6/9) (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).

MAGELANG – Prosesi pengambilan tanah dan air di Kota Magelang sebagai bahan terpenting dalam pembangunan Monumen Tanah Air Persatuan berlangsung begitu sakral. Pemerintah Kota Magelang memilih Gunung Tidar sebagai lokasi penyandingan kedua bahan yang diambil di dua tempat berbeda. Yakni tanah Gunung Tidar dan air dari mata air (tuk) Drajad, di Kampung Tulung, Magelang Tengah, Kota Magelang.

Rabu (6/9), sejak pagi sekitar pukul 06.00 WIB, di masing-masing lokasi telah dilaksanakan prosesi pengambilan bahan. Air dari Tuk Drajad dan tanah Gunung Tidar dimasukkan ke dalam gerabah yang selanjutnya dibawa ke Gunung Tidar.

Di sini prosesi penyandingan dimulai. Seluruh rangkaian acara sarat dengan budaya lokal. Peserta berpakaian adat, menggunakan bahasa Jawa, serta diiringi gending gamelan. Kendati demikian, sisi modern juga dihadirkan dengan pelibatan pasukan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Magelang sebagai pengiring rombongan Ki Jati Saroyo yang diperankan Susilo Anggoro. Rombongan ini membawa tanah yang diambil dari puncak Gunung Tidar.

Dari arah yang berbeda, Abak Arifin yang juga seorang sesepuh Kampung Tulung membawa kendi berisi air dari Tuk Drajad. Kedua rombongan ini akhirnya bertemu di satu titik, tepatnya di depan patung Semar.

Utusan dari pemerintah yang bernama Ki Jati Waseso menerima kedua bahan tersebut. Tokoh ini diperankan Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang, Jarwadi. Barulah kemudian diberikan kepada Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dan Wakil Wali Kota Windarti Agustina. Setelah itu, tanah Gunung Tidar dan air dari Tuk Drajad diserahkan ke perwakilan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.

Sigit mengungkapkan, prosesi itu untuk melestarikan budaya dan mengenalkan kepada generasi muda. Ia berharap, para generasi penerus bangasa tak melupakan sejarah. Terlebih, kedua bahan yang digunakan untuk pembuatan monumen tak dipilih secara sembarangan.

“Semuanya ada filosofinya untuk Kota Magelang. Kedua tempat itu (kerap) untuk menenangkan diri,” ujarnya.

Tanah dan air tersebut selanjutnya akan disimpan. Pada peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) XXXIV nanti akan dicampur dengan tanah dan air dari 90 kabupaten/kota se-Indonesia. Tepatnya pada 8 September mendatang di Alun-alun Kota Magelang.

Sementara itu, Kasubbid Olahraga Kebugaran Kemenpora RI Sri Maryati merasa kagum dengan ritual yang diadakan Pemkot Magelang. Menurutnya, prosesi ini berbeda dari daerah-daerah yang lain. “Luar biasa. Saya terharu dan sampai merinding. Dan kami berharap bisa menyatukan NKRI melalui olahraga,” ungkapnya.

Asdep Sentra Olahraga Deputi III Kemenpora RI Teguh Raharjo menambahkan, pembuatan Monumen Tanah Air Persatuan di puncak Gunung Tidar adalah pertama kalinya. Terkait biaya, akan didanai oleh pemerintah setempat. “Tapi kami juga siap membantu,” tuturnya. Acara ini ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan penampilan kesenian lokal, Topeng Ireng. (put/ton)