PEDULI ROHINGYA: Para siswa SDIT Bina Amal Semarang tampak khusyuk berdoa saat mengikuti aksi solidaritas muslim Rohingya, kemarin (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PEDULI ROHINGYA: Para siswa SDIT Bina Amal Semarang tampak khusyuk berdoa saat mengikuti aksi solidaritas muslim Rohingya, kemarin (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG—Aksi solidaritas terhadap muslim Rohingya yang tertindas, tak hanya dilakukan orang dewasa dan mahasiswa.  Kemarin (6/9), ratusan siswa Kelompok Bermain (KB), TK, dan SDIT Bina Amal Semarang, menggelar aksi solidaritas dan penggalangan dana guna membantu etnis Rohingya yang menjadi korban tindak kekerasan di Myanmar

Aksi digelar di halaman SDIT Bina Amal mulai pukul 07.15-08.15. Selain melakukan penggalangan dana, aksi yang diikuti ratusan siswa dan guru tersebut bertujuan untuk melatih kepekaan dan empati para siswa SDIT Bina Amal terhadap penderitaan etnis Rohingya, dan pembantaian yang dilakukan oleh aparat militer dan sipil Myanmar.

Kepala SDIT Eka Mulyanto menyampaikan keprihatinannya atas tindakan genosida yang diterima oleh masyarakat etnis Rohingya. Di saat bangsa lain hidup dalam suasana yang merdeka, lanjut dia, etnis Rohingya justru dijajah bahkan dibantai oleh pemerintahnya sendiri,  Myanmar.

“Meski jarak sangat jauh dari kita, bahkan beribu-ribu kilometer kita dipisahkan. Tetapi, saat terjadi kedzaliman, saat itulah sebagai saudara kita wajib turun tangan. Penderitaan mereka adalah penderitaan kita. Rohingya harus bebas,” ungkap Eka.

Eka menambahkan, dalam aksi selama sekitar 1 jam ini terkumpul dana donasi untuk Rohingya sebesar Rp 30.071.000. Dana yang terkumpul langsung diserahkan melalui Pos Kemanusiaan Peduli Ummat (PKPU).

“Memang kami tidak menyalurkan langsung ke Myanmar, tetapi kami melibatkan pihak ketiga untuk menyerahkan donasi tersebut,” katanya.

Salah seorang siswa, Lutfi, mengaku senang bisa membantu melakukan penggalangan dana untuk Rohingya.

“Dengan adanya penggalangan dana, harapannya  anak-anak Rohingya segera bisa tersenyum kembali, dan tidak ada lagi pembantaian agar mereka bisa hidup bahagia seperti kita di Indonesia,” ungkapnya.

Temui Walubi

Sementara itu, sebangak 30 orang yang tergabung dalam Forum Umat Islam Semarang (Fuis) kemarin (6/9) mendatangi kantor Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) dengan membawa poster dan bendera. Mereka melakukan orasi di depan kantor Walubi sambil meneriakkan yel-yel. Kedatangan mereka diterima oleh Ketua DPD Walubi, David Hermanjaya, dan melakukan diskusi serta membahas permasalahan Rohingya.

Juru bicara (Jubir) Fuis, Susmanto, mengaku, mengutuk tindakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Bhikku Budha dan aparat keamanan Myanmar terhadap etnis Rohingya. “Sebagai sesama muslim, kami ikut merasakan sakit dan derita yang dirasakan oleh saudara kami,” katanya.

Selain itu, Fuis menyerukan kepada umat Budha Indonesia agar ikut menghentikan aksi pemerintah Myanmar dalam menindas muslim Rohingya.

Ketua DPD Wlubi Jateng, David Hermanjaya, mengutuk tindakan militer yang dilakukan oleh Pemerintah Myanmar, karena telah membuat etnis Rohingya menderita.  “Kami mengutuk Pemerintahan Myanmar yang telah melakukan tindakan militer,” tandasnya.

David menambahkan, pihaknya bersama dengan Pemerintah Indonesia telah membuat rumah sakit di Myanmar untuk mengurangi penderitaan etnis Rohingya.  “Kami bersama dengan Pemerintah Indonesia telah mendirikan rumah sakit untuk membantu dan menolong etnis Rohingya,” katanya.

Selain itu pihaknya meminta agar pemberiaan nobel dari PBB kepada tokoh Myanmar, Aung San Suu Kyi, dicabut kembali, karena dianggap belum bisa mengurusi negaranya sendiri. “Ngurus negaranya sendiri saja belum bisa, karena itu saya menyarankan nobel itu dicabut,”pintanya. (hid/aro)