33 C
Semarang
Senin, 10 Agustus 2020

Lukis Suasana Alam di Pipa Pralon

Melihat Karya-Karya Seniman Kampung Sulhan Amin

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Kreativitas dibutuhkan seniman untuk berkarya. Kadang menggunakan bahan-bahan yang selama ini tak terpikirkan untuk menjadi karya seni. Seperti yang dilakukan Sulhan Amin.

AMIN menganggap seni sebatas ruang ekspresi, ruang menyalurkan bakat dan ruang berkreasi. Ia selama ini dikenal sebagai seniman lukis asal Dusun Karangluas, Desa Karangsari, Sapuran.

Ia tinggal di rumah sederhana, berukuran kecil dan terbuat dari kayu. Di sudut ruangabn tertata rapi puluhan lukisan. Sebagian digantung di dinding, sebagian lagi masih tergeletak di atas meja.

Lukisannya model lukisan realis. Sering ia membuat lukisan yang mirip foto hitam putih karena dilukis dengan pensil. “Saya suka ini, (lukisan) Gus Dur dan yang ini,” katanya sambil menunjuk salah satu lukisan yang tak lain wajah mertuanya sendiri.

Amin mengaku mulai gemar melukis sejak kecil. Ia belajar secara otodidak. Meski gemar melukis sejak kecil, ia mengaku tak pernah menggantungkan hidupnya dari menjual lukisan.

Memang ada orang yang memintanya membuat lukisan kemudian memberi honor. Namun itu sesekali saja. Untuk menghidupi anak dan istri, ia masih menggantungkan hidupnya dari bertani.

Amin menganggap uang yang diterimanya dari melukis semata-mata sebagai apresiasi atas karyanya saja. Kendati demikian kondisinya, baginya, seni sudah merupakan bagian dari hidup.

Belakangan ini, ia mulai serius membuat shadow box dan cutting UPVC (pralon). Amin membuat ukiran pada pipa pralon. Biasanya merupakan gambar suasana alam. Lampu warna-warni dipasang pada bagian dalam sehingga mampu memancarkan gambar yang indah. Sementara untuk shadow box, hampir mirip dengan cutting UPVC hanya bentuknya kotak.

Amin menambahkan, untuk cutting UPVC, ia bandrol dengan harga Rp 120 ribu. Sementara untuk shadow box menyesuaikan tingkat kerumitan, bisa di kisaran Rp 600 ribu. Dalam sehari ia bisa membuat 2 cutting UPVC. Sedangkan 1 shadow box, dalam seminggu hanya bisa membuat 2 karya.

“Untuk saat ini baru bisa segitu, makanya saya lagi bereksperimen ini biar bisa cepat,” kata pria yang enggan difoto tersebut.

Ia berharap, karya-karya tersebut bisa dijual pada pengunjung tempat wisata Gunung Saru. “Saya ingin ada galeri di taman Gunung Saru. Akan kita display lukisan, cutting UPVC dan shadow box,” katanya.

Dua karya tersebut juga pernah diikutkan dalam pameran di Jakarta pada 2016 dan HUT Kecamatan Kertek 2017. Ternyata banyak pengunjung yang tertarik membeli. “Kalau acaranya malam, banyak yang laku. Kalau siang kurang laku, karena kurang mencolok. Kan yang kita jual adalah keindahan gradasi cahaya,” katanya. (ahmad.zainudin/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kota Magelang, si Mungil yang Sarat dengan Prestasi

RADARSEMARANG.COM - Kota Magelang merupakan kota terkecil di Provinsi Jawa Tengah. Luasnya sekitar 18,12 kilometer persegi terbagi dalam tiga wilayah kecamatan. Meski begitu, kota...

Pertukaran Pelajar

Belasan siswa SMA 3 Salatiga beraudiensi dengan komisi A DPRD Kota Salatiga, Kamis (24/9). Para siswa itu merupakan kontingen pertukaran pelajar yang akan tinggal...

Tingkatkan Kemampuan Vocabulary Siswa dengan Clustering

RADARSEMARANG.COM - DI Era globalisasi ini, komunikasi dalam Bahasa Inggris sangat dibutuhkan. Komunikasi secara lisan maupun tulis ditentukan dengan kemampuan seseorang dalam penguasaan kosa...

Siksa Bagi Mayat yang Tidak Dikubur

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Bapak DR KH Ahmad Izzuddin, M Ag di Jawa Pos Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh Allah SWT. Seringkali saya mendengar...

Hijaukan Sepadan Sungai Merapi

MUNGKID - Ribuan relawan dari berbagai komunitas dan universitas melakukan kegiatan penanaman pohon di daerah sepadan sungai di kawasan Jurang Jero Taman Nasional Gunung...

Kibarkan Merah Putih di 4 Puncak Tertinggi di Dunia

Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapala Universitas Negeri Semarang (Unnes) pernah mengibarkan merah putih di empat dari tujuh puncak tertinggi di dunia. Bahkan, Mahapala menjadi...