DARI PRALON : Sejumlah karya cutting UPVC dan shadow box karya Sulhan Amin (Ahmad Zainudin/jawa pos radar kedu).
DARI PRALON : Sejumlah karya cutting UPVC dan shadow box karya Sulhan Amin (Ahmad Zainudin/jawa pos radar kedu).

Kreativitas dibutuhkan seniman untuk berkarya. Kadang menggunakan bahan-bahan yang selama ini tak terpikirkan untuk menjadi karya seni. Seperti yang dilakukan Sulhan Amin.

AMIN menganggap seni sebatas ruang ekspresi, ruang menyalurkan bakat dan ruang berkreasi. Ia selama ini dikenal sebagai seniman lukis asal Dusun Karangluas, Desa Karangsari, Sapuran.

Ia tinggal di rumah sederhana, berukuran kecil dan terbuat dari kayu. Di sudut ruangabn tertata rapi puluhan lukisan. Sebagian digantung di dinding, sebagian lagi masih tergeletak di atas meja.

Lukisannya model lukisan realis. Sering ia membuat lukisan yang mirip foto hitam putih karena dilukis dengan pensil. “Saya suka ini, (lukisan) Gus Dur dan yang ini,” katanya sambil menunjuk salah satu lukisan yang tak lain wajah mertuanya sendiri.

Amin mengaku mulai gemar melukis sejak kecil. Ia belajar secara otodidak. Meski gemar melukis sejak kecil, ia mengaku tak pernah menggantungkan hidupnya dari menjual lukisan.

Memang ada orang yang memintanya membuat lukisan kemudian memberi honor. Namun itu sesekali saja. Untuk menghidupi anak dan istri, ia masih menggantungkan hidupnya dari bertani.

Amin menganggap uang yang diterimanya dari melukis semata-mata sebagai apresiasi atas karyanya saja. Kendati demikian kondisinya, baginya, seni sudah merupakan bagian dari hidup.

Belakangan ini, ia mulai serius membuat shadow box dan cutting UPVC (pralon). Amin membuat ukiran pada pipa pralon. Biasanya merupakan gambar suasana alam. Lampu warna-warni dipasang pada bagian dalam sehingga mampu memancarkan gambar yang indah. Sementara untuk shadow box, hampir mirip dengan cutting UPVC hanya bentuknya kotak.

Amin menambahkan, untuk cutting UPVC, ia bandrol dengan harga Rp 120 ribu. Sementara untuk shadow box menyesuaikan tingkat kerumitan, bisa di kisaran Rp 600 ribu. Dalam sehari ia bisa membuat 2 cutting UPVC. Sedangkan 1 shadow box, dalam seminggu hanya bisa membuat 2 karya.

“Untuk saat ini baru bisa segitu, makanya saya lagi bereksperimen ini biar bisa cepat,” kata pria yang enggan difoto tersebut.

Ia berharap, karya-karya tersebut bisa dijual pada pengunjung tempat wisata Gunung Saru. “Saya ingin ada galeri di taman Gunung Saru. Akan kita display lukisan, cutting UPVC dan shadow box,” katanya.

Dua karya tersebut juga pernah diikutkan dalam pameran di Jakarta pada 2016 dan HUT Kecamatan Kertek 2017. Ternyata banyak pengunjung yang tertarik membeli. “Kalau acaranya malam, banyak yang laku. Kalau siang kurang laku, karena kurang mencolok. Kan yang kita jual adalah keindahan gradasi cahaya,” katanya. (ahmad.zainudin/ton)