Jangan Mudah Terpancing Provokasi

266
BUKAN KONFLIK AGAMA : Ketua FKUB Kota Magelang, Ismudiyono membacakan pernyataan sikap di depan kantor Kesbangpol Kota Magelang, kemarin (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).
BUKAN KONFLIK AGAMA : Ketua FKUB Kota Magelang, Ismudiyono membacakan pernyataan sikap di depan kantor Kesbangpol Kota Magelang, kemarin (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).

MAGELANG – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Magelang mengimbau masyarakat tak mudah terpancing segala bentuk provokasi terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Muslim Rohingya, di Myanmar. Ditakutkan, provokasi justru akan memindahkan konflik tersebut ke Indonesia.

“Kami mengecam terjadinya tragedi itu, tapi tragedi itu tidak ada kaitannya dengan agama Buddha dengan Islam,” kata Ketua FKUB Kota Magelang Ismudiyono usai membacakan pernyataan sikap di hadapan Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina, anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Magelang, dan tokoh-tokoh masyarakat, di depan kantor Badan Kesatuan Bangasa dan Politik (Kesbangpol) Kota Magelang, Rabu (6/9).

Menurutnya, tragedi itu karena gejolak politik yang ada di Myanmar. Bahkan sekte Buddha di negara tersebut, berbeda dengan sekte Buddha di Indonesia. Ia juga menyayangkan, jika ada pihak yang menyeret-nyeret Candi Borobudur dalam lingkaran masalah ini.

Ia pun tak menganjurkan masyarakat menggalang dana dengan cara tidak resmi alias di pinggir-pinggir jalan. Lebih baik, menyalurkan ke lembaga-lembaga resmi atau ke organisasi masyarakat yang dipercaya.

Sementara itu, Kapolres Wonosobo AKBP Muhammad Ridwan meminta masyarakat Wonosobo tidak ikut dalam aksi bela Rohingya di Kabupaten Magelang. “Kami siagakan personel di semua wilayah Wonosobo. Siapapun ormas maupun warga yang hendak ke sana dan berniat untuk turut serta dalam aksi, langsung kami suruh pulang,” terang Ridwan usai rapat koordinasi lintas agama di ruang transit Sekretariat Daerah Wonosobo, Rabu (6/9).

Menurutnya, unjuk rasa yang menggunakan tempat-tempat bersejarah seperti Candi Borobudur, itu dilarang. Meskipun demikian, pihaknya tetap mempersilakan sejumlah ormas maupun warga menggelar aksi di wilayah sendiri, baik berupa doa bersama maupun salat berjamaah. Komandan Kodim 0707/Wonosobo Letkol Czi Dwi Hariyono yang turut hadir dalam rakor tersebut mengatakan siap mendukung penuh pengamanan terhadap masyarakat Wonosobo.

Seorang Pembina Agama Buddha Kabupaten Wonosobo Nyanaloka mengaku prihatin dan menolak keras atas peristiwa yang menimpa kaum Rohingya. Ia juga berharap masyarakat bisa menerima berita-berita yang objektif, bukan menelan mentah seluruh berita yang beredar. Saat ini banyak foto-foto hoax yang tersebar. “Semacam rekayasa yang digencarkan oleh beberapa oknum lalu digoreng oleh netizen yang tidak bertanggung jawab tanpa mengetahui kebenarannya,” ujarnya.

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Wonosobo Zaenal Sukawi juga meminta masyarakat untuk mengecek kebenaran berita yang didapat dari dunia maya. Tidak semua informasi harus ditelan mentah-mentah dan dianggap benar.

Sukawi mengimbau kepada masyarakat Wonosobo untuk tidak mengikuti aksi di Kabupaten Magelang. FKUB akan menggelar aksi sendiri di Wonosobo, seperti menggelar doa bersama dan lempar koin yang nantinya akan disalurkan sebagai donasi korban Rohingya.

“Itu bukan tindak kekerasan keagamaan. Tetapi lebih dekat pada tragedi kemanusiaan yang ada motif politik, motif ekonomi maupun motif kekuasaan. Kita punya prinsip bahwa agama apapun mengajarkan kasih sayang terhadap umat dan alam semesta,” jelasnya. (put/cr2/ton)