1000 KK Banjaragung Kekurangan Air Bersih

266

TEGAL–Sekitar 1000 Kepala Keluarga (KK) di Desa Banjaragung, Kecamatan Warureja saat ini kekurangan pasokan air bersih. Air sumur yang selama ini menjadi tumpuan warga dalam mendapatkan sumber air sudah lama mengering sehingga mereka praktis hanya mengandalkan bantuan air bersih dari pihak terkait.

Darsono, 45, warga setempat mengatakan, krisis air bersih selalu menjadi persoalan klasik bagi masyarakat saat musim kemarau tiba. Sumur yang rata-rata memiliki kedalaman di atas 25 meter saat musim kemarau tidak lagi mengeluarkan air sehingga warga harus mencari sumber lain.

Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, warga bisa mendapatkan dari sumber seadanya. Tetapi, untuk air minum dan keperluan memasak, warga mau tidak mau harus membeli dari luar desa atau menunggu bantuan dari pihak luar yang selama ini sudah banyak memberikan bantuan.

Kondisi geografis desa yang dia huni menjadi faktor utama sehingga persoalan seperti ini selalu menjadi keluhan warga saat musim panas tiba. Ke depan, dia berharap agar pemerintah melalui dinas terkait bisa mencarikan solusi terbaik agar persoalan seperti ini tidak menjadi agenda tahunan.

“Jujur saja, setiap musim kemarau tiba, kami selalu kekurangan air bersih,” keluhnya.

Terpisah, Kepala Desa Banjaragung Samuji menuturkan, saat ini, sekitar 1000 Kepala Keluarga (KK) di desanya mengalami krisis air bersih. Memang, bantuan air bersih sudah datang dari berbagai pihak, tetapi itu semua hanya bisa memenuhi kebutuhan utama masyarakat seperti air minum dan untuk keperluan di dapur.

Selebihnya, warga harus mencari sumber lain karena mereka juga membutuhkan air untuk mandi dan keperluan lain. Jika mengandalkan bantuan, maka apa yang diterima warga tidak sebanding dengan apa yang dibutuhkan.

Melihat kondisi seperti ini, desa juga merasa terpanggil untuk mencarikan solusi seperti membuat sumur resapan, sumur artesis dan sebagainya. Tetapi, semuanya di luar kewenangan desa sehingga pihaknya belum bisa mendapatkan solusi terbaik yang setiap musim panas selalu menjadi persoalan klasik di tengah masyarakat.

“Tekstur tanah di sini sangat keras sehingga sumber air sulit didapatkan ketika musim kemarau tiba,” pungkasnya. (gun/ima/jpg/ida)