Tiga Hari, Jateng Siaga Satu

Jelang Aksi Bela Rohingnya

263
SIAP AMANKAN AKSI: Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono bersama Asops Kapolri Irjen Pol M Irawan saat jumpa pers di Mapolda Jateng, kemarin (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SIAP AMANKAN AKSI: Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono bersama Asops Kapolri Irjen Pol M Irawan saat jumpa pers di Mapolda Jateng, kemarin (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANGAparat kepolisian semakin intensif melakukan berbagai persiapan pengamanan jelang aksi bela Rohingya yang rencananya akan digelar di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jumat (8/9) lusa. Bahkan, Polda Jateng telah menyiapkan pasukan sebanyak 22 SSK (satuan setingkat kompi) atau sekitar 2.200 personel untuk pengamanan.

Saat ini, Polda Jateng telah menyiapkan kekuatan 22 SSK dengan tambahan dari TNI 3 SSK,” ungkap Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono usai jumpa pers di Mapolda Jateng, Selasa (5/9).

Condro menjelaskan, Candi Borobudur merupakan situs warisan dunia, dan salah satu keajaiban dunia yang terbesar dan ditetapkan sebagai objek vital nasional. Sehingga pihaknya sebagai aparat berkewajiban untuk melakukan pengamanan.

“Di situ, menghidupi rakyat banyak, dari komunitas andong, cinderamata, homestay, sehingga semua sangat berharap dengan adanya objek wisata tersebut. Apalagi sekarang Indonesia mendorong untuk peningkatan wisatawan masuk tempat tersebut. Karenanya, sangat kontraproduktif, apabila empati kita kepada saudara muslim Rohingnya dilaksanakan di situ,” harapnya.

Condro juga menyatakan, Polda Jateng akan memberlakukan siaga satu menyusul akan adanya aksi solidaritas Rohingya di Candi Borobudur. Pihaknya menyatakan siaga satu ini akan berlangsung selama tiga hari mulai Kamis (7/8) besok.

“Polda Jateng akan melakukan kegiatan siaga satu mulai Kamis, Jumat dan Sabtu. Tiga hari,” tegasnya.

Selain itu, Condro juga menegaskan, kepolisian tidak mengeluarkan izin terhadap rencana aksi tersebut. Menurutnya, pernyataan tersebut juga telah dikuatkan dengan komitmen bersama dari Polda DI Jogjakarta, Polda Jateng, dan Polda Jatim untuk bersama-sama melakukan pendekatan kepada aksi massa, termasuk tokoh ulama tentang efektivitas aksi solidaritas tersebut.

“Kita juga sudah mendorong kepada bupati di 35 kabupaten/kota dan kapolres untuk di hari Jumat itu melaksanakan kegiatan di Masjid Agung masing-masing kabupaten dan kota. Untuk mengakomodir semua yang akan berempati, untuk doa bersama. Jadi, tidak perlu ke Candi Borobudur,” tegasnya.

Menanggapi terkait adanya penutupan sementara objek wisata tersebut, Condro mengatakan akan melakukan koordinasi dengan pihak pengelola Candi Borobudur.

“Yang jelas, tidak akan ada yang bisa masuk ke ring satu. Dalam arti ring satu itu, kawasan Candi Borobudur. Jadi, Candi Borobudur itu steril. Kita lakukan pengamanan di ring dua, kemudian di perbatasan-perbatasan daerah kita sekat, sehingga tidak ada yang bisa masuk ke sana,” ujarnya.

Pada kesempatan sama, Asops Kapolri, Irjen Pol M Irawan, mengungkapkan, Mabes Polri juga akan mengirimkan pasukan ke Candi Borobudur apabila Polda Jateng meminta. Saat ini, pihaknya telah menyiapkan sebanyak 5 SSK.

“Ada cadangan 5 SSK yang kita siapkan berangkat dari Kelapa Dua, dan dari Jogjakarta dipersiapkan ada 3 SSK. Untuk yang siaga satu itu Jawa Tengah saja,” tegasnya.

Adanya rencana aksi ini, pihaknya juga telah mengundang tiga pucuk pimpinan Polda. Yakni, Polda Jateng, DIJ dan Polda Jatim. Pertemuan ini dilakukan di Mapolda Jateng. Agenda utama yang dibahas adalah pengamanan Candi Borobudur.

“Berkaitan menyamakan persepsi yang timbul di media sosial bahwa hari Jumat (8/9) mendatang akan ada pengerahan massa ke Candi Borobudur, yaitu pengerahan massa sejuta massa,” terangnya.

Hasil persepsi dalam pertemuan ini, kata dia, kegiatan tersebut sangat dilarang. Alasan pertama, Candi Borobudur objek vital nasional. Sehingga orang tidak diperbolehkan melakukan unjuk rasa di lokasi tersebut.

“Kedua, menyampaikan kepada kelompok-kelompok atau ormas-ormas atau perorangan tertentu yang berangkat ke Borobudur untuk bisa mengurungkan niatnya. Silakan melakukan aksi damai di tempat masing-masing,” katanya.

Isu SARA

Menanggapi rencana aksi bela Rohingya di kawasan Candi Borobudur Magelang, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta semua pihak agar tidak menyamaratakan sikap umat Buddha di Indonesia, termasuk Jateng, dengan yang ada di negara Myanmar. Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan umat Buddha.

“Mereka sepakat sikap umat Buddha Indonesia berbeda dari Myanmar. Itu bagian dari krisis kemanusiaan yang mereka tidak sepakat dengan tindakan-tindakan kekerasan yang menjurus genosida,” ucapnya, Selasa (5/9).

Politikus berambut putih ini pun berharap, jangan sampai masalah Rohingya di Myanmar masuk ke Jateng dengan ditunggangi isu berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sebab, selama ini di Jateng nyaris tak pernah disentuh isu seperti itu.

“Kalau saya tidak peringatkan itu, dan ada penumpang gelap yang memprovokasi, (dampaknya bisa) mengerikan itu. Kita belajar dari pengalaman,” katanya.

Mengenai aksi bela Rohingya, Ganjar tidak mempermasalahkan. Dia pun meminta pihak-pihak yang terlibat dalam rencana aksi tersebut untuk menyampaikan aspirasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menjadi polemik baru.

“Kami siap menyalurkan aspirasi masyarakat ke pemerintah pusat atau kedutaan. Borobudur mau dikepung mau apa coba? ‘Wong’ umat Buddha saja mau berkomunikasi,” ujarnya.

Menurut Ganjar, Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan tindakan nyata dalam membela umat muslim Rohingya di negara Myanmar. “Pemerintah secara nasional sudah turun, Menlu bertemu Suu Kyi, pemerintah berikan bantuan logistik kesehatan dan obat-obatan.  Itu menurut saya sudah aksi nyata, apa ada negara yang lebih seperti itu dibanding Indonesia?” katanya.

Kepala Badan Kesbangpolinmas Jateng, Achmad Rofai, menambahkan, Rabu (6/9) ini, pihaknya akan menggelar rapat bersama pihak-pihak terkait untuk mengamankan aksi bela Rohingya di kawasan Candi Borobudur. Termasuk Polda Jateng yang bertanggung jawab soal keamanan.  “Besok (hari ini, Red) akan kami rapatkan dulu. Hasilnya tunggu saja,” tegasnya. (mha/amh/aro)