Tak Ada Remisi Bagi Napi Terlibat Narkoba 

218

SEMARANG – Kementrian hukum dan hak asasi manusia (Kemenkumham) Jawa Tengah akan mencabut remisi bagi narapidana yang terlibat peredaran atau pengendali narkoba di dalam Lapas. Mengingat maraknya peredaran narkoba yang melibatkan narapidana di dalam Lapas.

“Kalau terlibat ya kita proses hukum lagi, kalau nggak jera juga ya dipidana lagi. Karena dia sudah melakukan pelanggaran lagi, maka hak remisi dia dicabut. Siapapun. Mau sekali, mau berapa kali,” ungkap Kepala Kanwil Kemenkumham Jateng, Ibnu Chuldun kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Ibnu Chuldun juga menegaskan, selain napi, tindakan tegas inipun diberlakukan kepada pegawai Lapas yang terbukti terlibat penyalahgunaan barang terlarang ini. Pihaknya tidak segan-segan akan memproses secara hukum. Menurutnya, hal ini sudah menjadi komitmen dan konsistensi pihaknya dalam pemberantasan narkoba.

“Prinsip dari kita, siapapun yang masih terlibat kasus narkoba, bukan hanya narapidana, bahkan pegawaipun itu ditindak, bahkan sampai dipidana juga. Siapapun pegawai. Apalagi narapidana,” tegasnya.

Upaya lain, pihaknya juga menjalin kerjasama dengan Badan Nasional Narkotika (BNN) Provinsi Jateng. Pemberantasan narkoba tidak hanya dilakukan oleh aparat. Namun peran penting masyarakat juga dibutuhkan dalam upaya pencegahan maupun pemberantasan.

Sementara, data jumlah pengungkapan kasus narkoba di Satresnarkoba Polrestabes Semarang mengalami peningkatan tiap tahunya. Tercatat, di tahun 2014 mengungkap 79 kasus dengan tersangka sebanyak 103 orang.

Tahun 2015 mengungkap 110 kasus dengan 129 tersangka. Tahun 2016 mengungkap 175 kasus dan 237 tersangka. Tahun 2017 terhitung sejak Januari sampai Juli sudah mengungkap 114 kasus, tersangka 142 orang.

“Mereka (tersangka) ini kebanyakan usia produktif, usia 30 tahun sampai 40 tahun. Kalau barang bukti yang diamankan kebanyakan masih jenis sabu,” ungkap Kasat Resnarkoba Polrestabes Semarang AKBP Sidik Hanafi.

“Ibarat narkoba ini seperti gunung es. Para tersangka yang ditangkap ini juga mengakui masih memiliki keterlibatan adanya jaringan dengan para narapidana yang menjalani hukuman didalam Lapas,” tegasnya. Hanafi menambahkan, para pelaku sering memutus rantai jaringan ketika tertangkap. (mha/zal)