Permintaan Tinggi, Elpiji 3 Kg Langka

497
STOK KOSONG: Salah satu pengecer elpiji di Jalan Durian, Banyumanik yang kehabisan stok elpiji 3 kg (REYUNI ADELINA BARUS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
STOK KOSONG: Salah satu pengecer elpiji di Jalan Durian, Banyumanik yang kehabisan stok elpiji 3 kg (REYUNI ADELINA BARUS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Dalam beberapa hari ini, elpiji 3 kg atau elpiji melon langka di pasaran. Sejumlah kios di Kota Semarang kehabisan stok. Di wilayah Semarang Barat, pasca Idul Adha 2017 lalu, sejumlah kios mengalami kesulitan gas elpiji 3 kg. Hal ini membuat warga banyak yang kebingungan untuk membeli elpiji bersubsidi tersebut.

“Sebenarnya dari pusat tidak mengurangi stok elpiji yang untuk dijual di sini, Mbak. Tapi permintaan dari konsumen yang semakin banyak yang bikin gas kesannya jadi langka gitu,” tutur salah satu penjual gas epliji di Semarang Barat yang identitasnya tidak mau disebutkan.

Ia mengatakan, kesulitan elpiji hanya terjadi pada elpiji 3 kg. Sedangkan untuk elpiji 5,5 kg dan 12 kg stok masih banyak. “Kalau sudah begini, harga gas yang itu (3 kg) jadi naik. Kalau di sini jadi Rp 19 ribu, yang tadinya Rp 17 ribu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kesulitan elpiji bersubsidi juga terjadi di daerah Banyumanik. Beberapa toko eceran tidak memiliki stok sejak seminggu belakangan.  “Dari pusat memang begitu, Mbak. Kita sudah minta tapi datangnya kadang terlambat. Katanya memang lagi susah,” jelas Ny Rohadi, salah satu pengecer elpiji di Jalan Durian Raya, Banyumanik.

Dia mengaku, sejak Jumat lalu stok elpiji subsidi di tempatnya sudah kosong, dan belum menerima pasokan dari pangkalan. “Orang-orang yang beli ke sini juga sering tanya, Mbak, kenapa nggak datang-datang. Mereka protesnya ke sini, padahal kan kita juga nggak tahu kenapa. Wong dari pusat memang begitu. Mungkin mereka mikirnya karena saya yang jual, jadi saya tahu,” papar Ny Rohadi.

Banyaknya permintaan dari masyarakat setempat akan gas bersubsidi ini merupakan penyebab utama mengapa pengecer kesulitan mendapatkan stok baru. “Soalnya kalau mau nyetok itu udah dijadwalin dari sananya. Jadi, satu bulan itu udah dikasih jadwal, nanti akan disetor berapa gitu. Biasanya 650 atau 900-an tabung. Nggak mesti,” jelasnya.

Beberapa pelanggan memutuskan untuk membeli gas elpiji 5,5 kg sebagai pengganti elpiji subsidi. “Kalau yang 12 kg stoknya banyak. Kurang laku, nggak banyak yang beli. Kebanyakan cuma mau yang 3 kg,” kata Ny Rohadi.

Meskipun demikian, kelangkaan ini tidak membuat Ny Rohadi menaikkan harga elpiji subsidi. “Langka nggak langka harganya tetap sama, Rp 17 ribu,” ujarnya.

Terkait keluhan kelangkaan elpiji 3 kg di pasaran, PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV mengaku telah mendistribusikan sesuai dengan data yang berhak menerima elpiji bersubsidi tersebut.  “Isu Pertamina mengurangi kuota dan mengganti ke tabung 5,5 kg ya jelas nggak mungkinlah. Kami tidak mengurangi kuota, justru seringnya nambah,”ujar Area Manager Communication & Relations PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region IV Wilayah Jawa Bagian Tengah & DIJ, Andar Titi Lestari saat dihubungi oleh Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Seperti saat menjelang Idul Adha, baru-baru ini. Rata-rata konsumsi normal bulanan Kota Semarang 1.746.000 tabung per bulan, untuk persiapan Idul Adha pihaknya menambah kuota 33.206 tabung. Kemudian Kabupaten Semarang dari yang rata-rata konsumsi normal 807.950 tabung per bulan ditambah 21.864 tabung. Begitu juga dengan kota-kota lainnya.

Ia menegaskan, elpiji bersubsidi ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Terkait keluhan kelangkaan di pasaran, disinyalir adanya distribusi yang tidak tepat sasaran, karena selama ini sistem distribusi secara terbuka. Siapa saja boleh beli.

“Pertamina melakukan pengawasan sampai pangkalan, sedangkan pengawasan dan pengendalian di tingkat masyarakat dan pengecer ada di dinas terkait dan kepolisian. Cobalah mereka buat kartu kendali, jadi sama-sama mudah memonitor,”ujarnya. (mg43/mg44/dna/aro)