Antara Tidar dan Kampung Tulung

499
GELADI KOTOR: Sejumlah pelajar terlibat dalam prosesi pengambilan dan penyandingan tanah dan air Kota Magelang untuk bahan pembangunan Monumen Tanah Air Persatuan. Mereka berlatih di kawasan Gunung Tidar, kemarin (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).
GELADI KOTOR: Sejumlah pelajar terlibat dalam prosesi pengambilan dan penyandingan tanah dan air Kota Magelang untuk bahan pembangunan Monumen Tanah Air Persatuan. Mereka berlatih di kawasan Gunung Tidar, kemarin (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).

MAGELANG–Hari ini, Pemkot Magelang melaksanakan prosesi pengambilan dan penyandingan tanah gunung Tidar dan air dari mata air (Tuk) Drajat. Dua elemen alam itu akan dijadikan sebagai bahan pembangunan Monumen Tanah Air Persatuan. Kegiatan dilakukan di dua tempat berbeda. Yakni: di kawasan gunung Tidar dan Kampung Tulung.

Kemarin, sejumlah elemen masyarakat terlibat dalam prosesi tersebut. Geladi kotor dilakukan di kawasan wisata spiritual gunung Tidar. Mereka terdiri atas berbagai elemen. Mulai masyarakat setempat, tokoh agama, budayawan, juru kunci, duta wisata, hingga pasukan Purna Paskibraka Indonesia (PPI). “Kami juga melibatkan generasi muda, sehingga bisa mewariskan budaya ini kepada mereka,” kata Ketua Seksi Pencampuran Tanah dan Air Kota Magelang, Deddy Eko Sumarwanto, kemarin, di sela latihan.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Magelang itu mengatakan, gunung Tidar tidak hanya menjadi lokasi penyandingan dua bahan pembuatan monumen. Pada puncak Hari Olahraga Nasional (Haornas) nanti, kawasan hijau itu juga menjadi tempat pertemuan sekitar 90 tanah dan air kabupaten/kota yang ada di Indonesia. “Sedangkan untuk di Kota Magelang, baik di gunung Tidar dan Kampung Tulung, ada prosesi pengambilan bahan sendiri-sendiri yang kental dengan budaya Jawa dan mengenakan pakaian adat.”

Yang khas dari prosesi ini adalah tidak meninggalkan jejak sejarah dari masing-masing lokasi pengambilan tanah dan air. Utamanya, di gunung Tidar, menghadirkan adegan pertemuan Kiai Semar dengan Syekh Maulana Subakir dan Kiai Jaka Sepanjang. Ketiganya sedang mendiskusikan kondisi Nusantara. Pertemuan ini menggambil lokasi di pesanggrahan Kiai Semar. “Di prosesi ini, PPI sebagai penggiring. Sedangkan para ketua rukun warga sebagai cantrik,” tambah Susilo Anggoro, selaku pengarah acara. (put/isk)