Agen Asuransi, Profesi Menjanjikan yang Dipandang Sebelah Mata

550
MANULIFE PEDULI KUALITAS: Top Agent of The Year Manulife Sie Keristina (tengah) sedang memberi penjelasan soal klaim kepada nasabah, Senin (4/9) (ISTIMEWA).
MANULIFE PEDULI KUALITAS: Top Agent of The Year Manulife Sie Keristina (tengah) sedang memberi penjelasan soal klaim kepada nasabah, Senin (4/9) (ISTIMEWA).

SEMARANG- Industri asuransi merupakan bisnis anomali. Saat ekonomi lesu dan banyak bidang usaha tergerus dan anjlok, ternyata industri asuransi malah tumbuh. Hal itu juga terjadi di Indonesia, saat krisis, hanya industri asuransilah yang bertahan.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim pun mengakui hal itu. Menurut dia, asuransi jiwa akan tetap tumbuh dalam kondisi apapun. “Buktinya, dalam kondisi ekonomi terjelek di tahun 2015 lalu, asuransi jiwa masih bisa tumbuh 10 persen,” ujar Hendrisman baru-baru ini.

Bahkan, tahun ini, meski pun perekonomian global masih lesu, industri asuransi jiwa dapat terus tumbuh. AAJI memperkirakan, pertumbuhannya sekitar 10-30 persen.

Tahun 2016 lalu, AAJI mencatat total pendapatan industri asuransi jiwa melonjak 57,4 persen. Pendapatan industri asuransi jiwa di 2016 mencapai Rp 208,92 triliun, tahun sebelumnya hanya Rp 132,74 triliun. Padahal saat itu, tengah terjadi perlambatan ekonomi global maupun domestik.

Dalam beberapa tahun ke depan, pertumbuhan diperkirakan akan berlanjut, apalagi melihat kondisi penetrasi asuransi di Indonesia yang masih sangat rendah. Berdasarkan data AAJI, penetrasi asuransi di Indonesia per triwulan I – 2017 hanya 2,7 persen dari produk domestik bruto. Angka itu lebih rendah dari negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand yang sudah di atas 5 persen.

Rendahnya penetrasi itu merupakan potensi dan kesempatan besar untuk digarap industri asuransi. Makanya, melihat hal itu, Hendrisman meyakini industri asuransi akan terus tumbuh. Prospek besar ini semestinya ditangkap para pencari kerja untuk terjun ke dunia asuransi, salah satunya menjadi agen.

Namun, saat ini profesi menjadi agen asuransi belum menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Profesi ini pun kerap dipandang sebelah mata bagi banyak orang. Padahal, agen asuransi merupakan profesi mulia yang berguna bagi banyak orang. Hal itu diakui Sie Keristina, Senior Financial Planner Manulife Indonesia. “Ini profesi mulia, karena kita bisa membantu orang yang kesusahan ketika mereka mendapat risiko,” ujar dia.

Menurut salah satu agen terbaik Manulife ini, profesi agen asuransi memang belum menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Menjadi agen asuransi masih menjadi pilihan terakhir. Biasanya, seseorang terjun menjadi agen kalau ia sedang menganggur, atau untuk mengisi waktu luang saat sedang melamar pekerjaan di tempat lain.

“Padahal, menjadi agen asuransi prospek menarik. Kalau kerja di perusahaan, setelah lulus kuliah, paling rata-rata terima gaji UMR. Padahal, uang sekolah dan kuliah sudah mahal.Kalau jadi agen, kita yang menentukan penghasilan, bukan company,” ujar Keristina yang tahun ini dinobatkan menjadi Top Agent of The Year Manulife.

Mantan karyawati sebuah perusahaan properti ini mengakui, sejak menjadi agen Manulife pada 2003 lalu, penghasilannya jauh di atas penghasilan sebelumnya di perusahaan properti. Bahkan, kata Keristina, angkanya lebih dari 10 kali lipat. Padahal, beban kerja lebih berat ketika di perusahaan semula.

Hal senada dikatakan Stella Elsya, anggota Manulife Titanium Club di Singkawang, Kalimantan Barat. Menurut dia, profesi agen asuransi itu istimewa. “Ini pekerjaan mulia. Ada beberapa nasabah yang divonis menderita penyakit kritis, serangan jantung pertama, kanker, ataupun baru terdiagnosa kanker, mereka sudah bisa mendapatkan uang klaim. Dan itu bisa membantu meringankan beban mereka, saya sungguh berkesan saat bisa membantu klien saya seperti itu,” papar Stella yang mengaku setiap tahun bisa jalan-jalan ke luar negeri dan menginap di hotel bintang lima berkat menjadi agen Manulife. Ia sudah keliling dunia seperti ke AS, Rusia, Jepang, dan sejumlah negera lainnya.  “Semua ini karena Tuhan. Kalau kita punya masalah, kita berdoa, agar jalan saya dikuatkan.Tiap malam saya berdoa, agar diberi kekuatan,” katanya.(bis/aro)