SEMARANG–Penurunan tarif angkutan udara pasca arus balik beberapa waktu lalu menyebabkan terjadinya deflasi pada Agustus di Jawa Tengah. Deflasi bahkan lebih dalam, dibanding rata-rata nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, bulan Agustus di Jawa Tengah terjadi deflasi sebesar 0,51 persen. Deflasi tersebut lebih rendah dibanding bulan Juli 2017 yang mengalami inflasi sebesar 0,14 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Margo Yuwono mengatakan bahwa deflasi dipicu oleh beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan berkontribusi cukup besar pada deflasi Jateng. Di antaranya tarif angkutan udara, bawang putih, bawang merah, cabai rawit dan angkutan antar kota.

“Hal ini sebagai efek pasca arus balik. Juli masih terjadi arus balik libur usai Lebaran. Agustus sudah kembali normal yang berdampak pada tarif khususnya angkutan udara dan angkutan antar kota. Sehingga berkontribusi cukup besar pada deflasi,” ujarnya, kemarin.

Namun begitu, ada juga beberapa komoditas yang berkontribusi cukup besar mendorong inflasi Jateng pada Agustus. Di antaranya sekolah menengah ke atas, apel, sekolah dasar, garam dan sekolah menengah pertama.

“Seperti yang kita tahu, garam bulan Agustus juga sempat mengalami kenaikan harga. Begitu juga dengan biaya penunjang pendidikan anak-anak yang baru masuk sekolah. Hal ini mendorong inflasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari enam ibukota provinsi di Pulau Jawa, tiga kota mengalami deflasi dan tiga kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi di Semarang sebesar 0,48 persen, diikuti Jogjakarta sebesar 0,45 persen dan Surabaya sebesar 0,19 persen. Sedangkan untuk inflasi, tertinggi di DKI Jakarta sebesar 0,13 persen diikuti Serang sebesar 0,12 persen dan Bandung 0,06 persen. “Khusus Jawa Tengah, semua daerah yang disurvei mengalami deflasi,” ujarnya. (dna/ida)

Tarif Angkutan Udara Dorong Deflasi

SEMARANG–Penurunan tarif angkutan udara pasca arus balik beberapa waktu lalu menyebabkan terjadinya deflasi pada Agustus di Jawa Tengah. Deflasi bahkan lebih dalam, dibanding rata-rata nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, bulan Agustus di Jawa Tengah terjadi deflasi sebesar 0,51 persen. Deflasi tersebut lebih rendah dibanding bulan Juli 2017 yang mengalami inflasi sebesar 0,14 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Margo Yuwono mengatakan bahwa deflasi dipicu oleh beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan berkontribusi cukup besar pada deflasi Jateng. Di antaranya tarif angkutan udara, bawang putih, bawang merah, cabai rawit dan angkutan antar kota.

Hal ini sebagai efek pasca arus balik. Juli masih terjadi arus balik libur usai Lebaran. Agustus sudah kembali normal yang berdampak pada tarif khususnya angkutan udara dan angkutan antar kota. Sehingga berkontribusi cukup besar pada deflasi,” ujarnya, kemarin.

Namun begitu, ada juga beberapa komoditas yang berkontribusi cukup besar mendorong inflasi Jateng pada Agustus. Di antaranya sekolah menengah ke atas, apel, sekolah dasar, garam dan sekolah menengah pertama.

“Seperti yang kita tahu, garam bulan Agustus juga sempat mengalami kenaikan harga. Begitu juga dengan biaya penunjang pendidikan anak-anak yang baru masuk sekolah. Hal ini mendorong inflasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari enam ibukota provinsi di Pulau Jawa, tiga kota mengalami deflasi dan tiga kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi di Semarang sebesar 0,48 persen, diikuti Jogjakarta sebesar 0,45 persen dan Surabaya sebesar 0,19 persen. Sedangkan untuk inflasi, tertinggi di DKI Jakarta sebesar 0,13 persen diikuti Serang sebesar 0,12 persen dan Bandung 0,06 persen. “Khusus Jawa Tengah, semua daerah yang disurvei mengalami deflasi,” ujarnya. (dna/ida)