SALATIGA – Gesekan antara pengemudi angkutan kota (angkot) dan ojek online terjadi di beberapa wilayah Kota Salatiga, Senin (4/9) siang. Pemicunya, para kru angkot menilai ojek online menyalahi kesepakatan yakni larangan beroperasi. Di sisi lain, pengendara ojek online muncul lengkap dengan atribut karena tengah memperingati Hari Pelanggan Nasional dengan membagikan makanan.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, usai aksi demo angkot selama tiga hari, sudah tidak ada lagi ojek online muncul di Salatiga. Kemarin sekitar pukul 10.00, sejumlah pengendara ojek online lengkap dengan atribut helm dan jaket warna hijau berkeliling kota. Hal itu diketahui kru angkot dan mereka meradang.

Hasilnya, para ojek online dikejar dan dihadang. Gesekan terjadi di Jalan Diponegoro. Beberapa pengendara Gojek berhasil dikejar dan dihentikan oleh kru angkot. Sempat terjadi adu argumentasi. Hal sama juga terjadi di Jalan Kartini. Hingga akhirnya belasan kru angkot mendatangi kantor Gojek yang berada di Jalan Muh Yamin.

Sempat terjadi ketegangan saat kru angkot ditemui oleh supervisor Gojek Wisnu. Kemarahan kru angkot dilampiaskan ke helm dan jaket milik pengendara Gojek. Beruntung, belasan aparat kepolisian dan Satpol PP datang ke lokasi untuk mengamankan situasi.

Kepada wartawan Wisnu menjelaskan, pihaknya tidak melanggar kesepakatan. Munculnya pengendara Gojek kemarin dikarenakan ada instruksi dari kantor pusat untuk melakukan perayaan Hari Pelanggan Nasional. Di hari itu, mereka membagikan 25 dus makanan kepada konsumen.

“Kebetulan, ada yang menggunakan atribut lengkap yakni jaket dan helm. Mungkin karena kebanggaan, namun akhirnya malah terjadi gesekan seperti ini,” jelasnya. Wisnu menyatakan, pihaknya sudah mematuhi kesepakatan yang putuskan wali kota beberapa waktu lalu. “Ini murni merayakan Hari Pelanggan Nasional,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, keberadaan ojek online di Salatiga menimbulkan pertentangan dari kubu angkutan kota. Dua kali kru angkot melakukan aksi menentang keberadaan ojek online ini. Bahkan Wali Kota Salatiga Yuliyanto telah melayangkan surat kepada manajemen Gojek. Surat tersebut memuat tiga poin, yaitu penghentian perekrutan pengemudi Gojek, menutup layanan aplikasi Gojek dan peringatan agar tidak membuka kantor perwakilan Gojek sampai ada izin dari Pemerintah Daerah.

Yuliyanto menjelaskan, pelayangan surat tersebut dimaksudkan untuk menjaga kondusivitas kota Salatiga. Karena pada dasarnya kedua belah pihak sama-sama anak Salatiga, maka ia menekankan akan pentingnya dialog, duduk bersama untuk bersama mencari solusi yang bisa memayungi kedua belah pihak. (sas/ton)