KERJA BAKTI: Sejumlah relawan, masyarakat, anggota kodim, polres, serta instansi terkait membersihkan sampah di Sungai Bogowonto, Sabtu (2/9) (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu).
KERJA BAKTI: Sejumlah relawan, masyarakat, anggota kodim, polres, serta instansi terkait membersihkan sampah di Sungai Bogowonto, Sabtu (2/9) (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu).

WONOSOBO – Sejumlah petugas kebersihan dibantu relawan dan aparat bergotong royong membersihkan Sungai Bogowonto, Sapuran, Sabtu (2/9). Selain bersih-bersih, mereka juga memasang larangan membuang sampah di Sungai Bogowonto. Upaya ini, sebagai tindak lanjut dari aksi salah seorang warga yang kedapatan membuang sampah sebanyak satu truk di sungai tersebut.

“Pelaku sudah kita amankan, sementara aksi kita ini agar tidak terjadi hal serupa,” tegas Kapolres Wonosobo AKBP Muhammad Ridwan di sela kerja bakti.

Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomer 4 Tahun 2016 tentang Lingkungan Hidup, pelaku diancam hukuman 3 tahun penjara. Namun demikian, Ridwan menekankan pentingnya kontrol sosial. Karena, pelaku pembuang sampah yang hampir serupa, banyak yang tidak terdeteksi aparat penegak hukum. “Semua harus bergerak simultan. Penting juga dilakukan edukasi dan hadirnya kontrol masyarakat. Kalau nggak seperti itu aktivitas membuang sampah terus akan berlanjut,” jelasnya..

Dandim 0707/Wonosobo Letkol Czi Dwi Hariyono yang duduk berdampingan dengan Kapolres menambahkan, penanganan sampah juga menjadi tanggung jawab desa. Semisal yang bertugas mengedukasi dan menyediakan tempat sampah sementara mestinya dari pemerintah desa. Desa dalam hal penanganan sampah memiliki peranan penting.

Mengenai tingkat kerusakan alam Wonosobo, ia menyebut Wonosobo masuk dalam kategori rusak. Jika terus dibiarkan, kerusakan alam sangat parah akan terjadi dalam beberapa tahun kemudian. “Kalau polanya masih sama kerusakan alam tak akan lama lagi terjadi. Tinggal masyarakat tahu bahaya semacam ini apa tidak?,” katanya.

Kerusakan lingkungan akan membahayakan warga. Seperti tingginya potensi banjir, minimnya air minum sehat, susah mencari air untuk kebutuhan sehari, dan akan banyak penyakit endemik di masyarakat. Selain bahaya bagi manusia, kerusakan lingkungan juga mengancam hewan, tanaman dan biota sungai.

Namun demikian, juga semua lini mau tergerak untuk bersama-sama menyelamatkan lingkungan, bahaya seperti itu bisa diantisipasi. Seperti contoh, di Jembatan Merah Surabaya. Lokasi yang dulunya super kumuh kini mampu disulap menjadi sangat bersih bahkan dijadikan tempat wisata air. Suhu udara di sana bahkan mampu turun 2-3 derajat usai dilakukan pembenahan. Wonosobo, kata Dandim, alamnya belum terlambat untuk diselamatkan.

“Perusakan lingkungan dampaknya memang baru bisa dirasakan setelah sekian lama. Belum bisa langsung. Makanya masih ada sebagian masyarakat yang menyepelekan bahaya kerusakan lingkungan,” katanya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Pecekelan Sapuran, Maskuri, mengaku sangat apresiatif atas kegiatan bersih-bersih sampah. Ia juga menyebut, warga, termasuk organisasi kepemudaan desa setempat sudah mulai tergerak dalam upaya pencegahan membuang sampah di Sungai Bogowonto. Bahkan, sebelum rombongan ini hadir pemuda dan Banser setempat bermaksud memasang banner dan baliho larangan membuang sampah di Sungai Bogowonto.

“Rencana kita memang bersih-bersih sekaligus memasang backdrop larangan membuang sampah hari ini,” jelas Danyon Banser Sapuran itu. (cr2/ton)