Bambang Wuryanto (Istimewa).
Bambang Wuryanto (Istimewa).

SEMARANG – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mampu mengusung pasangan calon (paslon) sendiri pada Pilgub Jateng 2018 mendatang karena jumlah kursi di DPRD Jateng melebihi syarat minimal. Meski begitu, partai bergambar banteng moncong putih ini tetap membuka pintu koalisi bagi parpol yang ingin berjuang bersama.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng Bambang Wuryanto mengaku, justru semakin suka jika punya banyak teman parpol dalam satu koalisi. “Intinya, PDI Perjuangan semakin banyak kawan bergabung semakin suka. Seribu kawan kurang, satu lawan kebanyakan. Kita tidak tertutup, ini malah ada kader PPP daftar ke sini,” kata pria yang akrab disapa Bambang Pacul ini.

Pihaknya membuka peluang bagi parpol manapun untuk bergabung. Semisal dengan Partai Gerindra ataupun parpol lain. Tapi mengengenai lobi jika meminta posisi sebagai calon wakil gubernur, Bambang menyarankan agar berkomunikasi ke DPP PDI Perjuangan di Jakarta. “Kalau lobi ingin jadi wakil atau ingin diusung jadi gubernur maka lobinya jangan ke Semarang, tapi di Jakarta. Kalau ke saya, percuma,” tegasnya.

Disinggung mengenai kepastian mengusung paslon sendiri, Bambang menyatakan, hal itu kewenangan Ketua Umum. “Sebenarnya bisa mengung calon sendiri. Tapi pertanyaan itu yang bisa jawab adalah Ketua Umum, sebab ini Jateng adalah daerah khusus,” katanya.

Kemudian ketika dimintai tanggapan, adanya wacana head to head yang merupakan gabungan dari parpol-parpol mengusung calon sendiri untuk melawan calon dari PDI Perjuangan, Bambang menilai hal itu wajar. Sebab Jateng selama ini masih dikenal sebagai ‘kandang banteng’.

“Saya kira setiap partai berharap mengalahkan PDI Perjuangan, sebab mereka tahu bahwa PDI Perjuangan punya resources yang kuat di Jateng. Saya tidak mengatakan paling kuat, tapi hari ini PDI  Perjuangan paling siap. Sebab survei kita (survei internal) di angka 35,6 persen,” katanya.

Terkait sosok bakal calon yang bakal diajukan, pihaknya juga tidak bisa memastikan karena semua keputusan ada di tangan Ketua Umum. Saat ini, pihaknya hanya melakukan survei internal terhadap tokoh-tokoh. Survei itu sebagai pendukung bagi partai untuk menunjuk seseorang sebagai calon, yang utama adalah pemahaman tentang ideologi marhaenisme.

“Prinsipnya, selain survei adalah pemahaman dan penjiwaan konsep ideologi partai yaitu marhaenisme. Jika ada yang surveinya bagus dan bisa menerapkan ideologi marhaenisme, maka ya ciamik,” katanya.

Sementara itu, Direktur Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) Muhamad Yuliyanto, mengungkapkan, dari hasil survei yang dilakukan pada pertengahan Agustus 2017 lalu, diketahui afiliasi politik yang menunjukan basis konstituen loyalis parpol secara umum belum berubah.

Dalam kondisi silent atau tidak ada kampanye seperti saat ini, lanjut Yuliyanto, afiliasi politik basis konstituen loyalis parpol adalah PDI Perjuangan 12,0 persen, PKB 4,90 persen, Golkar 2,90 persen, Gerindra 2,50 persen, PPP 1,10 persen. Sementara parpol lainnya di bawah 1,0 persen. Pemilih mengambang ada 73,70 persen. “Hal ini menunuukan Jateng masih menjadi kandang banteng untuk Pilgub 2018 maupun Pileg 2019,” bebernya.

Kondisi lainnya, tingkat pengetahuan masyarakat tentang Pilgub 27 Juni 2018 mencapai 26,80 persen. Artinya masyarakat yang mengetahui adanya Pilgub Jateng masih rendah. Secara keseluruhan jika terdapat Pilgub 2018 maka partisipasi mencapai 75 persen. “Ini juga pekerjaan rumah untuk KPU dan Bawaslu untuk gencar sosialisasikan setiap tahapan Pilgub Jateng,” tegasnya. (amh/ric)