Menyikapi Pro dan Kontra Pemberian Vaksin MR

996
Oleh: Arum Meiranny SSiT Mkeb
Oleh: Arum Meiranny SSiT Mkeb

SUDAH beberapa pekan ini, pemerintah mengampanyekan program nasional imunisasi vaksin measles-rubella (MR). Pemerintah melalui berbagai media yang dapat menjangkau pengetahuan masyarakat luas pun mulai digerakkan. Melalui semua channel televisi, pemerintah mengajak semua warganya untuk sadar imunisasi dan mengampanyekan imunisasi MR untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas generasi penerus bangsa Indonesia.

Selain melalui televisi, pemerintah juga bekerja sama dengan seluruh provider jaringan telepon dari Indonesia. Informasi akan diberikan dalam bentuk pesan singkat berupa ajakan untuk imunisasi MR. Dengan visi terciptanya Indonesia bebas Congenital Rubella Syndrome 2020, Indonesia berharap generasi yang lahir setelah tahun tersebut bisa terbebas dari Congenital Rubella syndrome.

Kampanye Imunisasi MR merupakan kegiatan imunisasi MR secara masal serentak yang diprogramkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk memperoleh kekebalan masal terhadap kasus penyakit Measles/Campak dan Rubella/Campak Jerman. Sedangkan MMR, merupakan vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi measles, mumps (gondong), dan rubella. Jadi, meskipun anak sebelumnya sudah mendapat vaksin MMR, anak tetap harus mendapatkan vaksin MR.

Kampanye ini lebih dititikberatkan pada perlindungan terhadap kesehatan ibu hamil yang rentan tertular penyakit tersebut pada trimester I, sehingga komplikasi terhadap janin berupa kelainan bawaan/kongenital bahkan keguguran dapat dihindari. Kelainan bawaan pada janin yang dilahirkan dari ibu hamil yang terinfeksi tersebut kemudian dikenal dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS). Angka CRS masih tinggi di Indonesia, sehingga program pemerintah dalam meraih Indonesia Bebas Congenital Rubella Syndrome 2020 harus kita dukung bersama dalam suksesnya program Kampanye Imunisasi MR.

Sebelum berbicara panjang lebar terkait vaksin MR, perlu diketahui terlebih dahulu tentang penyakit measles dan rubella. Gejala measles dimulai dengan demam tinggi, anak tampak sakit berat, disertai batuk dan pilek, bisa ditemui muntah dan mencret. Gejala lanjutannya adalah dengan munculnya ruam kemerahan dimulai dari wajah lalu ke seluruh tubuh. Kemudian mata terlihat kemerahan dan berair, serta bibir pecah pecah.

Pada anak tertentu saat mengalami demam tinggi akan mencetuskan kejang. Setelah demam turun, bercak berubah menjadi coklat kehitaman dan akan menghilang beberapa hari sampai minggu sesudahnya. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi pada paru dan otak. Dan tak jarang, radang paru menyebabkan kematian. Virus ini sangat menular, sehingga menimbulkan wabah. Sedangkan gejala rubella dimulai dengan demam ringan, anak terlihat sakit ringan yang diikuti dengan munculnya ruam kemerahan yang dimulai dari wajah dan meluas ke seluruh tubuh. Jika diraba di leher bagian belakang, terasa ada pembesaran kelenjar getah bening.

Biasanya seteah 3 hari demam turun tanpa meninggalkan bercak kecokelatan. Anak cepat pulih dan nafsu makan membaik.Virus ini jarang menimbulkan komplikasi. Komplikasi justru timbul apabila virus menyerang wanita hamil. Janin pada ibu tersebut akan mengalami gejala berat. Apabila virus menyerang di trimester pertama, bisa mengakibatkan keguguran. Apabila menyerang ibu hamil di trimester kedua, si ibu akan melahirkan bayi dengan kelainan yang disebut sebagai congenital rubella syndrome yang ditandai dengan ukuran kepala yang kecil, buta, tuli, dan cacat mental.

Virus campak biasanya menyerang anak. Apabila menyerang orang dewasa, biasanya gejalanya akan jauh lebih berat. Sedangkan virus rubella, baik pada anak maupun dewasa, hanya akan mengalami gejala ringan. Serangan virus akan lebih dahsyat jika menyerang wanita hamil, yang dampak negatifnya bayi dapat lahir dengan cacat.

Maraknya kampanye vaksin MR oleh pemerintah tidak semua kalangan menyambutnya dengan baik. Sebagian orang tua menolak anaknya untuk diberikan imunisasi MR dengan berbagai alasan. Beberapa orangtua itu menganggap vaksin MR mengandung zat yang diharamkan agama. Vaksin yang diberikan mengandung zat gelatin babi, sehingga haram digunakan untuk imunisasi. Sementara mereka yang pro lebih melihat pada manfaat kesehatan dari vaksin.

Soal ini, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menerbitkan Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi. Fatwa ini diterbitkan pada 23 Januari 2016, sehingga sudah mendapat jaminan halal dari MUI. Selain itu, munculnya berita tentang seorang anak yang lumpuh pasca diberi imunisasi MR menambah daftar panjang penolakan kampanye vaksin MR ini. Padahal vaksin ini telah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), serta mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pro dan kontra vaksinasi sesungguhnya sudah lama muncul di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, hingga kini, belum ada benang merah yang dapat mengakhiri kontroversial tersebut. Munculnya pro dan kontra tentang vaksin MR ini semoga menjadi sebuah wacana tersendiri bagi para orang tua untuk menentukan langkah terbaik dan tepat bagi para buah hatinya. (*)