Kamar Mandi Rusak, Air Macet, Hingga Tak Ada AC

Melongok Mess Atlet PPLP di GOR Jatidiri Semarang

452
MEMPRIHATINKAN: Kondisi salah satu kamar mess atlet Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) di kompleks GOR Jatidiri, Semarang yang temboknya penuh coretan. (kiri) Tempat menjemur pakaian atlet yang semrawut (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
MEMPRIHATINKAN: Kondisi salah satu kamar mess atlet Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) di kompleks GOR Jatidiri, Semarang yang temboknya penuh coretan. (kiri) Tempat menjemur pakaian atlet yang semrawut (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Kondisi mess atlet Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) di Gelanggang Olahraga (GOR) Jatidiri, Semarang memprihatinkan. Selain tampak kumuh, fasilitas yang tersedia bagi para penghuninya juga sangat terbatas. Jangan salahkan, jika prestasi para atlet pun akhir-akhir ini cenderung menurun.

HASIL buruk dalam pesta olahraga Asia Tenggara SEA Games di Malaysia lalu, bukti menurunnya prestasi atlet-atlet negeri ini. Di event tersebut, Indonesia harus puas di posisi kelima, di bawah tuan rumah, serta Vietnam, Thailand dan Singapura. Prestasi ini rupanya berbanding lurus dengan perhatian pemerintah kepada para atlet yang masih minim, salah satunya dalam penyediaan sarana mess atlet yang representatif.

Saat Jawa Pos Radar Semarang menyambangi wisma atau mess atlet PPLP Gedung C yang diperuntukkan bagi atlet putri dari berbagai cabang olahraga sungguh menyedihkan. Tampak dari luar, bangunannya seperti rumah susun sewa (rusunawa). Di kompleks itu, ada tiga bangunan yang menjadi mess, yakni gedung A, B dan C. Gedung A dan B diperuntukkan bagi atlet pria. Rata-rata kondisinya hampir sama.

“Kalau akhir pekan atau libur begini sepi, Mbak. Silakan masuk saja. Masih ada beberapa atlet yang tidak ikut Popnas kok,” ujar pengurus katering yang tidak mau disebutkan namanya.

Gedung C terdiri atas dua lantai, yang masing-masing lantai ada sekitar 10 kamar. Suasana kemarin tampak sepi. Hampir semua atlet yang tersisa di mess dan tidak pulang, menghabiskan waktu di kamar masing-masing.

Atlet voli, Andini Anggraheni, kemarin sedang bersantai menanti waktu latihan sore hari. Ditemui di kamarnya, Andini -sapaan akrabnya- mengaku, baru empat bulan tinggal di mess atlet PPLP tersebut.

“Kebetulan sama pelatih nggak boleh pulang, karena masih baru dan masih rutin berlatih setiap sore,” ujar siswa SMA Negeri 11 Semarang ini.

Ia menceritakan, selama pelatihan dirinya tidak mengalami kendala. Sebab, semuanya sudah ada jadwalnya. Sehingga para atlet tinggal menyesuaikan saja. Diakui, kondisi kamar mess yang terlalu sempit membuatnya kurang merasa nyaman.

“Kami sekamar bertiga, kebetulan yang satu sedang ikut popnas. Padahal ruang kamarnya sempit, kasurnya juga cuma dua. Kalau kasurnya ditambah, juga jadi makin sempit. Kalau buat belajar kurang nyaman,” ungkap siswi kelas 10 ini.

Selain itu, fasilitas AC yang sebelumnya ada, menurut Andini, kini sudah tidak bisa lagi dinikmati para penghuni mess. Sebagai pengganti AC, Andini mengaku secara pribadi membawa kipas angin besar. “Dulu katanya ada AC, sekarang nggak ada. Ini kipas angin bawa sendiri,” ujarnya.

Selain itu, kebersihan kamar mandi pun mendapatkan keluhan. Menurut Andini, meskipun setiap hari ada petugas yang membersihkan bagian kamar mandi, namun kebersihannya masih belum maksimal, lantaran kerak-kerak yang ada tidak turut dibersihkan.

Senada dengan Andini, Rukana, atlet tinju asal Grobogan ini mengaku beberapa kamar mandi bahkan tidak dapat digunakan karena rusak. Kerusakannya mulai dari tersumbatnya saluran pembuangan air hingga bagian jambannya.

“Kalau kamar mandi kan lantai satu dan dua masing-masing ada di pojokan. Yang di atas itu dulu pintunya banyak yang rusak, diperbaiki sementara pakai pintu buat ngunci pintunya,” ungkapnya.

Rukana mengisahkan pada bulan Ramadan lalu, atap eternit kamarnya tiba-tiba saja runtuh. Padahal saat itu cuaca normal. Untungnya, kejadian itu tidak menimpa langsung dirinya. Pihak pengelola mess sendiri sudah melakukan pembenahan.

Ia menyayangkan terjadinya kerusakan tersebut. Sebab, hal itu sangat membahayakan, apalagi jika menimpa langsung kepada para atlet. “Ya, untung aja nggak kena (runtuhan eternit). Kalau kena kan saya bisa terkendala latihannya. Apalagi tinju mengandalkan fisik,” katanya.

Rukana menambahkan, meski mess tersebut adalah Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar dan metode pembelajaran dilakukan dengan cara home schooling, namun fasilitas penunjang seperti perpustakaan tidak tersedia. Padahal itu akan sangat mendukung proses belajar para atlet.

“Jadi, kalau lagi nggak ada kegiatan, kan bisa habiskan waktu di perpus. Nggak tidur-tiduran di kamar tok. Selain itu juga bisa buat belajar lagi kalau pas jam pelajaran masih belum paham,” bebernya.

Atlet tinju ini menyesalkan kurang baiknya fasilitas untuk menjemur pakaian para atlet. Sebab, para atlet kerap kehilangan baju karena banyak pakaian yang sama. Selain itu, jemuran yang kurang rapi itu, menjadikan pakaian mudah hilang.

“Yang sudah diperbaiki baru pintu kamar. Dulu sering banget pada kehilangan uang. Sekarang sudah nggak setelah kunci pintunya dibetulin. Baru beberapa bulan ini lah,” katanya.

Ia juga mengeluhkan penyediaan makanan katering yang menunya kurang variatif. Variatif yang dimaksudkan oleh Rukana adalah kesesuaian dengan kebutuhan gizi dan protein bagi para atlet.

Dikatakan, makanan yang tersedia kadang-kadang terlalu banyak lemak dan gorengan. Hal itu kurang sesuai bagi atlet di beberapa cabor, seperti karate yang harus menjaga berat ideal tubuhnya.

“Sehari makan tiga kali, tapi menunya monoton. Itu-itu aja, dan nggak disesuaikan dengan kami para atlet yang butuh asupan seimbang baik dari gizi, protein, lemak dan lainnya,” ujarnya.

Andini dan Rukana berharap, pemerintah bisa lebih memperhatikan dan memaksimalkan fasilitas mess bagi para atlet, khususnya para pelajar ini. Sebab, mereka akan menghabiskan masa 3 tahun jauh dari keluarga dan fokus dengan kegiatan olahraganya.

Rukana menceritakan, salah satu atlet putra yang tinggal di Gedung B sering mengalami kendala air yang kotor. Hal itu membuat mereka terserang gatal-gatal. Tak hanya itu, Rukana menambahkan, di messnya, juga seringkali mengalami air yang tersendat atau tidak lancar.

“Kalau sudah gitu ya terpaksa ngungsi. Ada yang ngungsi ke gedung kembar wisma A, (letaknya di depan dekat pusat pelatihan tenis meja). Ada yang ngungsi ke kantor KONI. Ada juga yang numpang ke pom bensin atau rumah teman dekat dari sini bagi atlet yang membawa sepeda motor,” jelasnya.

Fasilitas lain yang dikeluhkan Rukana adalah kurangnya hiburan yang ada di messnya. Seperti pada sabtu dan minggu. Sebab, tidak semua atlet diperkenankan untuk pulang ke rumah oleh pelatihnya. “Kayak gini kalau hari Sabtu sepinya bikin bosen, hiburannya kita ya paling gadget masing-masing aja,” ujarnya.

Andreas Tri, asisten pelatih cabang olahraga sepak bola menambahkan, kondisi demikian memang memprihatinkan. Namun, pihaknya sebagai pelatih sebisa mungkin untuk bisa memotivasi atletnya supaya tidak sampai memengaruhi prestasi.

“Intinya kan, kita tetap mendukung program dari pemerintah. Dengan kondisi keterbatasan ya kita harus siap. Kami dengar akhir tahun sudah mulai direnovasi, kita tetap berharap yang terbaik,” katanya

Pihaknya sebagai pelatih tidak bisa menuntut banyak. Sebab, semuanya sudah diatur oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar).

Ia berharap, pembangunan yang rencananya akan dimulai pada akhir tahun ini dapat berjalan tepat waktu. Sehingga bisa menunjang prestasi para atlet.

Ia enggan berbicara lebih banyak soal kondisi mess atlet PPLP di kawasan GOR Jatidiri. Andreas sendiri belum tahu, para penghuni mess sementara akan dipindah ke mana selama proses perbaikan. Kabarnya, para atlet akan menempati bangunan yang tersedia di Gunungpati, kawasn kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES).

“Sementara ini kan tim sepakbola kami masih memegang juara bertahan PPLP tahun lalu di Riau, semoga di PPLP September ini kami bisa mempertahankan gelar juara meski dengan berbagai keterbatasan,” tandasnya. (tsa/aro)