MENJAGA TRADISI: Anggota Komunitas Karawitan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo usai tampil (DOKUMEN PRIBADI).
MENJAGA TRADISI: Anggota Komunitas Karawitan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo usai tampil (DOKUMEN PRIBADI).

Sejumlah dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang melestarikan kesenian tradisional dengan membentuk komunitas karawitan dosen. Seperti apa?

AYUK FITRIANA PL-WARDAH HAMRA

KOMUNITAS Karawitan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang terbentuk sejak 2004 silam. Sekarang komunitas ini beranggotakan 21 dosen dari berbagai jurusan.

“Dulu awal terbentuk anggotanya dosen, karyawan dan dharma wanita FDK. Sempat vakum beberapa waktu, karena dosen dan dharma wanitanya pindah fakultas. Kemudian kita bentuk lagi, semua anggotanya dosen Fakultas Dakwah namun non struktural,” ungkap Siti Solichati, salah satu dosen yang mengelola komunitas karawitan ini.

Bermula dari obrolan beberapa dosen yang memiliki ketertarikan di bidang karawitan, akhirnya komunitas ini terbentuk. Dipilih karawitan, karena kesenian Jawa ini dulu digunakan oleh para wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

“Awalnya kita cuma ngobrol-ngobrol lalu menyadari bahwa universitas ini bernama Walisongo, sedangkan Walisongo sendiri menggunakan karawitan melalui akulturasi budaya Jawa untuk berdakwah. Setelah ngobrol-ngobrol akhirnya terbentuk,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat kali pertama terbentuk, Komunitas Karawitan Dosen ini berlatih dari mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Seni Kampus (KSK) Wadas yang terlebih dahulu sudah belajar seni karawitan. Selain itu agar bisa tampil maksimal, para dosen mengundang pelatih dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

“Waktu awal-awal latihan kita masih dibantu mahasiswa dari Wadas. Saat itu, kita belum mandiri, masih belajarlah. Sehingga untuk alat-alat tertentu yang kita belum bisa, banyak dibantu oleh mahasiswa. Namun pelatihnya sama, Pak Tanto,” ungkap dosen yang juga Alumni UIN (dulu IAIN) Walisongo Semarang ini.

Komunitas Karawitan Dosen ini kerap tampil di acara yang diselenggarakan kampus, seperti pengukuhan profesor, Annual Conference dan Dies Natalis UIN Walisongo. Selain itu, komunitas ini pernah diundang tampil untuk mengisi acara Pasar Imlek Semawis di kawasan Pecinan.

Setelah sempat vakum beberapa waktu, Siti Solichati berinisiatif kembali mengajak para dosen berlatih setiap Jumat pagi. Di jam tersebut, para dosen tidak diberi jadwal untuk mengajar agar latihan berjalan lancar dan semua anggota lengkap.

“Di jadwal sudah diatur, yang ikut karawitan tidak mengajar di hari Jumat pagi. Dan sudah nego pada fakultas untuk menggunakan Laboratorium Dakwah sebagai tempat latihan,” terang wanita yang juga Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam ini.

Dikatakan, komunitas karawitan ini menjadi ajang refreshing dan interaksi yang lebih intens bagi para dosen di luar pekerjaan mereka. Selain itu, juga agar bisa melestarikan seni karawitan yang hampir dilupakan generasi muda saat ini.

Ulin Nihayah, anggota Komunitas Karawitan Dosen yang baru bergabung satu tahun terakhir mengaku, saat kali pertama berlatih, dirinya menemui sedikit kesulitan. Ia membutuhkan waktu 2 bulan untuk menyelaraskan musik yang dimainkan.

“Kesulitannya bagaimana menyamakan nada gong dengan bonang, kenong dan  bagaimana bisa bersamaan membentuk irama. Membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk belajar notasi dan menyelaraskan irama dengan musik lain. Kalau misalnya ketukannya  tidak pas, sinden tidak bisa menyanyikan susuai irama,” jelas dosen Manajeman Dakwah ini.

Usfiyatul Marfu’ah, juga anggota komunitas ini berpesan kepada mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk menggunakan musik karawitan sebagai identitas. “Mahasiswa dakwah harusnya bangga  punya musik karawitan sebagai identitas. Jadi, tugas kita bersama selain mempelajari juga harus nguri-uri,” harapnya. (*/aro)