Oleh: Diningsih SPd MSi
Oleh: Diningsih SPd MSi

PERUBAHAN kurikulum yang terjadi di negara ini telah mempengarui perkembangan pendidikan kita. Itu dikarenakan pendidikan merupakan tolak ukur pembelajaran dalam lingkup sekolah. Proses pembelajaran akan terjadi manakala terdapat interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan lingkungannya dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hubungan timbal balik ini merupakan syarat terjadinya proses pembelajaran  yang di dalamnya tidak hanya transfer of knowledge, tetapi juga transfer of value.

Penanaman sikap dan nilai yang melibatkan aspek – aspek psikologis tidak dapat diperoleh dari media apapun, selain bersumber dari sumber daya manusianya, yakni guru.

Dari zaman ke zaman, peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting. Begitu pula dalam era globalisasi, dimana teknologi berkembang dengan sangat pesat. Namun kedudukan guru tidak bisa digantikan dengan media lain. Hal ini menunjukkan bahwa peran guru tetap diperlukan dalam keadaan apapun.

Sebenarnya tugas untuk mendidik anak didik menjadi berkarakter bukan tugas guru semata. Akan tetapi, apakah itu kepala sekolah, staf karyawan, satpam, petugas kebersihan, penjual kantin tentunya membantu membentuk setiap karakter anak yang berinteraksi langsung atau berhubungan dengan personil- personil tersebut. Hanya saja guru lebih banyak waktunya untk berinteraksi  dengan para peserta didik.

Guru mempunyai tugas dan kewajiban, tidak hanya mengajar, mendidik dan membimbing peserta didik tetapi juga sebagai model dalam pembelajaran. Sehingga mampu menciptakan belajar yang aktif dan menyenangkan. Di sini, guru sangat  berperan untuk menjadi contoh, sekaligus motivator dan inspirator. Sehingga peserta didik akan lebih tertarik dan antusias dalam belajar.  Dengan begitu, hasil belajar yang diperoleh berdaya guna dan berhasil.

Sebagai model atau contoh bagi anak  tidaklah mudah bagi seorang guru, karena kita tahu setiap  anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Karena itu, tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma – norma yang dianut oleh masyarakat. Dalam proses belajar-mengajar, guru tidak terbatas hanya menyampaikan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi lebih dari itu, ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan kepribadian peserta didik.

Kompetensi Guru

Guru merupakan tulang punggung dalam  kegiatan proses belajar-mengajar. Tanpa peran guru, maka proses belajar-mengajar akan terganggu bahkan gagal. Karena itu, dalam manajemen pendidikan, peranan guru dalam upaya mencapai hasil proses pembelajaran perlu selalu ditingkatkan melalui kompetensinya, yakni kompetensi pedagogik, pribadi, profesional dan sosial .

Pertama, sebagai pendidik atau guru, semua  tahu bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam pengolahan pembelajaran dengan peserta didik yang meliputi pemahaman wawasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum, perencanaan pembelajaran, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar serta pemahaman dalam  pengembangan peserta  didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kedua, setiap guru mempunyai pribadi masing- masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki, yang membedakan seorang guru dengan guru yang lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah satu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan. Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Karena itu, guru dianggap sebagai model. Sebagai seorang model, guru harus mempunyai kepribadian yang berhubungan dengan perkembangan kepribadian.

Ketiga, guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi ini meliputi pengetahuan, sikap dan ketrampilan profesional baik yang bersifat pribadi, sosial maupun akademis.

Keempat, kompetensi  sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga menjadi idola para peserta didiknya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi peserta didiknya dalam belajar.

Bila dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya kepada peserta didiknya, karena mereka akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik.

Setiap guru memiliki kebiasaan yang berbeda- beda, tetapi berdampak besar terhadap kehidupannya sebagai guru dan peserta didik. Karena itu, perlu dipikirkan pengubahan mindset pemikiran seorang guru yang berkorelasi dengan perilakunya dalam kehidupan sehari- hari. Kemudian bagaimana agar kebiasaan dan perilaku hidup sehari- hari tersebut tidak mempengaruhi psikis seorang guru dalam pembelajaran di kelas. Mari berbenah diri demi kebangkitan pendidikan di negara kita tercinta. (*/aro)