Enaknya Bisa Terima Uang di Awal

Mahasiswa-Mahasiswa yang Kelola Biro Perjalanan Wisata

244
Ramadhan AFL
Ramadhan AFL

Mahasiswa tak hanya sibuk kuliah. Tak sedikit yang menekuni bisnis. Salah satunya bisnis biro perjalanan wisata.

BIRO perjalanan wisata menjadi pilihan utama ketika akan berlibur. Sebab, travel biro ini bisa mempermudah kebutuhan selama perjalanan, seperti sarana transportasi, akomodasi, tempat menginap, hingga menjadi pemandu wisata.  Peluang bisnis ini dibaca oleh Sholichul Adam, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang. Sejak semester 5, ia merintis bisnis biro wisata.

“Sejak SMA saya memang sudah berpikir ingin jadi pengusaha, tapi masih bingung mau usaha apa?  Kalo mau usaha pasti ada modal, karena saya dari nol akhirnya memilih sektor jasa yang lebih sedikit modalnya ketimbang produksi. Maka dipilihlah usaha biro wisata,” ujar Adam –sapaan akrabnya-kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia memilih bisnis biro wisata karena di tengah gencarnya Masyarakat Ekonomi ASEAN  (MEA) sekarang, sektor pariwisata dinilai paling siap menghadapi MEA. Sehingga banyak yang memilih sektor ini sebagai ladang berbisnis, termasuk dirinya. “Saya perhatikan di Indonesia ini, dinas yang paling siap menghadapi MEA ya Dinas Pariwisata. Apalagi Indonesia punya banyak destinasi pariwista menarik yang bisa dijual,” katanya.

Sebagai mahasiswa yang masih aktif kuliah, Adam tak langsung mendirikan kantor. Ia memulai dengan nama perusahaan terlebih dahulu. Berawal mengikuti acara travel mart dan table top pelaku wisata, dari sana ia mendapatkan relasi bisnis hotel, wahana wisata permainan, perusahaan otobus hingga restoran. “Awalnya saya hanya bermodal kartu nama saja. Saya memilih nama Mbarep Tour  N Travel. Filosofinya karena saya anak pertama dari tujuh bersaudara,” ujarnya.

Sejak didirikan Agustus 2014, Mbarep Tour N travel sudah pernah melayani perjalanan wisata skala nasional seperti Jogjakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga menyeberangi Pulau Karimunjawa. “Hingga saat ini sudah pernah memberangkatkan sekitar 20 kali perjalanan wisata. Tapi, masih skala nasional aja, seperti Bandung, Jogja, Malang, dan Jepara,” jelas mahasiswa jurusan Hukum dan Politik Islam semester akhir ini.

Meski masih aktif sebagai mahasiswa, Adam mengaku bisnis yang dijalani tidak sampai mengganggu waktu kuliahnya. Sebab, ia lebih sering menerima job ketika weekend. Dengan begitu, ia bisa leluasa menjalankan pekerjaannya. Sedangkan jika ada perjalanan saat weekdays, ia memberangkatkan timnya dengan tugas masing-masing yang sudah ditentukan sebelumnya. Seperti tim tour guide, tim dokumentasi, dan tim medis.

Pria kelahiran Pelakongan, 15 Januari 1994 ini, memilih media sosial sebagai sarana promosi. Di samping itu, ia juga menawarkan proposal perjalanan wisata ke sekolah, kantor, dan perusahaan swasta. “Promosinya lewat media sosial, Facebook, Instagram, WhatsApp dan temen-temen deket. Dulu sih ngasih tahu orang-orang yang saya kenal, kalo saya punya biro wisata, dari sana dapet customer,” katanya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Adam memiliki strategi agar bisnisnya berjalan lancar dan tidak tombok. Ia mengaku selama ini tidak pernah tombok, semua berjalan sesuai rencana. “Strateginya yang jelas kita laksanakan sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Sebulan sebelum melakukan presentasi, saya dan tim update harga terlebih dahulu dengan hotel, tempat wisata dan PO bus. Jadi, jika perjalanan lancar,  Insya’ Allah, nggak akan nombok,” ungkap pria yang juga menjadi pengajar pecak silat MI Al  Khoiriyyah 2 Semarang ini.

Ia mengaku, enaknya bisnis biro wisata bisa menerima uang di awal. “Jadi setelah memberikan penawaran dan RAB, serta pihak customer setuju dengan kontrak yang ada, mereka harus melakukan pelunasan H-3 sebelum berangkat. Jadi, tidak terlalu keluar banyak modal,” katanya.

Konsumen biro wisata yang dijalankan Adam  berasal dari berbagai kalangan. Mulai siswa sekolah, mahasiswa, perusahaan swasta hingga ibu-ibu pengajian. Perjalanan selama wisata pun di-cover asuransi perjalanan wisata. Meski begitu, ia tidak pernah menggunakan iming-iming harga murah kepada customer-nya. Ia selalu menggunakan paket harga sesuai permintaan konsumen. “Saya tidak pernah sengaja jual lebih murah, tapi fasilitas seadanya. Namun harga tergantung permintaan konsumen, kan ada rumus hitungnya. Jadi, harga paketnya beda-beda,” jelas mahasiswa yang tinggal di Perumahan Griya Lestari Ngaliyan ini.

Penghasilan dari biro wisata yang dijalankan oleh Adam bisa digunakan untuk membayar satu karyawan tetap di kantor, tour guide saat wisata, biaya kuliah sejak semester lima, serta menggelar pesta pernikahannya dengan Juli Prastiwi, 23, tiga bulan lalu.

“Meskipun hasilnya masih sedikit, tapi Alhamdulillah cukup. Saya memilih nikah muda karena saya menggunakan teori Maslow sebagai pegangan. Di sana ada salah satu teori yang menjelaskan pebisnis harus melalui tahapan pemenuhan kebutuhan pribadi, salah satunya untuk cinta sejatinya dulu. Sehingga bisa memenuhi pencapaiannya. Sedikit demi sedikit saya mencoba untuk memenuhi level itu, ” ujarnya sambil tersenyum.

Putra pasangan Muhammad Sahid dan Lina Elisa ini mengaku, kedua orangtuanya mendukung dirinya menjalankan usaha dan menikah muda. Baginya, kesuksesan yang didapat adalah ridho dari orangtuanya. “Ayah dan ibu selalu mendukung. Artinya, apa yang saya kerjakan orangtua mendoakan agar sukses. Untuk saat ini, orangtua berpesan agar bisa menyelesaiakan kuliah segera dan menjadi contoh yang baik untuk adik-adik,” terangnya.

Adam berharap bisnis biro wisata milikinya bisa menjadi pilihan utama masyarakat. Ia mengaku siap berkompetisi secara sehat dan jujur dengan perusahaan serupa.  “Syukur-syukur Mbarep Tour N Travel ini bisa berkembang tidak hanya layanan wisata saja, tapi juga penyedian layanan haji dan umrah. Insya’Allah semoga cepat terwujud,” harapnya.

Bisnis biro perjalanan juga dilakukan Ramadhan Aziz Fajar Laksono, 20, mahasiswa  Ilmu Komunikasi jurusan Public Relation FISIP Undip semester 5. Ia menggeluti biro wisata dengan nama Bima Holiday. Bisnis ini digeluti sejak lulus SMA pada 2014 silam.

“Pertama kali, saya menjadi biro perjalanan acara perpisahan kelas di SMA. Saat itu, saya yang mengatur untuk acara wisatanya. Dari situ, saya mulai menggeluti bisnis ini,” ungkap pemuda yang akrab disapa Ramadhan ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Ia mulai sering mendapat order wisata dari sekolah  dan perguruan tinggi yang ada di Kota Semarang. Mulai acara studi banding, kunjungan kuliah, dan sebagainya.

Pemuda kelahiran Semarang, 1 Febuari 1997 ini mengatakan, modal awal dalam bisnisnya  berasal dari pinjaman orangtuanya. Selain itu, ia mendapat DP dari customer-nya.”RAB saya buat, mulai biaya makan, sewa bus, penginapan, pengeluaran lain-lain, itu saya hitung dulu. Kemudian saya sampaikan kepada customer. Kalau cocok, mereka menyerahkan uang DP berapa gitu,” katanya.

Customer berasal dari kalangan umum. Namun yang terbanyak dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Pada saat musim liburan, ia bisa memberangkatkan tiga rombongan wisata.  “Satu rombongan biasanya satu bus sekitar 50 orang. Kalau lagi sepi, kadang satu bulan tidak dapat. Rencananya besok saya akan membawa rombongan KKL salah satu perguruan tinggi ke Bali,” ujarnya.

Ramadhan memiliki paket wisata ke Jogja dengan biaya kisaran Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu per orang. Fasilitasnya, makan dua kali, dan sekali makan ringan (snack).  “Itu gak nginap, langsung pulang. Biasanya tiga lokasi tujuan wisata. Kalau menginap ya bayarnya lebih dari itu,” terangnya.

Sedangkan paket wisata tujuan Bandung atau Malang, per orang dikenakan tarif Rp 300 ribu selama tiga hari tanpa menginap di hotel. Bisanya berangkat Jumat sore, Senin pagi sudah sampai di Semarang.

Diakuinya, terdapat suka duka menggeluti binis ini. Sukanya ia bisa banyak mendapat relasi  dan pengalaman baru. Ia juga bisa mempekerjakan temannya. “Dukanya kalau orderan sepi, dan harga tiket berubah, serta ada biaya tak terduga. Seperti perjalanan harusnya lewat jalan biasa tapi lewat jalan tol. Itu kan ada biaya tambahan lagi. Kemudian sopirnya minta tambahan uang makan. Terus yang paling risiko kalau keterlambatan waktu, penumpang telat gak ontime biasanya kena cash,” ujarnya.

Ia pernah tidak mendapat untung sama sekali  saat mendapat order mengantar rombongan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang ke Jogja. Selain tidak mendapat keuntungan, ia justru harus tombok meskipun kecil. Untuk mengantisipasi hal itu, Ramadhan membuat RAB dengan harga lebih mahal sedikit. Hal ini untuk mengantisipasi adanya biaya tambahan yang tidak terduga.

Diakuinya, bisnis ini dijalani sambil kuliah. Namun hal ini tidak mengganggu jadwalnya kuliah. Menurutnya, jadwal kuliah yang ada hanya Senin sampai Kamis.”Biasanya order ramai itu Jumat sampai Minggu. Jadi, tidak sampai mengganggu kuliah,” terang cowok saat ini tengah proses membuat CV perusahaan ini. (mg38/fth/mha/aro)