Muslim Singapura Kunjungi Ponpes Manbaul Hikmah

918
KUNJUNGAN: Pengasuh Ponpes Manbaul Hikmah, Mororejo, Kaliwungu KH Suyuthi Murtadlo saat menyambut Rombongan Komunitas Muslim Singpura, kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).
KUNJUNGAN: Pengasuh Ponpes Manbaul Hikmah, Mororejo, Kaliwungu KH Suyuthi Murtadlo saat menyambut Rombongan Komunitas Muslim Singpura, kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KENDAL — Sebanyak 40 perwakilan Komunitas Muslim Singapura mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikmah di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu.  Mereka bertukar budaya dan belajar sistem pembelajaran agama yang diterapkan di Pesantren.

Ketua Rombongan Komunitas Muslim Singapura, Ustadz Pasuni Maulana mengatakan jika kedatangannya untuk mengetahui sistem pembelajaran agama yang diterapkan Kota Santri Kaliwungu. “Ini adalah bagian dari peninggalan yang diajarkan Rasulullah Muhammad yang harus dilestarikan,” katanya, kemarin (1/9).

Menurutnya sistem pembelajaran di Pesantren Manbaul Hikmah sangat luar biasa. Dimana para santri belajar penuh di pesantren setiap hari. Yakni dari pagi hingga malam hari.“Semoga apa yang kami dapat disini, bisa kami terapkan di Singapura,” tandasnya.

Selain kunjungan ke Manbaul Hikmah, rombongan tersebut juga memberikan bantuan berupa 200 ekor kambing kurban. Kambing tersebut disalurkan ke Masjid Agung Kendal, panti asuhan dan sejumlah takmir masjid dan mushola di Kendal,” tuturnya

Pengasuh Ponpes Manbaul Hikmah, KH Suyuthi Murtadlo mengatakan jika Pesantren tersebut sudah berdiri lebih kurang 30 tahun. Lebih kurang ada 200 lebih santri yang belajar pesantrennya. “Ini adalah pesantren salaf dimana para santrinya belajar mendalami dan memahami Islam. Belajar dari pagi hingga malam, bahkan malam para santri disini kami wajibkan mejalani sholat malam,” katanya.

Pimpinan Ponpes Manbaul Hikmah, Basyarohman mengatakan jargon pesantrennya adalah Santri Manbaul Hikmah Iso Opo Wae, Opo Wae Iso. “Santri bisa apa saja, apa saja bisa. Jadi disini tidak hanya belajar agama, tapi santri kami bekali dengan keterampilan dan pendidikan sekolah,” tegasnya.

Pesantren Manbaul Hikmah sudah terintegrasi dengan pendidikan formal SMP dan SMK serta perguruan tinggi. Harapannya, lulusan Manbaul Hikmah tidak hanya pandai dan paham agama tapi juga pengetahuan dunia.

“Santri tidak harus jadi kyai, tapi jadi apapun. Bisa jadi Pengusaha, Politisi atau apapun. Jadi meskipun ini pesantren salaf, tapi kami tidak menutup diri dari perkembangan dunia. Sehingga santri lulus menjadi insan yang  cerdas, kreatif dan inovatif,” tambahnya. (bud/bas)