Pesan Lewat Akun Official Line, Layani Antar Makanan

Julian Fikri Lestari, Mahasiswi yang Jadi Owner Ojek Online Khusus Perempuan ‘Jukri-Jek’

290
Julian Fikri Lestari (DOKUMEN PRIBADI).
Julian Fikri Lestari (DOKUMEN PRIBADI).

Fenomena ojek online marak di setiap kota-kota besar. Seorang mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) Julian Fikri Lestari menjadi owner ojek online khusus perempuan di Kota Semarang. Namanya Jukri-Jek. Seperti apa?

ESTIKA WIDA

OJEK online sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Sistemnya yang praktis, dapat memudahkan masyarakat untuk memesan tanpa harus menunggu lama. Munculnya ojek-ojek online membuka peluang pekerjaan baru bagi masyarakat di Indonesia. Hal ini dimanfaatkan betul oleh Julian Fikri Lestari.

Perempuan kelahiran Banjarnegara, 18 Juli 1996 ini merintis usaha ojek online. Namun berbeda dari ojek-ojek online biasanya. Ojek online yang dirintis Julian Fikri dikhususkan untuk penumpang perempuan.  Gadis yang akrab dipanggil Jukri ini pun memberi nama ojek online­-nya Jukri-Jek yang diambil dari namanya sendiri.

Iya, aku kasih nama Jukri-Jek. Dari akronim namaku sendiri, yaitu Jukri atau Julian Fikri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelumnya, Jukri tidak pernah berpikir akan terjun ke dunia ojek online seperti saat ini. Awalnya, dia hanya membantu mengantarkan teman-temannya yang ingin berpergian. Maraknya pelecehan seksual yang dilakukan oleh driverdriver ojek di sejumlah kota, membuat Jukri memanfaatkan situasi ini dengan membuka peluang bisnis ojek online khusus perempuan.

“Awalnya aku cuma iseng suka nganter teman ke Semarang bawah. Ke stasiun atau terminal gitu. Secara iseng aku tanya kenapa mereka gak pesan ojek aja? Mereka bilang katanya takut dan risih kalau dibonceng oleh ojek yang rata-rata laki-laki. Jadi, aku putuskan untuk membuat ojek online ini,” jelas Jukri.

Usaha yang dirintis sejak 2015 ini mengalami banyak perkembangan, dan dia mampu mempekerjakan delapan orang perempuan sebagai driver Jukri-Jek. Penghasilan yang dihasilkan per bulan bisa mencapai Rp 500 ribu – Rp 1 juta.  Untuk ukuran mahasiswi, itu sudah cukup lumayan buat tambahan uang saku.

Alhamdulillah, sekarang driver-nya sudah delapan orang. Semuanya perempuan dan masih mahasiswa,” ucapnya.

Putri pasangan Tukirman dan Tri Kusminarsih ini memasarkan ojek online-nya melalui akun official line. Jukri-Jek yang berada di Tembalang, menjadi salah satu ojek yang digemari oleh kaum hawa, khususnya mahasiswi Undip.

Iya, memang kan basic-nya kita dari Tembalang. Jadi, konsumen lebih banyak yang berdomisili di Tembalang. Tapi kita juga melayani orderan dari luar Tembalang,” katanya.

Ditambahkan, jam operasional Jukri-Jek dimulai pukul 06.00 pagi hingga 21.00. Hal itu untuk menjamin keamanan dari para driver gojek yang notabene semuanya perempuan dan masih berstatus mahasiswi.

Selain mengantar penumpang, Jukri-Jek juga melayani pesan antar makanan. Tak hanya itu, Jukri sendiri pernah direkomendasikan untuk menjadi tour guide seorang dosen dari Surabaya. “Waktu itu pernah diminta sama dosenku untuk jadi tour guide temannya. Selama dua hari, aku antar dan jemput serta aku ajak keliling Kota Semarang. Padahal aku juga bukan orang Semarang asli. Tapi, sedikit paham seluk-beluk Kota Semarang,” ujarnya.

Diakui, beberapa kali para driver Jukri-Jek mendapat penumpang laki-laki. Namun dengan halus, mereka menolaknya. “Kita jelaskan kalau usaha ojek ini hanya dikhususkan untuk perempuan saja,” katanya. (*/aro)