Pedagang Barito Pecah

Ada yang Pro dan Kontra Relokasi

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

SEMARANG- Selain pedagang Barito Blok A-H yang menyatakan menolak relokasi, sebagian pedagang Barito mulai Jembatan Kartini (Citarum) hingga Kaligawe juga belum sepakat dengan rencana relokasi ke Pasar Klitikan Penggaron. Namun ada sebagian pedagang yang menerima dengan lapang dada, karena merasa lahan yang ditempati adalah milik Pemkot Semarang.

“Memang ada sebagian menolak (relokasi), tapi sebagian menerima. Ya, ada yang pro dan ada yang kontra. Saya pribadi manut saja. Lha mau menolak bagaimana, kami ini kan memang menempati tanah milik pemerintah,” kata salah satu pedagang jasa pelurusan pipa besi di Barito (Citarum-Kaligawe), Mathori, 55, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (31/8).

Ia mengaku akan legowo dan menerima apapun keputusan Pemkot Semarang. “Direlokasi ya ndak papa. Tapi kan sekarang tempat relokasi di Pasar Klitikan Penggaron belum selesai dibangun. Prinsipnya, saya pribadi manut,” ujarnya.

Mathori juga mengakui, bila tempat relokasi di Pasar Klitikan Penggaron tidak bakal mampu memuat barang seperti lonjoran besi.

“Bisa dilihat sendiri barang-barang saya ini panjang-panjang, apalagi ukuran luas di sana cuma 3×3 meter persegi. Jelas tidak muat untuk ukuran penempatan pedagang Barito. Karena hampir semua pedagang Barito membutuhkan lokasi luas. Tiga atau empat kios di Pasar Klitikan Penggaron kalau diperuntukkan satu pedagang, itu baru muat,” katanya.

Di Barito mulai Citarum hingga Kaligawe, rata-rata didominasi pedagang industri perkayuan, industri besi dan kaleng. Meski demikian, lanjut dia, pedagang Barito tidak punya pilihan lain. Apalagi kalau tidak menempati kios di relokasi bakal terancam tidak mendapatkan tempat. Untuk menyiasati kondisi itu, kata dia, perlu memiliki gudang tersendiri. “Saya sendiri sudah punya tempat untuk menyimpan barang,” akunya.

Dikatakannya, untuk pedagang Blok A-H di Kelurahan Karang Tempel yang menolak relokasi karena memang mereka tercatat resmi. Sebab, mereka menempati lahan pemerintah karena memang dulunya direlokasi oleh pemerintah dan ditempatkan di lokasi tersebut.

“Apalagi omzetnya juga sangat besar, bisa mencapai miliaran. Terutama di kelompok elektronik tape, sepeda, dan onderdil kendaraan. Beda kalau di sini memang tumbuh sendiri, awalnya bukan relokasi. Dulu nenempati di sini hanya izin guna di kelurahan,” katanya.

Ketua Paguyuban Pedagangan Karya Mandiri Barito Blok A-H, Rahmat Yulianto, mengatakan pihaknya mengaku belum ada informasi secara resmi mengenai kapan dilakukan relokasi.

“Saya tekankan kepada pemerintah, bukan dari segi aspek pembangunan, tapi aspek sosial betul-betul dipertimbangkan. Nasib 5.000 orang ini bagaimana? Karena setelah pindah itu butuh waktu 5-6 tahun untuk menjadikan kondisi jual beli di tempat baru tersebut agar bisa hidup. Jelas, butuh perjuangan yang tidak sebentar,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya meminta pertimbangan betul dari pemerintah agar Barito tidak direlokasi. Pedagang meminta agar dilakukan penataan menjadi pasar modern seperti halnya penataan Pasar Kembang Kalisari Semarang. “Saya mohon sekali lagi agar mempertimbangkan lagi rencana relokasi tersebut. Kami juga akan mengusulkan desain untuk penataan bagi Blok A-H dalam waktu dekat,” katanya.

Sementara itu, sebagian bangunan rumah liar yang berdiri di tanggul Sungai Banjir Kanal Timur, mulai dilakukan pembongkaran. Tampak atap dan dinding rumah sudah mulai dirobohkan. Tetapi kerangka rumah masih berdiri. Sementara belum diketahui di mana para penghuni rumah tersebut pindah. Namun sejumlah bangunan liar lain masih banyak yang belum dibongkar.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan, ada enam titik yang digunakan sebagai pintu masuk alat berat. Namun baru dua titik yang telah dibuka, yakni di Jalan Kartini Kelurahan Karang Tempel, dan ujung Kaligawe, Kelurahan Mlatiharjo.

“Sejauh ini tetap kondusif, PKL akan direlokasi di Pasar Klitikan Penggaron. Sedangkan penghuni liar akan direlokasi ke rumah susun sewa (rusunawa),” ujarnya. (amu/aro

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -