Bekraf Baru Fasilitasi Lima Sertifikasi

Dari 16 Subsektor Ekonomi Kreatif

SEMARANG – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia saat ini baru bisa memfasilitasi lima subsektor ekonomoi kreatif dari total 16 subsektor yang ada di Indonesia dengan cara menggarap sistem informasi  sertifikasi profesi dan bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (KHI) dan Regulasi Bekraf RI, Ari Juliano Gema, mengatakan, jika digarapnya sistem informasi tersebut, nantinya akan mempermudah masyarakat atau pelaku ekonomi kreatif dalam mencari informasi mengenai sertifikasi profesi untuk memperkuat kompetensinya.

“Ada total 16 subsektor ekonomi kreatif, di antaranya musik, film, aplikasi komputer, kriya, kuliner, dan sebagainya. namun saat ini baru ada lima subsektor yang bisa kami fasilitasi,” katanya di sela diskusi Pengembangan Sistem Informasi Standardisasi Kompetensi Profesi Bidang Ekonomi Kreatif yang berlangsung di Hotel Grand Edge Semarang, Kamis (31/8).

Kelima subsektor yang telah berhasil difasilitasi tesebut adalah pembatik atau pengrajin batik, fotografi, barista atau peracik kopi, animasi, dan digital artis yang berkaitan dengan desain melalui sistem di komputer. Di tahun kerja sama dengan UNNES ini, pihaknya siap menggenjot di bidang sistem informasi agar 11 subsektor yang belum bisa tercover bisa difasilitasi.

Sistem informasi itu akan memuat berbagai informasi mengenai sertifikasi profesi, mulai asesornya, lembaga sertifikasi profesi (LSP), hingga jadwal sertifikasi dilangsungkan,” bebernya.

Kerja sama dengan UNNES sendiri terbagi beberapa tugas, yakni penyusunan kerangka yang dikerjakan oleh UNNES, dan  Bekraf yang mengisi konten-kontennya sesuai dengan 16 subsektor ekonomi kreatif yang terus didorong pengembangannya oleh pemerintah.

“Dengan sistem ini, harapannya bisa mengover semua subsektor. Selain itu juga membantu pelaku ekonomi kreatif, salah satunya terkait informasi pendukung LSP di sekitar, jadwal, dan yang lainnya,” tuturnya.

Ia menerangkan, dalam memfasilitasi sertifikasi profesi, Bekraf selalu menggelar pelatihan sebelum menguji atau memberikan sertifikasi. Sehingga tingkat kelulusannya sangat selektif dan kompetensinya benar-benar teruji.

Meski sertifikat profesi memang belum diwajibkan oleh para pemberi kerja atau perusahaan, tetapi sudah banyak yang lebih mempercayai mereka yang memiliki sertifikat profesi. “Contohnya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan pernah menggelar pameran batik. Mereka mencari pembatik-pembatik yang sudah memiliki sertifikat profesi dari Bekraf,” tambahnya.

Rektor UNNES Prof Fathur Rokhman mengatakan, kerja sama pertama dengan Bekraf pada tahun kedua ini  mengenai pendataan potensi ekonomi kreatif secara nasional atau di seluruh Indonesia dengan membuat sistem ekonomi kreatif sebagai panduan penggiat ekonomi kreatif.

“Dari sektor ini, ada  peningkatkan nilai ekonomi produk. Apalagi mereka dipandu oleh sistem. Contohnya saja yang  ingin mengembangkan kriya bagaimana, sinematografi bagaimana caranya, dan sebagainya,” katanya. (den/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here