PANEN RAYA : Sabit milik Gubernur Jateng, Ganjar Pronowo lepas dari gagangnya saat ikut panen raya padi Jajar Legowo Super di Batang, Rabu (30/8) kemarin (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PANEN RAYA : Sabit milik Gubernur Jateng, Ganjar Pronowo lepas dari gagangnya saat ikut panen raya padi Jajar Legowo Super di Batang, Rabu (30/8) kemarin (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

BATANG-Gubernur Jateng, Ganjar Pronowo mengaku heran dengan adanya beberapa kepala daerah yang kena OTT (Operasi Tangkap Tangan) oleh KPK. Padahal, dirinya mengaku tidak pernah menerima setoran dari bawahannya, termasuk dari para bupati dan wali kota di Jawa Tengah.

Hal tersebut, ditegaskan Gubernur dari PDIP, saat bertemu ratusan petani dan masyarakat Batang saat acara panen raya padi Jajar Legowo Super Dalam Mendukung Swasembada Pangan di Batang. “Saya tidak pernah minta setoran apapun kepada bawahan. Jadi, saya heran masih ada pejabat yang kena OTT (Operasi Tangkap Tangan) oleh KPK,” ucapnya, Rabu (30/8) kemarin.

Ganjar menyatakan prihatin karena masih ada pejabat di Jateng (Wali Kota Tegal, red) yang terkena OTT oleh KPK. Oleh karena, dirinya mengajak pejabat harus bisa menata diri dan tidak nyolongan. “Jika masih banyak yang nyolongan, maka saya mendukung KPK untuk sering-sering ke Jawa Tengah melakukan OTT,” tegasnya lagi.

Padahal, disebutkan Ganjar, pasca dilakukan pelantikan dulu, dirinya langsung mengantar pemimpin daerah tersebut ke KPK. Agar tahu mana yang bisa dan mana yang tidak. Bahkan disuruh memperbaiki e-planning dan budgeting, serta ditegaskan bahwa gratisivikasi adalah korupsi.

“Namun, jika masih ada kepala daerah yang ngeyel dan ndablek, seperti melakukan jual beli jabatan dan memberikan tambahan gaji pada pegawai, saya mempersilahkan KPK terus turun ke Jawa Tengah,” katanya.

Terkait kondisi terkini kasus OTT oleh KPK terhadap Wali Kota Siti Masitha Suparno yang diduga terlibat kasus korupsi, Ganjar mengaku akan segera datang ke Kota Tegal. Sedangkan Pemprov Jateng tinggal menunggu prosesnya untuk segera ditetapkan Pelaksana Tugas Wali Kota Tegal. “Jika begitu kasusnya, sudah jelas dan sudah ditetapkan tersangka, maka kami segera siapkan Plt Wali Kota Tegal,” tandasnya.

Terkait kunjungannya di Batang, Ganjar mengatakan produksi padi Inpari 33 dengan teknologi Jajar Legowo Super bisa meningkatkan produktivitas. Untuk itu, jika bisa panen mencapai 9,8 ton/hektare gabar kering giling, maka teknologi Jajar Legowo sangat bisa direkomendasikan untuk para petani lainnya. “Tadi saja petani Batang memiliki lahan sawah 7.500 meter, dari rata – rata 4 hektare bisa mencapai hasil 6 ton lebih padi kering giling,” kata Ganjar.

Disampaikan juga, menindaklanjuti panen yang bagus, juga akan disinkronkan dengan harga jual yang bagus. Jika selama ini petani jualan dengan harga HPP Rp 3700 dengan spek tertentu, kini bisa dibeli Rp 5000 oleh Bulog.

“Maka penyuluh, Dinas Pertanian dan para kelompok petani harus punya akses terhadap Bulog, sehingga pada saat panen harga bisa baik. Maka, inilah kelebihan terintegrasi sebuah proses untuk meningkatkan produktivitas padi sehingga petani mendapatkaan keuntungan sesui dengan apa yang di harapkan,” jelas Ganjar.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian ( BPTP ) Jawa Tengah Harwanto mengatakan bahwa pihaknya mempunyai tugas mendorong dan mendukung pertanian yang bersinergi dengan dinas pertanian, BPS dan Bulog untuk meningkatkan produktivitas pertanian sehingga dapat terwujud swasembada pangan.

“Kami punya teknologi dalam rangka menuju swasembada pangan atau menuju lumbung pangan dunia yang merupakan visinya Presiden kita. Metode teknologi Jajar Legowo sudah buktikan di Provinsi Jateng di sawah seluas 1030 hektare yang tersebar di 8 kabupaten dan Batang salah satunya,” katanya.

Bupati Batang Wihaji mengatakan bahwa petani di Batang inginnya cepet panen, modalnya kecil dan bisa utang dengan gampang. “Petani inginnya pokoke cepet, rasah nganggo obat, panen akeh, hasile gede, regane larang. Ini tentunya susah,” kata Wihaji.

Wihaji juga berharap dari Dinas Pertanian, Penyuluh untuk mencoba menjelaskan bagaiman varietas baru dengan menggunakan teknologi metode Jajar Legowo berpotensi menghasilkan panen yang luar biasa. (han/ida)