Selamatkan Budaya Jawa

591
Heri Pudyatmoko. (Istimewa)

SEMARANG – DPRD mengajak generasi muda untuk terus melestarikan budaya jawa. Terutama di tengah era teknologi seperti sekarang yang bisa menggerus kebudayaan jawa tersebut.

Budaya Jawa memiliki nilai-nilai dan filosofi luhur, bila dijalankan secara konsisten dan konsekuen akan membawa banyak manfaat dan kemajuan bangsa. Generasi muda dan semua kalangan harus ikut aktif untuk melestarikan budaya Jawa yang sekarang ini sudah mulai luntur. “Kita harus melestarikan budaya jawa, karena itu bagian dari sejarah,” kata Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

Ia menambahkan, banyak kebudayaan jawa yang dimiliki, tak terkecuali di Jateng. Tetapi diakui tidak keberadaanya sudah tidak banyak diminati generasi muda. Salah satunya seni wayang kulit yang sudah lama menyebar di kalangan masyarakat. Padahal, melalui wayang, pesan luhur kebudayaan Jawa disampaikan tanpa kesan menggurui. “Wayang bukan sekadar tontonan tapi merupakan sarana untuk menyampaikan tuntunan,” ujarnya.

Ia berharap, masyarakat lebih senang dengan acara pagelaran wayang. Pemerintah baik provinsi maupun kabupaten/kota juga harus mendukung agar keberadaan wayang bisa terus dijaga kelestariannya. “Masyarakat juga bisa memperbarui semangat Trisakti. Yakni, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadiaan dalam kebudayaan,” tambahnya.

Ketua Komisi E DPRD Jateng, Alamsyah Satyanegara Sukawijaya tidak menampik jika keberadaan budaya jawa mulai luntur. Anak-anak muda lebih suka dengan budaya modern yang membuat budaya jawa kurang diminati. Hal itu jug amasih ditambah peran pemerintah yang belum sepenuhnya memberikan dukungan penuuh. “Ini masalah  bersama, kami berharap generasi muda terus melestarikan budaya jawa,” katanya.

Ia mencontohkan di Kota Semarang masih ada Grup Wayang Orang Ngesti Pandowo. Tetapi dalam prakteknya, Pemprov belum mensupport penuh. Padahal perannya cukup besar untuk ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan masyarakat Jateng. Terlebih Grup Wayang Orang “Ngesti Pandowo” sudah berdiri sejak 1937 dan masih tetap eksis meski tidak mendapatkan bantaun dari Pemprov Jateng. “Grup Wayang Orang “Ngesti Pandowo sudah merupakan aset pemprov, jadi harus ada intervensi. Apalagi perannya sebagai ujung tombang wayang orang di Jateng jadi harus mendapat support penuh,” tambahnya. (fth/zal)