PENDIDIKAN : Dosen UM Magelang Purwati saat melaksanakan kegiatan pendampingan di TPA Kota Magelang, beberapa waktu lalu (ISTIMEWA).
PENDIDIKAN : Dosen UM Magelang Purwati saat melaksanakan kegiatan pendampingan di TPA Kota Magelang, beberapa waktu lalu (ISTIMEWA).

MAGELANG—Kegiatan pengabdian masyarakat terus dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang. Salah satunya, perbaikan kualitas sejumlah tempat pendidikan anak (TPA) di Kota Magelang melalui skim Iptek Bagi Masyarakat (IbM). Kegiatan ini dimotori oleh Purwati, dosen PG PAUD FKIP UM Magelang. Program ini didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Dikti tahun 2017.

IbM diterapkan di Yayasan Ibu dan TPA Rumah Teman Anak di Kota Magelang. Purwati bekerja sama dengan Dr. Muhammad Japar, M.Si, Kons, dosen Prodi Bimbingan Konseling (BK) FKIP UM Magelang. Purwati mengawali kegiatan dengan melakukan pemetaan tiga permasalahan. Yakni, SDM yang belum kompeten, sarana-prasana pembelajaran, dan bermain yang kurang memadai. Serta, manajemen adiministrasi dan keuangan yang belum memenuhi standar pengelolaan yang baik.

Bersama Japar, Purwati lalu menerapkan model pemberdayaan masyarakat partisipatif Participatory Rural Apraisal (PRA). “Metode ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa yang mempunyai atau menghadapi masalah adalah mitra. Karena itu, keterlibatan mitra dalam penentuan pemecahan masalah yang dihadapi dan penyelesaiannya, sangat diperlukan.”

Dua doktor itu lantas menerapkan tiga tahap metode. Yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan. Purwati menjelaskan, tahap persiapan dimulai dengan sosialisasi kegiatan, persyaratan menjadi pengasuh atau pendamping TPA, dan manajemen TPA. Termasuk, manajemen administrasi dan keuangan.

Tahap kedua, kegiatan pelatihan dan pendampingan. Pada tahap ini, beberapa kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan. Adapun tahap terakhir, penyusunan laporan kemajuan, artikel ilmiah untuk keperluan publikasi, laporan akhir, dan draf buku ajar. Beberapa pihak dilibatkan untuk memberikan informasi tentang mitra yang perlu dilakukan pembinaan dan pendampingan. Serta, upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangkaian pengembangan TPA.

Mitra tersebut adalah Himpaudi yang bersama-sama dengan tim pengusul melakukan pendampingan. Juga pembinaan kepada TPA mitra. Purwati berharap, output dari kegiatan tersebut adalah menghasilkan tenaga pengasuh dan pendidik yang kompeten. Yakni, berkompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial, dan tersedianya kurikulum pengasuhan anak yang mengacu pada regulasi pemerintah. Yaitu, kurikulum 2013 dan berbasis pada budaya lokal.

Juga tersedianya sarana-prasarana bermain dan belajar untuk optimalisasi perkembangan anak. “Yang tidak kalah penting adalah menghasilkan draf buku ajar tentang model pembelajaran anak usia dini yang di dalamnya mengupas berbagai hal tentang TPA.” (sct/vie/isk)