IKON PILGUB: Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah melaunching penyelenggaraan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2018, di halaman Gedung Lawang Sewu, Selasa (29/8) (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang).
IKON PILGUB: Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah melaunching penyelenggaraan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2018, di halaman Gedung Lawang Sewu, Selasa (29/8) (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang).

SEMARANG – Menjelang Pilkada, biasanya muncul ‘serangan’ yang membidik pasangan calon (paslon). Ada saja isu yang dikembangkan untuk mencoreng nama kandidat. Salah satu contohnya adalah isu SARA yang diangkat pada Pilgub DKI lalu.

Karena itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menjelaskan, belajar dari pengalaman pesta demokrasi yang sudah-sudah, dia berharal masyarakat bisa makin cerdas. Mau berpartisipasi menghindari hal-hal negatif.

“Seperti ujaran kebencian, fitnah-fitnah yang tidak penting, apalagi mengorganisasikan diri dalam kelompok fitnaher,” terangnya saat memberikan sambutan dalam sosilisasis sekaligus peluncuran maskot dan jinggle Pilgub Jateng 2018 di Lawang Sewu Semarang, Selasa (29/8) malam.

Dia pun mengajak masyarakat untuk memilih calon pemimpin berdasarkan program kerja yang menjadi visi-misi paslon. Tidak termakan isu, terutama soal SARA. “Jangan sampai isu itu membuat pemilih, maaf, menjadi bodoh,” imbuhnya.

Orang nomor satu di Jateng ini meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng menyediakan banyak panggung sebagai tempat kandidat berdebat. Dengan begitu, publik akan punya referensi untuk menentukan pilihan. “Saya harap, televisi dan perguruan tinggi juga menyediakan tempat paslon untuk memamarkan program-program mereka,” harapnya.

Pada sosisasi malam itu, KPU Jateng memilih sosok dunia pewayangan sebagai maskot Pilgub 2018 mendatang. Yaitu pentolan Punakawan, Semar.

Ketua KPU Jateng, Joko Purnomo menjelaskan, dipilihnya sosok Semar sebagai maskot Pilgub 2018 telah melewati berbagai pertimbangan. Belajar dari Pilgub 2013 lalu, KPU memilih tokoh Werkudara. “Jadi Pilgub ini, kami masih menggunakan tokoh pewayangan,” terangnya.

Semar adalah tokoh Punakawan atau abdi paling utama dalam pewayangan. Tokoh ini sebagai pengasuh sekaligus sebagai penasehat para kesatria.

Secara fisik, sosok Semar bukan pria atau wanita. “Memang jenis kelaminnya laku-laki tapi memiliki payudara seperti perwmpian. Ini adalah simbol pria dan wanita,” terangnya.

Semar berambut kuncung seperti anak-anak yang sebagai aku-nya sang luncung, yakni sbg pribadi pelayanan, tanpa pamrih. “Kalau rambut di maskot sengaja dibuat warna abuabu untuk menggambarkan semangat anak muda,” katanya.

Dengan tokoh Semar atau sebutan Ki Lurah Badranaya dengan segala karakternya, diharapkan penyelenggaraan Pilgub dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk menjadikan peata  demokrasi yang bersih dan berinegritas. “Hal tersebut juga yang melatarbelakangi kenapa kita memilih tagline “Becik Tur Nyenengke”.

Kita berharap Pilgub 2018 menjadi saat yang menggemberikan bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah, karena telah diberikan wewenang sebagai ‘hakim’ untuk secara merdeka, memilih dan memutuskan pimpinan Jateng untuk 5 tahun ke depan,” paparnya.

Karena itu, dia berharap, dalam Pilgub tidak boleh ada tekanan, intimidasi, atau hal lain yang mengganggu kemerdekaan pemilih. Termasuk ancaman dan politik uang. (amh/zal)