33 C
Semarang
Jumat, 3 Juli 2020

Isu SARA Jangan Bikin Pemilih Jadi Bodoh

Another

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

SEMARANG – Menjelang Pilkada, biasanya muncul ‘serangan’ yang membidik pasangan calon (paslon). Ada saja isu yang dikembangkan untuk mencoreng nama kandidat. Salah satu contohnya adalah isu SARA yang diangkat pada Pilgub DKI lalu.

Karena itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menjelaskan, belajar dari pengalaman pesta demokrasi yang sudah-sudah, dia berharal masyarakat bisa makin cerdas. Mau berpartisipasi menghindari hal-hal negatif.

“Seperti ujaran kebencian, fitnah-fitnah yang tidak penting, apalagi mengorganisasikan diri dalam kelompok fitnaher,” terangnya saat memberikan sambutan dalam sosilisasis sekaligus peluncuran maskot dan jinggle Pilgub Jateng 2018 di Lawang Sewu Semarang, Selasa (29/8) malam.

Dia pun mengajak masyarakat untuk memilih calon pemimpin berdasarkan program kerja yang menjadi visi-misi paslon. Tidak termakan isu, terutama soal SARA. “Jangan sampai isu itu membuat pemilih, maaf, menjadi bodoh,” imbuhnya.

Orang nomor satu di Jateng ini meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng menyediakan banyak panggung sebagai tempat kandidat berdebat. Dengan begitu, publik akan punya referensi untuk menentukan pilihan. “Saya harap, televisi dan perguruan tinggi juga menyediakan tempat paslon untuk memamarkan program-program mereka,” harapnya.

Pada sosisasi malam itu, KPU Jateng memilih sosok dunia pewayangan sebagai maskot Pilgub 2018 mendatang. Yaitu pentolan Punakawan, Semar.

Ketua KPU Jateng, Joko Purnomo menjelaskan, dipilihnya sosok Semar sebagai maskot Pilgub 2018 telah melewati berbagai pertimbangan. Belajar dari Pilgub 2013 lalu, KPU memilih tokoh Werkudara. “Jadi Pilgub ini, kami masih menggunakan tokoh pewayangan,” terangnya.

Semar adalah tokoh Punakawan atau abdi paling utama dalam pewayangan. Tokoh ini sebagai pengasuh sekaligus sebagai penasehat para kesatria.

Secara fisik, sosok Semar bukan pria atau wanita. “Memang jenis kelaminnya laku-laki tapi memiliki payudara seperti perwmpian. Ini adalah simbol pria dan wanita,” terangnya.

Semar berambut kuncung seperti anak-anak yang sebagai aku-nya sang luncung, yakni sbg pribadi pelayanan, tanpa pamrih. “Kalau rambut di maskot sengaja dibuat warna abuabu untuk menggambarkan semangat anak muda,” katanya.

Dengan tokoh Semar atau sebutan Ki Lurah Badranaya dengan segala karakternya, diharapkan penyelenggaraan Pilgub dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk menjadikan peata  demokrasi yang bersih dan berinegritas. “Hal tersebut juga yang melatarbelakangi kenapa kita memilih tagline “Becik Tur Nyenengke”.

Kita berharap Pilgub 2018 menjadi saat yang menggemberikan bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah, karena telah diberikan wewenang sebagai ‘hakim’ untuk secara merdeka, memilih dan memutuskan pimpinan Jateng untuk 5 tahun ke depan,” paparnya.

Karena itu, dia berharap, dalam Pilgub tidak boleh ada tekanan, intimidasi, atau hal lain yang mengganggu kemerdekaan pemilih. Termasuk ancaman dan politik uang. (amh/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Undha Usuking Basa dalam Bahasa Jawa

RADARSEMARANG.COM - BAHASA Jawa memiliki peranan penting dalam pengembangan budi pekerti budaya Jawa, intelektual, sosial dan emosional anak, serta untuk mendukung Bahasa Indonesia. Percakapan...

Beri Pelatihan 30 Siswa Kurang Mampu

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sebanyak 30 siswa di SMAN 14 Semarang kurang mampu mendapatkan kegiatan pelatihan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota...

DPU Ajukan Lelang Proyek

DEMAK-Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Demak berupaya keras agar tahapan lelang proyek pembangunan dapat segera diselesaikan. Kini, DPU kembali mengusulkan tahapan lelang tersebut melalui...

Bukannya Jera, Ulangi Lagi Saat Bebas

RADARSEMARANG.COM - Para pelaku kejahatan yang masih kategori anak-anak atau berusia di bawah 18 tahun (berdasarkan UU yang berlaku), seharusnya diperlakukan khusus sesuai hak...

Hujan, Pawai Ogoh-Ogoh Tetap Meriah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-Ogoh berlangsung meriah, Minggu (25/3). Meski sempat diguyur hujan, pawai tetap disambut antusias warga Semarang...

Kejurda Karate, Ajang Seleksi Atlet

SEMARANG-Sebanyak 612 peserta dari 37 kontingen dari kabupaten dan kota di Jawa Tengah meramaikan Turnamen Karate yang berlangsung di Gedung Olah Raga (GOR) Patriot...