DIPERIKSA: Kesehatan hewan yang diperjualbelikan di pasar Wonolelo diperiksa Tim Kesehatan Hewan (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU).
DIPERIKSA: Kesehatan hewan yang diperjualbelikan di pasar Wonolelo diperiksa Tim Kesehatan Hewan (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU).

WONOSOBO–Hewan-hewan kurban yang dijual di sejumlah pasar hewan, kemarin, didatangi tim dari Dinas Pangan Pertanian Perikanan dan Peternakan. Tim Kesehatan Hewan (Keswan) dari Bidang Peternakan menggandeng jajaran kepolisan untuk mengawasi hewan-hewan kurban.

Heri Kuswanto, dokter hewan yang menjadi bagian tim mengatakan, upaya antisipatif perlu dilakukan. Tujuannya, menghindarkan konsumen yang ingin menunaikan ibadah kurban dari kerugian akibat membeli hewan yang tidak layak konsumsi.

“Sesuai persyaratan hewan kurban, kami memeriksa antemortem hewan. Meliputi kesehatan, kondisi bulunya, nafsu makannya, sampai suhu tubuh dan agresivitas gerakan.” Selain itu, hewan yang hendak dikurbankan juga harus diperiksa; apakah cacat, semisal buta, pincang, maupun kerusakan pada telinga. Tidak kalah penting, syarat usia minimal hewan kurban. Untuk memastikan hewan kurban cukup umur, tim melakukan pemeriksaan pada gigi hewan.

Selain memeriksa kesehatan hewan, Tim Keswan juga mengimbau pedagang maupun konsumen agar tidak menyembelih hewan berkategori ternak ruminansia besar. “Sesuai Undang-Undang tentang peternakan dan kesehatan hewan Nomor 41 Tahun 2014, ada larangan memotong hewan betina produktif alias ternak ruminansia,” jelas Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Mahargono.

Kategori ternak yang dilarang dipotong adalah sapi atau kerbau betina yang berumur di bawah 8 tahun, memiliki alat reproduksi normal; dan atau tidak mengalami kemajiran permanen. Juga sapi atau kerbau yang tidak sedang dalam keadaan bunting. Pelanggaran terhadap ketentuan pemotongan hewan kategori ternak ruminansia, dapat diancam pidana penjara paling sedikit satu tahun. Dan, denda paling sedikit Rp 100 juta. (cr2/isk)