Elpiji Kimia Yasa Sasar Semarang

Tabung Putih, Harga Lebih Murah

1853
LEBIH MURAH: Seorang pekerja tengah mengisi elpiji GasPluz tabung putih 50 kg di SPBE PT Kimia Yasa Kawasan Industri Wijaya Kusuma, Tugu, Semarang, kemarin (ARIF RIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
LEBIH MURAH: Seorang pekerja tengah mengisi elpiji GasPluz tabung putih 50 kg di SPBE PT Kimia Yasa Kawasan Industri Wijaya Kusuma, Tugu, Semarang, kemarin (ARIF RIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG- Elpiji tabung putih merek GasPluz mulai menyasar pasar Jateng dan DI Jogjakarta. Elpiji yang diproduksi perusahaan swasta murni, yakni PT Kimia Yasa ini dikemas dalam tabung 9 kg dengan harga Rp 90 ribu-Rp 95 ribu, serta tabung 50 kg dengan harga Rp 510 ribu-Rp 515 ribu per unit. Harga tersebut relatif lebih murah dibanding gas elpiji nonsubsidi yang saat ini beredar.

Direktur PT Kimia Yasa, Mohammad Nasaruddin, mengatakan, produknya sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Ditjen Minyak dan Gas Bumi. Saat ini peredarannya meliputi wilayah Jakarta, Jateng, Jatim dan Bali.

“Produk kami sudah mendapatkan lisensi dan sudah memenuhi syarat dari Ditjen Migas. Kami murni swasta, tidak ada kaitannya elpiji subsidi,” ujar Mohammad Nasaruddin kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (29/8).

Diakuinya, belakangan sempat ada pemberitaan mengenai beredarnya produk elpiji Kimia Yasa yang diistilahkan tabung putih di pasaran dengan harga murah, sehingga kemudian dicurigai sebagai elpiji ilegal ataupun hasil ‘suntikan’ dari elpiji bersubsidi.

Nasaruddin menjelaskan, harga GasPluz relatif lebih murah dibanding gas nonsubsidi, lantaran bahan baku elpiji dibeli langsung dari plant di Gresik, serta dikemas dan dipasarkan langsung sendiri kepada para pelanggan. “Rantai distribusinya lebih pendek, sehingga harga bisa lebih murah,” katanya.

Dikatakan, baru September 2016 lalu dihadirkan produk dalam kemasan tabung di Semarang, dan Februari 2017 di Jogjakarta. Sebelumnya, elpiji nonsubsidi PT Kimia Yasa dipasarkan langsung ke sektor industri menggunakan tangki sesuai kebutuhan.

“Kalau memang dinilai murah, ya Alhamdulillah. Yang penting, elpiji yang kami pasarkan telah memenuhi standar. Tabung yang digunakan juga memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Tidak sembarangan,” tegasnya.

Soal aroma gas yang sama dengan produk elpiji subsidi, Nasaruddin mengatakan semua proses produksi elpiji dilakukan di plant swasta di Gresik. “Ya, termasuk penambahan methyl merchaptant (odorant elpiji), ini agar aroma elpiji mudah terdeteksi jika terjadi kebocoran. Semuanya sudah sesuai dengan standar yang ditentukan Ditjen Migas,” jelasnya.

Branch Manager PT Kimia Yasa Jateng-DIJ, Abraham, menambahkan, pasar GasPluz  sementara ini  baru di Kota Semarang dan Jogjakarta. Dalam sebulan, rata-rata 500-1000 tabung elpiji 50 kg terjual. Pangsa pasarnya dunia industri yang mencapai 50 persen, sisanya restoran dan hotel. “Kami belum menyasar konsumen rumah tangga. Fokusnya masih industri, restoran dan hotel,” ucapnya.

Abraham mengatakan, produk elpiji PT Kimia Yasa di setiap wilayah dibikin berbeda merek, seperti GasPluz khusus di Jateng-DIJ dan GoGazku di Jatim. “Tujuannya untuk mengantisipasi peredaran produk sama ke luar daerah. Sehingga jika ada marketing kami yang menjual lintas provinsi akan terdeteksi,” katanya. (aro)