12 Calhaj Jateng Meninggal di Tanah Suci

252

SEMARANG – Hingga 27 Agustus 2017, sebanyak 12 jamaah calon haji (calhaj) asal Jateng meninggal di Arab Saudi. Berdasarkan diagnosa tim kesehatan, kebanyakan disebabkan serangan jantung. Mereka dimakamkan di Arab Saudi dan tidak dipulangkan ke Indonesia.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Jateng, Sholikhin, mengungkapkan, sebenarnya terdapat 13 orang yang telah meninggal di musim haji tahun ini dari embarkasi Solo. “Tapi yang satu sudah meninggal ketika di Asrama Haji Donohudan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (29/8).

Sholikhin menambahkan, tahun ini terdapat 33.892 jamaah terbagi dalam 95 kloter melalui Embarkasi Solo. Semuanya sudah diberangkatkan ke Tanah Suci mulai 28 Juli sampai 26 Agustus 2017 lalu. Rinciannya, 30.244 jamaah dari Provinsi Jateng, 3.174 jamaah dari Daerah Istimewa Jogjkarta (DIJ), dan 474 petugas haji.

Sekretaris Komisi A DPRD Jateng, Ali Mansyur HD, yang juga pernah menjadi Tim Pembimbing Haji Daerah (TPHD), mengatakan, memang faktor cuaca berpengaruh pada kekuatan fisik para jamaah haji. Maka sebelum berangkat diperlukan persiapan fisik secara baik.

“Calon jamaah haji sebelum berangkat mesti diberi informasi riil di sana, sehingga dia bisa mempersiapkan diri dengan latihan fisik ringan. Misalnya, jalan santai di rumah, kebiasaan itu ketika di sana akan bisa lebih mudah,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, idealnya berhaji adalah di usia 40-50 tahun. Namun dengan situasi saat ini, yakni masa tunggu yang cukup lama, memang tidak memungkinkan. Meskipun saat ini pemerintah sudah membuat kebijakan dengan mendahulukan calon yang usianya sudah lanjut.

“Fakta di lapangan tidaklah ringan. Apalagi yang mendapatkan penginapan yang agak jauh dengan Masjidil Haram dan jauh dari Masjid Nabawi. Kalau di Masjidil Haram memang ada bus yang berputar saat jam salat, saya alami sendiri yang terkadang harus berdesak-desakan,” ungkapnya.

Mansyur juga berharap, ada penambahan petugas medis di setiap kloter. Sebab, yang terjadi, setiap kloter yang berisi sekitar 300 orang hanya ada satu dokter dan dua paramedis. Perlu ada penambahan petugas medis dalam setiap kloter.

Sedangkan untuk para petugas medis, imbuhnya, juga harus menjalankan fungsinya secara proporsional. Harus menempatkan tugasnya sebagai petugas medis dibanding kepentingan pribadi, yakni berkesempatan melakukan ibadah haji. “Kan petugas itu rata-rata juga menjalankan ibadah haji, makanya mereka juga harus tahu porsinya. Sehingga jika ada penanganan darurat, jamaah lain bisa tertangani dengan cepat,” tegasnya. (amh/aro)