Progres Pasar Klitikan Baru 21 Persen

9 Desember Harus Selesai

485
LAMBAN: Pembangunan Pasar Klitikan Penggaron yang progresnya masih 21 persen. (Inzet) Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, saat sidak, kemarin (DIKA ALDIAH/ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
LAMBAN: Pembangunan Pasar Klitikan Penggaron yang progresnya masih 21 persen. (Inzet) Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, saat sidak, kemarin (DIKA ALDIAH/ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG Penyediaan tempat relokasi untuk ribuan pedagang kaki lima (PKL) bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) dinilai lamban. Pasalnya, pembangunan Pasar Klitikan Penggaron yang sedianya dijadikan tempat relokasi hingga sekarang belum selesai dibangun.

Bahkan, progres pembangunannya baru mencapai 21 persen. Padahal target batas akhir pada 9 Desember 2017 mendatang harus sudah selesai. Dinas Perdagangan Kota Semarang terus memantau pembangunan pasar klitikan tersebut agar proyek tidak meleset. PT Proteknika Jasa Pratama selaku kontraktor yang mengerjakan Pasar Klitikan Penggaron terus didesak agar pembangunan dikebut.

“Kami cek untuk memastikan bahwa pemenang lelang yang mengerjakan proyek pembangunan Pasar Klitikan Penggaron bisa menyelesaikan tepat waktu. Targetnya 9 Desember 2017 harus bisa selesai. Saya minta percepatan, mudah-mudahan akhir November sudah selesai,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, saat meninjau lokasi proyek pembangunan Pasar Klitikan Penggaron, Senin (28/8).

Setelah pembangunan tersebut selesai, pihaknya akan segera menyosialisasikan kepada para pedagang yang terdampak dalam proyek normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT), yakni mulai dari Barito hingga Keluarahan Kemijen. “Progres target kami hingga bulan ini 23 persen, tapi kontraktor saat ini menyelesaikan hingga 21 persen. Ada selisih 2 persen, tapi itu kami maklumi karena ada proses pengecoran di Blok C atau Blok 3,” ujarnya.

Fajar mengaku telah meminta konsultan pengawas untuk keras dalam memonitor proses pengerjaan. “Apa yang dikerjakan harus sesuai dengan Detail Engineering Design (DED). Misalnya, plafonnya berbahan dari gypsum ya harus menggunakan gypsum. Jangan sampai bergeser. Termasuk ketebalan cor. Karena ini disorot oleh masyarakat Kota Semarang, sehingga harus maksimal pengawasannya,” katanya.

Sejauh ini, menurut dia, konsultan pengawas dan kontraktor pelaksana bisa bersinergi. Mereka telah menyatakan siap melaksanakan pembangunan sesuai target. “Kalau normalisasi Banjir Kanal Timur mulai berjalan dan dilakukan pembongkaran, maka warga yang terkena dampak segera kami pindahkan ke tempat relokasi Pasar Klitikan Penggaron. Teman-temen PKL akan segera kami boyong ke sini,” ujarnya.

Menurut dia, sejauh ini kondisi PKL Banjir Kanal Timur terbilang tertib. Sehingga ia memprediksi tidak ada masalah dengan rencana relokasi yang melibatkan ribuan pedagang ini.

“Saya rasa tinggal menggeser aja ke sini. Pembangunan Pasar Klitikan Penggaron ini selesai 9 Desember, maka pertengahan November akan kami sosialisasikan. Begitu fisik bangunan sudah kelihatan, tinggal pembersihan lingkungan. Mengenai teknis tata letak nanti silakan, apakah kami yang atur, atau mereka sendiri yang menata sesuai dengan keinginannya,” katanya.

Fajar mengaku akan melibatkan pedagang untuk melakukan penataan kios maupun lapak sesuai dengan keinginan pedagang. Tentunya juga disesuaikan dengan kondisi bangunan yang tersedia. “Mereka yang akan menghuni, mau dibikin klaster atau apa silakan, yang penting tempat ini harus ditempati oleh mereka. Suka tidak suka, sepanjang Barito akan terkepras dengan adanya proyek pembangunan normalisasi Banjir Kanal Timur. Pertengahan Januari 2018 harus sudah pindah di sini semua. Mudah-mudahan saudara-saudara yang ada di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur ini menyadari akan hal ini,” tambahnya.

Lebih lanjut Fajar menjelaskan, Pasar Klitikan Penggaron ini mampu menampung 3.000 pedagang. “Terbagi tiga blok, yakni Blok 1, Blok 2 dan Blok 3 paling depan. Kami juga menambah bangunan yang berada di ujung paling depan, disediakan untuk mengantisipasi apabila dibutuhkan untuk kekurangan. Maka akan kami taruh di bangunan paling depan.”

Direktur PT Proteknika Jasa Pratama, Saut Sibarane, mengatakan, secara teknis saat ini pihaknya mengaku tidak ada hambatan. Adanya keterlambatan saat memulai pekerjaan dikarenakan beberapa sebab.  “Jadi, sebetulnya dibilang terlambat ya kami ini kan pakai budgeting plan. Sementara saat ini di Kota Semarang kan puncak-puncaknya proyek. Kami sudah antre selama 10 hari, baru kebagian (anggaran) belakangan. Dari situlah, kami mengalami keterlambatan pengerjaan,” katanya.

Dijelaskannya, Pemkot Semarang sudah memiliki jadwal, mengenai anggaran masing-masing proyek. “Misalnya, proyek ini tanggal sekian, proyek itu tanggal sekian, ya kami harus menunggu. Mudah-mudahan tidak ada halangan yang berarti. Saya lihat cukup kondusif semua. Masyarakat sekitar tidak ada masalah, tertib semua. Biasanya proyek berjalan lambat karena masalah dengan masyarakat setempat, ada pro dan kontra. Di sini kondusif sekali. Semua pihak sangat membantu,” ujarnya.

Pihaknya mengaku optimistis akan bisa menyelesaikan pembangunan sebelum batas waktu yang ditentukan. “Kalau dihitung berdasarkan material yang masuk, progresnya sudah banyak sekali. Apalagi untuk pengecoran sudah di atas 30 persen. Jadi, kami tinggal dua tahap lagi, yakni pemasangan atap belakang, keramik, selesai,” ujar dia.  (amu/mg37/mg38/aro)