KURANG SOSIALISASI : Sejumlah warga Kelurahan Tawang Mas, Kecamatan Semarang Barat saat menghentikan upaya pengurukan makam Tawang Ngaglik, kemarin (Adityo dwi/jawa pos radar semarang).
KURANG SOSIALISASI : Sejumlah warga Kelurahan Tawang Mas, Kecamatan Semarang Barat saat menghentikan upaya pengurukan makam Tawang Ngaglik, kemarin (Adityo dwi/jawa pos radar semarang).

SEMARANG – Ratusan warga di empat RW Kelurahan Tawang Mas, Kecamatan Semarang Barat kemarin menghentikan beghu yang digunakan untuk meratakan tanah pemakaman Tawang Ngaglik. Kempat RW tersebut meliputi RW 1, 4, 5 dan 6. Warga mendatangi lokasi dan menghentikan beghu tersebut. Pasalnya ketika meratakan tanah makam tidak ada sosialisasi dengan warga. Akibatnya membuat warga terutama ahli waris menjadi marah.

Salah seorang warga, Sumpeno mengaku kecewa dengan pengurukan tersebut. Sebab tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada warga. “Kalau sebelumnya warga diberi tahu maka kejadiannya tidak seperti ini. Tetapi karena tidak ada pemberitahuan maka warga menjadi marah,” katanya.

Sebelumnya warga disuruh untuk memberikan tetenger di masing-masing nisan berupa pemasangan nama dari kardus atau kayu untuk dipasang di makam. Namun ternyata petugas yang menjalankan beghu tidak melepas nisan tetapi langsung diratakan. Melihat hal itu, warga langsung mendatangi tempat tersebut sehingga dipertemukan oleh Lurah Tawang Mas dengan petugas beghu di Balai Kelurahan.

Lurah Tawang Mas, Yoga Utoyo mengatakan sebelumnya tanah di pemakaman itu sering terendam rob sehingga ketika akan mengubur jenazah, harus diletakkan diatas air rob. “Jadi makam ini ketika digali mengeluarkan air sehingga tidak tega ketika jenazah diturunkan ke dalam liang kubur, karena banyak air yang tergenang,” katanya.

Sehingga pihaknya menghubungi Pemkot Semarang untuk dilakukan peninggian makam, dan sebelum dilakukan peninggian makam, warga sudah diajak untuk berdialog dan mencari jalan keluar. Namun warga yang mengikuti rapat tersebut tidak menyampaikan ke warga lain, akibatnya banyak yang tidak tahu.

“Warga yang diajak rapat itu tidak menyampaikan kepada warga lainnya sehingga warga tidak tahu. Tetapi sebenarnya warga itu setuju dengan peninggian makam. Tetapi karena dianggap tidak ada sosialisasi maka menjadi kecewa,” ungkapnya.

Sementara dari hasil pertemuan antara warga, Lurah dan Babinkantibmas Kelurahan Tawang Mas, disepakati pekerjaan pengurukan makam dapat dilanjutkan dengan catatan petugas beghu dapat menunjukkan lokasi makam dari ahli waris warga. (hid/ric)