SEMARANG Berkas perkara 14 tersangka taruna tingkat III Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang diduga menganiaya Brigadir Taruna Dua Muhammad Adam hingga tewas telah dilimpahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) gabungan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang ke Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Panitera Muda Pidana Pengadilan Negeri Semarang, Noerma Soejatiningsih RR, mengaku telah menerima pelimpahan tersebut. Ia menyampaikan, dari ke-14 tersangka, berkasnya dipisah menjadi 3 bendel. Atas pelimpahan itu, pihaknya akan segera menyusun jadwal sidang dan meminta persetujuan Ketua PN terkait majelis hakim yang akan memeriksa perkara tersebut.

“Terpisah menjadi 3 berkas perkara. Sudah dilimpahkan 25 Agustus lalu. Nomor perkaranya, 646/Pid.B/2017/PN Smg, 648/Pid.B/2017/PN Smg, dan 647/Pid.B/2017/PN Smg,” jelas Noerma, Senin (28/8).

Dua hari sebelumnya, JPU gabungan Kejati Jateng dan Kejari Kota Semarang sempat saling lempar terkait perkembangan perkaranya.

Kasi Tipidum Kejari Semarang, Bambang Rudi Hartoko, saat dikonfirmasi wartawan, justru meminta untuk langsung menanyakan kepada Penkum Kejati Jateng. Namun ketika Kasi Penkum Kejati Jateng, Sugeng Riyadi dikonfirmasi justru meminta langsung ke Kejari Semarang.

Ketika dijelaskan, akhirnya Sugeng mengatakan kalau kasus tersebut masih dalam penyusunan berkas dakwaan. Hanya saja, saat ditanya koran ini terkait penahanan para tersangka, Sugeng kembali meminta menanyakan langsung ke Kejari Semarang.  “Sekarang masih tahap menyusun surat dakwaan, secepatnya akan kita limpahkan ke pengadilan. Kalau masalah penahanan langsung ke Kejari Semarang saja,”kata Sugeng Riyadi.

Dari informasi yang diperoleh koran ini, nama para tersangka tersebut adalah Joshua Evan Dwitya Pabisa, Reza Ananta Pribadi, Indra Zulkifli Pratama Ruray, Praja Dwi Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan, Chikitha Alviano Eka Wardoyo, Rion Kurnianto, Erik Aprilyanto, dan Hery Avianto yang diduga melakukan pengeroyokan terhadap 21 junior mereka bersama dengan Christian Atmadibrata Sermumes, Martinus Bentanone, Gibrail Chartens Manorek, Gilbert Jordu Nahumury, dan Rinox Lewi Wattimena pada 18 Mei silam.

Diketahui, Rinox dan Leonard memerintahkan kepada junior taruna tingkat II yang tergabung daerah asal pengiriman Indonesia Timur (Korp HIT) yakni Komandan Suku (Dansuk)  HIT  tingkat II Muhammad Kasim Lating dan Wakil Komandan Suku (Wadansuk) Korp HIT tingkat II Raden Candra Anugrah agar mengumpulkan seluruh junior tingkat II Korp HIT (Korp Himpunan Indonesia Timur) untuk berkumpul di Flat A Ruang Gudang lantai II  dengan maksud dan tujuan bahwa senior Taruna Tingkat III  ingin menyampaikan teguran serta arahan kepada juniornya taruna tingkat II  karena senior menilai bahwa junior yang tergabung dalam Korp HIT masih banyak kekurangan.

Dalam perkumpulan itu, 21 junior dipaksa untuk melakukan sikap marching dan sikap roket. Sebanyak 21 junior tersebut juga dipukul dengan teknik Kipas Cendrawasih, Dewa Ruci, Pukulan Tagtem, dan pukulan Roda Gila. Setelah itu, mereka dimarahi karena melakukan kesalahan. Menyadari karena dimarahi, maka korban Muhammad Adam  pun maju ke depan dan mengambil posisi sikap marching yang membuat saksi tersangka Christian menjadi emosi dan melampiaskan amarahnya memukul korban dengan tangan kosong, namun korban menghindar, sehingga hanya mengenai leher kanan korban. Hal ini justru membuat saksi Gibrail ikut terpancing marah dan mendekati korban untuk melakukan pemukulan dengan tangan kanan mengepal ke arah dada korban sebanyak 2 kali, sehingga korban makin bertambah kesakitan dan berusaha melindungi diri dengan cara menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

Selanjutnya, Gibrail memerintahkan taruna tingkat II untuk membentuk posisi leter L dengan posisi sikap marching. Sementara itu korban Muhammad Adam hanya diam menahan sakit. Saat itu, tersangka Christian marah dan memukuli korban di bagian ulu hati. Korban kesakitan, merintih dan menutup bagian dada. Namun, Christian memerintahkan supaya korban berdiri dan bersikap marching. Saat itulah, Christian kembali memukul korban tiga kali hingga korban jatuh tak sadarkan diri.

Berdasarkan hasil visum et Repertum dari Rumah Sakit Bhayangkara Semarang Nomor : B/06/V/2017/ Biddokkes tanggal 19 Mei 2017 yang ditandatangani oleh Dr Ratna Relawati SpKF MSi Med yang dalam kesimpulan menyebutkan berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari pemeriksaan atas jenazah bernama Muhammad Adam dapat disimpulkan bahwa pada korban ditemukan luka akibat kekerasan tumpul berupa memar pada dahi, leher, tungkai atas dan dada dan perdarahan luas pada paru-paru kanan dan kiri. Sebab, kematian korban adalah kekerasan tumpul pada dada yang mengakibatkan perdarahan luas pada paru-paru kanan dan kiri, sehingga menimbulkan gangguan pernafasan. Atas perbuatan tersebut, 14 tersangka dijerat dengan pasal 170  ayat (1) jo pasal 56 ayat (2) KUHP. Serta dakwaan subsider pasal 170  ayat (2) ke-3 KUHP jo pasal 56 ayat (2) KUHP. (jks/aro)