HIV/AIDS Tidak Tercover BPJS

536

UNGARAN – Hingga kini penderita HIV/AIDS tidak bisa tercover BPJS Kesehatan. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 59/2014.

“Memang benar, penyakit HIV/Aids tidak tercover oleh BPJS Kesehatan. Untuk penyakit tersebut sudah ada program tersendiri dari pemerintah pusat hingga daerah,” ujar Kepala BPJS Kantor Cabang Ungaran, Juliansyah, Minggu (27/8).

Meski begitu, penderita penyakit atau Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) tersebut tetap dapat menjadi peserta Jaminan Kesehatan – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). “Mereka bisa menjadi peserta JKN-KIS, namun hanya penyakit yang tidak disebabkan oleh virus HIV yang dapat tercover seperti diare atau pusing,” katanya. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang akan melakukan pendataan ODHA.

Kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, Mas Dady Dharmadi mengatakan setelah dilakukan pendataan, para Odha ini nantinya akan diikutsertakan dalam program BPJS Kesehatan.

“Nantinya mereka didaftarkan kepesertaannya melalui jalur Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang didanai dari APBD Kabupaten Semarang,” katanya.

Adapun syarat pendaftaran yang perlu dipersiapkan ODHA antaralain KTP, KK dan surat keterangan tidak mampu atas nama ODHA dan anggota keluarganya ke Dinkes.

Sekretaris KPAI Kabupaten Semarang, Puguh Wijoyo Pakuwojo mengatakan selama beberapa tahun ini ada kecenderungan penurunan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Semarang. Hal ini atas kerja keras KPAI dengan berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan, kelompok sosial masyarakat, Masyarakat Peduli HIV/AIDS (MPA) di tingkat kecamatan, sekolah dan perusahaan yang mensosialsisasiskan HIV/AIDS.

“Mereka mengajak masyarakat untuk menghindari HIV/AIDS. Serta mengajak masyarakat untuk melakukan tes VCT,” ujar Puguh.

Data KPAI selama 2016 terdapat 57 kasus pengidap HIV/AIDS. Jumlah tersebut tersebar di 19 kecamatan di Kabupaten Semarang. Sementara pada tahun 2009 ada sekitar 348 kasus HIV/AIDS. Jika dipilah berdasarkan jenis kelamin masih didominasi oleh perempuan sebanyak 31 orang dan laki-laki sebanyak 26 orang.

Hal ini dikarenakan kesadaran pemeriksaan tes HIV (VCT) kebanyakan dilakukan oleh perempuan, sementara laki-laki lebih sedikit. “Semestinya laki-laki lebih banyak dilakukan pemeriksaan VCT, karena tidak menutup kemungkinan masih belum teridentifikasi,” katanya. (ewb/zal)