FOR SALE: Rumah bersejarah yang dulu dijadikan sebagai dapur umum perjuangan rakyat dan tentara di Kampung Tulung kondisinya kurang terawat. Oleh ahli waris, rumah ini akan dijual (DOK JAWA POS RADAR KEDU).
FOR SALE: Rumah bersejarah yang dulu dijadikan sebagai dapur umum perjuangan rakyat dan tentara di Kampung Tulung kondisinya kurang terawat. Oleh ahli waris, rumah ini akan dijual (DOK JAWA POS RADAR KEDU).

Lokasi bersejarah tragedi pembantaian 42 tentara Indonesia dan warga Magelang di dapur umum Kampung Tulung, Kelurahan Magelang Tengah, Kota Magelang oleh pasukan Kidobutai, Jepang, pada 29 Oktober 1945 terancam hilang. Pewaris tanah dan bangunan bersejarah itu, berencana menjual aset mereka. Mengapa?

MENDUNG masih bergelayut, ketika Woro Indarti, cucu Lurah (alm) Atmo Prawiro di Kampung Tulung RW II, Kelurahan Magelang Tengah, Kota Magelang, terbaring lemah di rumahnya, akhir pekan lalu. Kondisi Woro sakit-sakitan. Kakinya menderita kanker.

Rumah yang kini ditempati Woro, bukan rumah biasa. Dari segi fisik bangunan memang sederhana. Bahkan, bisa dibilang sangat sederhana. Barang-barang rosok yang menjadi usaha Woro, menambah kesan bangunan itu kurang terawat.

Ya, rumah yang ditinggali Woro punya nilai sejarah tinggi bagi wong Magelang. Di rumah itulah, dulu ada 42 tentara republik dan warga (26 TKR dan 16 warga sipil) yang tewas karena dibantai tentara Jepang pada saat agresi militer Belanda I. Dulu, rumah itu menjadi dapur umum untuk menyediakan dan menyuplai makanan bagi keperluan tentara republik, pejuang, dan warga saat perang kemerdekaan.

Lurah Kampung Tulung, Atmo Prawiro-lah yang dipasrahi tanggung jawab untuk mengurus dapur umum, sekaligus memobilisasi warga untuk memasak di dapur umum. Luas bangunan rumah bersejarah itu sekitar 950 meter per segi. Sedangkan luas tanah 1.040 meter per segi.

“Dulu waktu masih ditempati oleh Kakek Atmo, bentuknya tidak seperti sekarang. Bagian depan rumah adalah pendopo terbuka, yang digunakan sebagai kelurahan. Kakek Atmo dan keluarga tinggal di bagian belakang rumah yang nantinya dijadikan dapur umum. Kakek membangun rumah bagian belakang tahun 1924, sedangkan bagian pendopo depan dibangun tahun 1930,” ucap Woro, sembari menahan sakit. Bagian depan atau pendopo, sambung Woro, dulu tidak ada dinding, seperti bangunan pendopo pada umumnya. Di depan pendopo, ada pohon jeruk bali sangat besar.

Kepada Jawa Pos Radar Kedu, Woro Indarti menyampaikan keinginannya untuk menjual rumah dan tanah yang kini ditempatinya. Ia dan suami berinisiatif menawarkan rumah warisan Atmo Prawiro kepada Pemkot Magelang. “Yang pertama kami tawarkan adalah Pemkot Magelang. Pandangan kami, jika diambil alih oleh Pemkot, maka nantinya nilai sejarah rumah ini akan terpelihara. Coba kalau rumah ini jatuh ke orang lain yang tidak tahu nilai sejarah? Pastinya rumah ini akan dibongkar total atau rata tanah dan dibangun bangunan baru,” kata Woro.

Woro enggan menyebut tawaran itu sebagai jual beli. Melainkan, sebagai tawaran pemeliharaan bangunan bersejarah. “Kami secara pribadi menawarkan rumah ini untuk dimahar sebesar Rp 3 miliar. Jangan memandang nilai rupiahnya, tapi memandang nilai sejarah dari rumah ini, agar tidak hilang. Sebenarnya, dengan luas tanah yang cukup luas, harga tersebut sudah sesuai nilai yang ada.”

Woro menegaskan, langkah yang ia tempuh, bukan upaya untuk mengambil keuntungan. Melainkan, upaya menyelamatkan nilai sejarah rumah tersebut. Sebab, tutur Woro, kondisi kesehatannya semakin drop. Keturunan Atmo Prawiro juga kemungkinan tidak bisa mewarisi nilai-nilai sejarah dalam rumah tersebut.

“Jika nanti dibeli oleh Pemkot, maka nilai sejarah rumah ini akan terus dijaga. Bahkan, jika nanti rumah ini bisa menjadi milik Pemkot, kami pihak keluarga tidak keberatan bagian depan pendopo maupun bangunan lain dibongkar untuk mengembalikan ke bentuk aslinya.”

Jika terjual, kata Woro, ia akan membeli rumah pengganti untuk keturunannya kelak. “Saya sendiri sudah tidak memikirkan masalah uang, karena saya sudah ikhlas. Apalagi kesehatan saya sudah seperti ini. Saya cuma njagani, selama saya masih hidup, sebisa mungkin rumah ini biarlah diurus oleh pemerintah saja. Karena saya juga tidak tahu nantinya anak saya njagani rumah ini bagaimana,” ucap perempuan yang memiliki dua anak itu.

Woro berharap, tawarannya bisa menjadi pertimbangan Pemkot. “Saya tetap menunggu langkah Pemkot seperti apa. Jika memang Pemkot tidak menerima, akhirnya terpaksa kami jual kepada umum, meski dengan berat hati. Toh nilai yang kami tawarkan masih bisa dinego.”

Hal senada disampaikan oleh suami Woro Indarti, Dovian Widarto. Dovian berharap, tawaran keluarganya bisa diterima oleh Pemkot Magelang. “Kami ingin agar pemerintah bisa merespons penawaran kami. Jika terpaksa tidak ada tindak lanjut penawaran kami, ya mau tidak mau kami tawarkan pihak umum.”

Ketua RW II Kelurahan Magelang Tengah, Suharyono, saat ditemui Jawa Pos Radar Kedu berharap, keluarga Woro bisa mempertahankan hak waris rumah bersejarah itu kepada keturunannya. “Jika memang pemerintah bisa mengambil-alih, alangkah baiknya karena bangunan rumah Lurah Atmo Prawiro sangat bersejarah. Jika memang itu keputusan keluarga, ya kami tidak bisa ikut campur atau memberi saran apapun,” kata Suharyono.

Salah satu saksi hidup tragedi dapur umum Kampung Tulung, Abak Roflin bin Sabar, 89, warga Kampung Tulung, mengaku sudah lama mendengar rencana keluarga Woro menjual rumah tersebut. Abak mendukung langkah keluarga Woro yang berencana menawarkan kepada Pemkot. “Semoga pemerintah bisa membelinya. Apalagi saya mendengar, keluarga Woro Indarti tidak keberatan jika memang jadi diambil oleh pemkot, bangunan rumah tersebut akan diubah bentuknya seperti sediakala. Justru itu baik,” jelas Abak.

Terpisah, Wali Kota Sigit Widyonindito mengaku belum mengetahui pasti terkait penawaran eks dapur umum Kampung Tulung sebesar Rp 3 miliar. “Saya belum membaca suratnya, tentu nanti supaya dikaji oleh tim ya,” ujarnya melalui pesan whatsapp saat di konfirmasi oleh koran ini. (cr3/put/isk/bersambung)