31.2 C
Semarang
Senin, 16 Desember 2019

Diduga Ada “Bos,” Turun ke Jalan Sepulang Sekolah

Anak Jalanan Marak di Jalan Protokol Kota Semarang

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di...

Pengemis dan anak  jalanan (anjal) kembali marak di jalan protokol Kota Semarang. Mereka biasa mangkal di setiap traffic light dengan durasi lampu merah yang lama. Diduga, ada sindikat di balik para peminta-minta berusia di bawah umur tersebut. Ada pula pengemis anak yang dipekerjakan oleh orangtuanya.

TIDAK sulit menemukan anak-anak yang menjadi pengemis di jalanan. Rata-rata mereka berkedok jualan koran. Ada pula yang menjadi pengamen. Seorang warga yang melapor ke koran ini mengatakan, anak-anak itu biasa mangkal di bangjo Bangkong, Pasar Langgar dan bangjo Jalan dr Cipto tak jauh dari kantor Dinas Perdagangan Kota Semarang.

“Saya pemakai mobil asal Cilacap. Bodi mobil saya dirusak anak kecil yang ngemis di lampu merah dr Cipto Semarang. Saya sudah lapor polisi, tapi disuruh cari saksi. Lha kejadiannya malam di bangjo, terus saksinya sopo?” ujar warga yang keberatan namanya kepada koran ini.

Warga tersebut meminta  Satpol PP bergerak melakukan penertiban. Karena keberadaan anak jalanan yang menjadi pengemis tersebut sangat meresahkan.

Warga lain sebut saja Harjo, memberikan informasi, bahwa tak sedikit pengemis tersebut ternyata siswa salah satu SD Negeri di Semarang Timur. Mereka terpaksa menjadi peminta-minta karena tuntutan orang tua. “Lapor Pak Hendi, Pak Bunyamin (Kepala Dinas Pendidikan). Jangan tutup mata! Banyak murid SDN Mlatiharjo ngemis. Ada Vita dan Wahyudi, anak kelas 6 sudah 5 tahun ngemis! Memalukan SD negeri,” lapornya.

Ada juga siswa kelas 2 salah satu SD swasta di Jalan Citandui, Semarang Timur bernama Johan yang setiap hari mengemis di bangjo Jalan dr Cipto.

Menurut Harjo, keberadaan pengemis anak-anak itu sebenarnya sudah dilaporkan ke Polsek Semarang Timur, sebab diduga ada “bos” di balik aksi mereka. “Banyak anak kecil yang ngemis di lampu merah dr Cipto dan Bangkong. Polsek Semarang Timur sudah tahu bosnya, yakni Reni, tapi diam saja,” katanya.

Selain diminta ‘bosnya’, ada juga anak-anak yang dipaksa oleh orang tuanya untuk meminta-minta dengan berkedok berjualan koran. Parahnya lagi, ada juga orang tua yang tega membawa anak yang masih balita demi mengharap belas kasihan dari pengguna jalan.

Ada sejumlah titik yang kerap dijadikan tempat mangkal pengemis dan anak jalanan. Selain di bangjo Pasar Langgar, bangjo Jalan dr Cipto, juga kawasan Tugu Muda dan bangjo Metro Peterongan.  Di kawasan Tugu Muda, tepatnya di depan Gereja Katedral, koran ini mencatat ada 5 – 7 anak yang berjualan koran di tengah kepadatan lalu lintas. Diduga aktivitas itu tidak dilakukan atas dasar kemauan sendiri, melainkan atas paksaan orang tua. Sebab, tidak jauh dari lokasi, beberapa orang tua tengah sibuk memastikan anak-anak bekerja dengan baik. Rata-rata anak-anak ini berjualan koran sore hari, padahal koran yang dijual terbitan pagi.

Mas minta Mas. Beli koran Mas,” kata salah satu anak jalanan yang mengaku masih kelas 2 SD.

Anak yang diperkirakan berumur 7 tahun itu mengatakan, berjualan koran dilakukan mulai pukul 16.00 dan berakhir pada 21.00. “Ke sini kalau sore habis pulang dari sekolah, “ungkapnya.

Ironisnya, di saat anak-anaknya berjualan koran, pada Sabtu malam itu, di kawasan lampu merah samping Museum Mandala Bhakti dijadikan praktik jual beli minuman keras (miras) yang diduga dilakukan oleh orang tua anak jalanan. Beberapa kali pengendara terpantau berhenti di pinggir Jalan Dr Sutomo untuk melakukan transaksi barang haram itu. Mayoritas pembelinya adalah remaja.

Pendamping anak jalanan (anjal) Gunung Brintik, Randusari, Sri Hartati, menuturkan, anak jalanan yang sering mangkal di sekitar Tugu Muda dan Pasar Bulu merupakan warga Gunung Brintik. Saat ini jumlahnya lebih sedikit ketimbang pasca krisis moneter 1998 silam. “Dulu memang hampir semua warga di sini (Gunung Brintik) turun ke jalan, namun sekarang yang bertahan tinggal warga RT 9 dan RT 10,”katanya.

Ia mengatakan, pendapatan menggiurkan menjadi penyebab warga masih “memaksa” anaknya menjadi peminta-minta di jalan.

Menurutnya, pendapatan bisa tembus Rp 50 ribu – Rp 100 ribu per ahri tergantung lama di jalan.“Peluang mendapatkan uang di jalan itu besar. Ada orang tua yang cuma mengandalkan jerih payah anak mereka lantaran tidak memiliki pekerjaan tetap. Motor sudah barang biasa, bahkan ada yang punya mobil lho,”ucap Bu Prapto, sapaan akrabnya.

Menurutnya, anak jalanan adalah persoalan kompleks. Namun bukan berarti tidak ada solusi. “Kalau memang murni hidup dan dari keluarga yang hidup di jalan, itu sulit untuk mengubahnya. Tapi kalau mereka punya tempat tinggal seperti halnya warga Gunung Brintik, saya kira itu bisa asalkan ada kemauan atau tidak,”ungkapnya.

Kabid Transtibunmas Satpol PP Kota Semarang, Marthen Stevanus Dacosta, mengaku rutin melakukan razia pengemis, gelandangan dan orang telantar (PGOT) termasuk anak-anak di bawah usia yang diduga dipekerjakan oleh orangtuanya. Bahkan pihaknya juga telah membuat surat pernyataan untuk tidak menyuruh anaknya beraktivitas di jalanan.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang. Namun Dinsos juga kewalahan, saking banyaknya. Saya sempat kasih masukan supaya Dinsos membuka data apakah keluarga anak jalanan itu punya Kartu Indonesia Sehat (KIS) nggak? Kalau punya, dihentikan sementara. Ini untuk memberikan efek jera supaya orangtuanya tidak lagi menyuruh anaknya kerja di jalanan,” tegasnya.

Marthen mengatakan, razia rutin yang dilakukan pihak Satpol PP terhadap anak jalanan maupun PGOT setidaknya menjaring 8 sampai 12 orang sekali operasi. Bahkan, jelang Lebaran, jumlah orang yang terjaring cenderung meningkat.

Terkait indikasi para anak jalanan itu yang dikoordinir “bos”, Marthen mengatakan secara pribadi belum pernah menemukan kasus tersebut. Hanya saja, pihaknya pernah menemui kasus anak-anak tersebut disuruh oleh orangtuanya sendiri.

“Pernah saya menjumpai, ada orang tua yang saya dapati duduk santai di bawah pohon, sedangkan  anaknya diminta menjadi peminta-minta,” ujarnya.

Kasubag Humas Polrestabes Semarang Kompol Suwarna mengatakan, pihak kepolisian melalui fungsi Binmas akan terus berkoordinasi dengan Satpol PP dan Dinas Sosial untuk selalu melakukan razia anak jalanan.

Suwarna tidak menampik adanya indikasi anak-anak tersebut dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mempekerjakan mereka. Pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait adanya indikasi tersebut. Bahkan, apabila pelaku tertangkap dan terbukti akan dijerat pidana.

” Itu kan sanksinya pidana. Mempekerjakan anak di bawah umur termasuk trafficking. Para orang tua juga harus bertanggungjawab supaya anak-anaknya tidak dimanfaatkan oleh orang untuk mencari nafkah,” katanya. (aww/mha/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Random News

Sisrute, Mudahkan Masyarakat Cari Rujukan RS

SEMARANG - RSUP Dr Kariadi meluncurkan sistem layanan online bernama Sisrute alias Sistem Pelayanan Rujukan Terintegrasi. Sistem tersebut memudahkan masyarakat dalam mencari informasi tentang...

Pelayanan BRT Belum Memuaskan

SEMARANG - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menganggarkan Rp 66 miliar di APBD 2016 untuk perbaikan fasilitas dan pemeliharaan Bus Rapid Transit...

Berani Mengeksekusi Ide

IDE berbisnis bisa muncul kapan dan di mana saja. Namun kerap kali ide-ide yang sangat luar biasa lenyap begitu saja tanpa action. Namun setidaknya...

Paling Banyak Pembelinya Anjal

SEMARANG – Seorang pengedar pil koplo bernama Edo Derajat Widiardi 27, warga Kampung Malang RT 02 RW 04, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, dibekuk jajaran...

More Articles Like This

- Advertisement -